Feeds:
Pos
Komentar

 

Oleh M. Irfan Ilmie

Musik adalah bahasa ruh. Ia membuka rahasia kehidupan, membawa perdamaian, dan menghapuskan perselisihan….

Begitulah Kahlil Gibran dalam mengartikulasikan musik yang kemudian banyak orang menyebut bahwa musik adalah bahasa universal umat manusia.

Personel The Beatless, John Lennon, menyerukan perdamaian melalui tembang andalannya “Imagine” yang sampai sekarang masih akrab di telinga para penikmat musik. Demikian pula dengan grup musik cadas asal Eropa, Scorpions, mendambakan perdamaian dunia melalui lagu “Wind of Change” yang sangat melegenda itu.

Michael Jackson pun turut menyampaikan pesan perdamaian dalam lagunya yang sangat populer “Heal The World”. Dalam video klip lagu yang dirilis pada 1991 itu, Raja Pop asal Amerika Serikat, yang meninggal pada 25 Juni 2014, tersebut membawa serta anak-anak kaum papa menyalakan lilin sambil berseru “Heal the world, make it a better place for you and for me and the entire human race.”

Lalu di Indonesia ada grup kasidah asal Semarang, Jawa Tengah, Nasyida Ria, yang kondang pada tahun 1980-an dengan lagunya berjudul “Perdamaian”. Lagu itu pun kemudian dikemas secara apik oleh grup musik papan atas di Tanah Air, Gigi, dengan sentuhan tempo irama cepat dan terkesan “ngerock” agar lebih akrab di telinga kawula muda.

Mereka, para penyeru perdamaian itu hidup di era industrialisasi. Mereka penggerak utama industri musik. Kreativitas mereka tentu saja setimpal dengan imbalan materi yang didapatkannya. Bagi mereka musik bukan kegemaran belaka, melainkan juga pundi-pundi harta. Entah itu royalti atau honor “manggung” di berbagai tempat.

Hal ini pula yang dirasakan oleh para mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Melalui “Wali Band”, mereka tidak hanya menuangkan ide kreativitasnya akan kegemarannya memainkan alat musik dan bernyanyi, melainkan juga telah menjadi sandaran hidup. Namun sebagai santri, mereka sadar bahwa popularitas dan limpahan materi yang didapatkannya bukan semata-mata dihasilkan oleh kreativitas dan kecerdasan emosionalnya.

“Ada ‘tangan’ yang terlibat sehingga kami menganggap hal ini sebagai keajaiban,” kata Apoy, penggagas terbentuknya “Wali Band” yang pandai mencipta lagu dan piawai memainkan gitar itu.

Alumnus pondok pesantren di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, itu tidak ingin kreativitasnya bersama Faang (vokal), Tomi (drum), dan Ovie (keyboard) selalu dikonversikan dengan nilai materi semata.

“Kami tidak ingin mengutamakan kepentingan bisnis karena di setiap kreativitas kami selalu ada unsur ‘barokatologi’,” ujar Apoy saat ditemui seusai “manggung” di Taoyuan Stadium Arena, Taiwan, Minggu (23/11) malam.

Barokatologi                                                                                                                                                                 Bagi mereka bekerja tanpa beramal bagaikan pohon tanpa buah. Oleh karena itu, mereka tak hanya mengandalkan kekuatan talenta lahiriah, melainkan juga kedekatan batin dengan Sang Pencipta.

“Barokatologi itulah yang menaungi kami,” kata pria kelahiran 8 Maret 1979 yang memiliki nama lengkap Aan Kurnia itu.

Istilah berkah atau “barokah” sangat lazim bagi anak-anak pesantren. Sikap taat kepada guru dan rendah diri (tawadhu) merupakan modal utama bagi anan-anak pesantren bila ilmu yang mereka dapatkan mengandung berkah.

Berkah dalam arti luas mengacu pada standar kualitas, bukan kuantitas. Oleh karena itu, barokatologi bagi Apoy dan kawan-kawan di “Wali Band” menjadi nafas di setiap hasil karya mereka.

Apalagi saat ini Apoy, Faang, Tomi, dan Ovie masih dalam tataran mencari jati diri sebagai remaja shaleh sekaligus “role model” bagi anak muda lainnya.

Metode dakwah yang dipelajari di bangku kuliah dan madrasah dipadukan dengan totalitas seni ala Bang Haji Rhoma Irama. Sehingga mereka memilih musik sebagai media yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan positif kepada masyarakat.

Apoy tidak ingin larut dalam perbedaan mazhab bermusik. “Mau orang lain menyebut musik kami kampungan, melayu, atau dangdut, silakan! Asal musik kami tak dianggap aliran sesat,” selorohnya.

Baginya, jenis musik apa pun, asalkan enak didengar, maka tugas utamanya menyampaikan pesan kepada khalayak telah berhasil. “Zaman sekarang ini serba sulit, kenapa harus bikin lagu-lagu yang sulit?” ujarnya menanggapi penilaian berbagai pihak bahwa karya-karya Wali Band terkesan “easy come, easy going” itu.

Dengan lagu-lagu yang pilihan notasinya sederhana dan liriknya cenderung jenaka, seperti Cari Jodoh, Tobat Maksiat (Tomat), dan Nenekku Pahlawanku, sudah barang tentu “tidak berkelas” bagi sebagian penikmat musik.

Namun lagu-lagu seperti itu yang saat ini digandrungi masyarakat. Bahkan tidak sedikit, lagu-lagu karya Apoy bersama Wali Band dinyanyikan dalam versi dangdut sehingga menyentuh segala lapisan masyarakat.

Percaya akan berkah yang mereka sebut dengan istilah “barokatologi” itu, anak-anak Wali Band tidak lupa untuk beramal, setidaknya hingga tiga album yang dirilisnya sejak 2008.

Bahkan, sebagian dari hasil penjualan cakram padat, nada tunggu, dan “manggung” di berbagai tempat dari album keempatnya bertitel “Doain Ya Penonton” akan ditasarrufkan untuk pembangunan sekolah bagi-bagi anak-anak di Gaza, Palestina.

“Di sana ada rumah sakit Indonesia. Maka kami bercita-cita mendirikan sekolah Indonesia. Di sana namanya Rumah Sakit Indonesia bukan ‘Mustasyfa Indonesiyyah’. Nantinya sekolah itu juga diberi nama ‘Sekolah Indonesia’ untuk anak-anak Gaza, bukan ‘Madrosah Indonesiyyah’,” kata Apoy.

Niat untuk mendirikan sekolah Indonesia di Gaza itu telah didahului dengan membentuk “Wali Care Foundation” sejak tiga tahun lalu.

Melalui yayasan itu, Wali Band telah menghimpun dan menyalurkan dana senilai Rp1,3 miliar untuk berbagai kegiatan sosial di Gaza dan Indonesia.

Menariknya, selain berasal dari donatur dan penggemar fanatiknya, dana tersebut juga dikumpulkan dari pemotongan 2,5 persen dari seluruh penghasilan personel Wali Band dan kru. Angka 2,5 persen itu dinisbatkan dengan standar zakat “maal” (harta).

Filosofi Barokatologi itu pula yang melandasi keinginan Joy Simson, pengusaha asal Indonesia di Taiwan, untuk menggelar konser gratis Wali Band.

Di Taoyuan Stadium Arena, Minggu (23/11) siang, penampilan Wali Band disaksikan sedikitnya 17 ribu pasang mata. Jauh melampaui angka penonton pada penampilan pertama pada 2012 yang hanya mencapai 12 ribu penonton. Penonton konser tahun ini dan dua tahun lalu sama-sama tidak dipungut biaya dan digelar di tempat yang sama.

“Tadinya kami ragu bisa mendatangkan penonton dalam jumlah yang sama dengan dua tahun lalu. Sempat terpikir untuk menghadirkan kelompok band fenomenal lainnya dari Indonesia,” ujarnya mengenai konser berbiaya 4 juta dolar Taiwan itu.

Dalam konser itu, Joy selaku pengelola Tabloid Indo Suara yang terbit di Taiwan tersebut melihat bahwa Wali Band telah menginspirasi anak-anak muda Indonesia, termasuk mahasiswa dan tenaga kerja Indonesia di Taiwan.

“Sama dengan Wali, kami juga berpandangan bahwa memberikan hiburan kepada masyarakat juga harus disertai dengan unsur yang mendidik,” ujar pria yang beristrikan warga negara Taiwan itu.

Menurut dia, Wali Band tidak hanya menyampaikan pesan kebaikan kepada pemeluk agama tertentu, melainkan juga umat manusia secara universal. “Kebaikan tidak hanya diajarkan dalam Islam. Orang Taiwan pun sejatinya senang dengan hiburan tanpa harus buka-buka baju segala,” ujarnya.

Selain Wali Band, konser musik yang digelar di lapangan terbuka yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Ibu Kota Taiwan di Taipei itu, Joy juga menghadirkan penyanyi dangdut Fitri Carlina dan Duo Anggrek.

Para penyanyi dangdut tersebut tampil dengan busana sopan untuk menghibur WNI yang haus akan musik pop khas Nusantara.  *

 

Karunia Itu Berlabuh di Donggang

M. Irfan Ilmie

Bekerja di negeri orang untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, tentu menjadi dambaan semua orang. Namun menjadi pintar ilmu agama di negeri yang tidak “beragama”, sudah barang tentu sebuah karunia yang tidak dimiliki semua orang.

Mendapatkan ilmu agama tidak harus didapat dari surau, masjid, madrasah, pondok pesantren, atau majelis taklim. Ilmu agama juga tidak mesti diturunkan dari ustaz, kiai, atau apa pun sebutan yang melekat pada diri orang alim.

Ratusan nelayan asal Indonesia yang mengadu nasib di Donggang (baca: Tongkang), Kabupaten Pingtung, mendapatkan ilmu agama justru dengan cara-cara yang tidak lazim. Mereka mengais ilmu agama dari satu kapal pencari ikan ke kapal lainnya yang sedang bersandar di kota pelabuhan di bagian selatan Taiwan itu.

Pemilik kapal bukan orang Indonesia, melainkan orang Taiwan yang memang tidak diwajibkan memeluk agama tertentu. Di pulau yang disebut Formosa oleh penjajah Portugis karena keelokannya itu tidak diatur masalah agama.
Meskipun demikian, beribadah dan menjalankan ritual keagamaan tetap diizinkan, asalkan tidak mengganggu pekerjaan atau kegiatan di sekolahan.

Para nelayan yang kebanyakan berasal dari wilayah pantai utara Pulau Jawa itu mampu memanfaatkan sekecil apa pun kesempatan yang diberikan oleh majikannya di Taiwan.

Muhsin (55), nelayan asal Surodadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, layak disebut sebagai peletak dasar ilmu agama Islam di kota pelabuhan yang berjarak sekitar 392 kilometer di sebelah selatan Ibu Kota Taiwan di Taipei. Tanpa kehadirannya, bisa jadi tidak akan terdengar azan atau pun lantunan ayat-ayat suci Alquran sampai sekarang. Demikian pula gema takbir dan tahmid pada malam Idul Adha, Sabtu (4/10), tidak akan menjadi hiburan tersendiri bagi penduduk pribumi di Donggang.

P1060601

Muhsin meninggalkan Donggang sejak empat tahun silam setelah kontrak kerjanya sebagai nelayan habis dan sekarang menetap di kampung halamannya di Kabupaten Tegal. Namun ilmunya dilestarikan oleh para pengikutnya di Donggang.
Pada 2006, para nelayan asal Indonesia terbiasa tidur di kapal-kapal pencari ikan. Di kapal yang rata-rata berukuran 4×20 meter mereka melakukan beragam aktivitas di luar pekerjaan.

Awalnya Muhsin mengajak ketiga rekannya, yakni Sutikno, Yunus, dan Tuwu untuk shalat berjemaah. “Setelah bersembahyang, Pak Muhsin mengajari kami mengaji,” kata Sutikno (43) saat ditemui di Pingtung, Minggu (5/10). Dari tiga orang, jumlah santri Muhsin berkembang menjadi 10 orang. “Saya sejak 2005 berada di Pingtung, tapi baru dua tahun kemudian bertemu Pak Muhsin,” kata Sahudi (32).

Nelayan asal Desa Kali Lingi, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu mengaku sebelumnya sama sekali tidak bisa mengaji, apalagi mengerti ilmu agama.

“Sejak kelas 2 SD saya sudah membantu orang tua bekerja sebagai nelayan di Brebes sana. Tidak pernah diajari mengaji. Saat pulang kampung beberapa waktu lalu, keluarga saya kaget karena sudah bisa mengaji,” ujar pria yang tidak tamat SD itu.
Demikian pula yang dialami Imam Sobirin yang masih bertetangga dengan Sahudi. “Saya memang pernah belajar mengaji di kampung. Tapi baru betul-betul bisa, ya setelah ketemu Pak Muhsin,” ujarnya.

Hingga 2010 jumlah santri Muhsin sudah mencapai angka 100-an sehingga tidak mungkin belajar dan shalat berjemaah dilangsungkan di kapal pencari ikan.

“Kebetulan ada warga sini yang mau mengontrakkan rumahnya. Kami pun sepakat patungan membayar sewa rumah 8.500 NT (setara Rp3.400.000) per bulan,” kata Sutikno.

Mimpi Para Nelayan
Bangunan dua lantai yang beralamatkan di 34-1 Fung Yu Li, Fung Yu St, Donggang, itu kini tidak hanya menjadi tempat tinggal para nelayan.

Di bangunan milik Su Kwu Chen yang berjarak sekitar 20 meter dari dermaga persandaran kapal ikan di Pelabuhan Donggang itu dihuni sekitar 100 nelayan.

Sekilas bangunan itu mirip pondok pesantren di Pulau Jawa. Sekat-sekat di lantai dasar bangunan itu bukan berfungsi sebagai pembatas antarkamar, melainkan pembatas ruang makan, gudang, dan sekretariat Forum Silaturahmi Pelaut Indonesia (Fospi). Para nelayan di Donggang bergabung dalam organisasi itu.

Di lantai dua hanya ada dua sekat. Mereka menjadikan lantai dua sebagai tempat beribadah sekaligus tempat belajar agama. Meskipun bukan masjid, lantai dua bangunan itu dijadikan tempat shalat Jumat dan shalat Id sebagaimana terlihat dari adanya mimbar dan tongkat untuk khutbah di bagian sudut.

Sampai saat ini para nelayan, khususnya yang masih baru bekerja di Donggang, memanfaatkan rumah itu untuk belajar ilmu agama pada malam hari. Pada pagi sampai sore hari, mereka bekerja di kapal untuk mencari ikan di perairan Selat Taiwan hingga Laut Pasifik. “Tapi ada juga yang kapalnya melaut pada malam hari. Biasanya kalau kerja malam hari, waktunya lebih singkat sehingga belajar agama pun bisa lebih leluasa,” kata Imam Sobirin.

Dalam kurun waktu empat tahun lebih, para nelayan itu sudah berhasil menghimpun dana 6.150.000 NT atau setara Rp2,4 miliar. Uang yang mereka kumpulkan dari hasil iuran itu hendak mereka tasarufkan untuk membeli bangunan dua lantai tersebut.P1060645

Namun bagi warga asing tidak mudah untuk bisa memiliki properti di Taiwan. “Itu yang menjadi salah satu kendala kami untuk menjadikan bangunan ini sebagai masjid,” kata Sekretaris Fospi Pingtung, Suparto. Untuk bisa mewujudkan impian para nelayan itu, maka harus dibentuk yayasan atau lembaga hukum lainnya yang di dalam struktur kepengurusan harus melibatkan satu hingga dua orang penduduk Taiwan.

“Hal inilah yang mencoba kami fasilitasi dengan mengajak pengurus masjid di Kaohsiung dan CMA (Asosiasi Muslim China) untuk bergabung dalam yayasan tersebut,” ujar pendiri PCINU Taiwan, Bambang Arip, saat bertemu para nelayan di Donggang, Sabtu (4/10).

Pihak keluarga Su Kwu Chen memang berniat menjual bangunan tersebut. Namun mereka juga harus terlebih dulu memastikan legalitas jual-beli bangunan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Kalau saja bangunan itu sudah berpindah tangan kepada para nelayan, maka akan menjadi satu-satunya masjid di Taiwan yang dimiliki oleh warga negara Indonesia.
“Kami semua di sini bertekad meneruskan perjuangan Pak Muhsin. Bagi kami, ini adalah karunia yang tidak ternilai,” kata Dani, nelayan yang sehari-hari menjadi imam shalat di masjid sekaligus penampungan para nelayan itu. (*)

Taipei Main Station Bukan Sembarang Stasiun

M. Irfan Ilmie

Terminal atau stasiun di Indonesia lazimnya berfungsi sebagai tempat pemberangkatan dan pemberhentian bus atau kereta api. Orang-orang yang lalu-lalang di tempat itu kebanyakan juga hendak bepergian ke berbagai tempat tujuan.

Tidak jauh berbeda dengan di Taiwan. Terminal dan stasiun juga sama fungsinya dengan di Indonesia. Taiwan memiliki “Taipei Main Station” (TMS) sebagai tempat perpaduan sistem transportasi publik, mulai dari taksi, bus kota, bus antarkota, MRT jalur bawah tanah, kereta api konvensional, hingga kereta api super cepat yang dikenal dengan “Taiwan High Speed Railway” (THSR).
Di tempat itu pula masyarakat Taiwan dapat menggunakan beragam jenis transportasi publik ke berbagai tujuan di penjuru negara berpenduduk sekitar 23,5 juta jiwa tersebut.

TMS yang pada saat pertama kali dioperasikan oleh pemerintah pendudukan Jepang pada 1901 dengan menggunakan nama “Taipei Railway Station” itu terus berbenah seiring dengan beberapa kali perluasan.
Sesuai perkembangannya, terminal dan stasiun yang berlokasi di Distrik Zhongzhen dan Distrik Datong itu makin banyak berdiri mal.

Bahkan di bawah permukaan tanah bangunan utama stasiun terdapat pusat perbelanjaan tiga lantai “Taipei City Mall” yang menyediakan berbagai keperluan sehari-hari, termasuk perangkat elektronik dan teknologi informasi.
Oleh sebab itu, TMS menjadi pusat keramaian terbesar di Ibu Kota Taiwan.

Apalagi barang-barang yang dijual di “Taipei City Mall” sangat murah dibandingkan dengan di tempat lain di Taiwan.
Namun bagi masyarakat Taiwan yang menginginkan produk bermerek juga bisa datang ke TMS karena ada beberapa tempat perbelanjaan lain, seperti Shin Kong Mitsukoshi Departement Store dan Muji Mall.

Warga negara Indonesia yang tinggal di Taiwan, baik sebagai tenaga kerja Indonesia maupun mahasiswa, lebih senang mendatangi “Taipei City Mall” yang kalau di Jakarta hampir mirip dengan Pasar Senen atau di Surabaya dengan PGS-nya.

Sehingga tidak mengherankan pula jika di TMS banyak toko yang pemilik dan pelayannya WNI. Bahkan tidak sedikit pula toko yang mencantumkan tulisan berbahasa Indonesia dan memasang bendera Merah-Putih.
Pada hari Sabtu dan Minggu, bahasa Indonesia bukan hal yang aneh untuk didengar di “Taipei City Mall” itu. Karena pada hari Sabtu dan Minggu, para TKI mengisi waktu liburnya di tempat tersebut.

Tidak hanya dari Tapei, TKI yang bekerja di Taichung, Tainan, Keelung, dan Kaohsiung juga “tumplek-blek” di TMS pada hari Sabtu dan Minggu.
Lebih dari separuh lantai utama stasiun kereta api TMS yang luasnya hampir sama dengan lapangan sepak bola dipenuhi para TKI. Hanya sebagian saja yang disisakan untuk antrean pembelian tiket THSR.

Ajang Silaturahmi
Oleh karena lokasinya yang bisa diakses dari berbagai penjuru di Taiwan, TMS sering kali dijadikan tempat para TKI untuk berkumpul, baik sekadar untuk melepas kerinduan antar-TKI yang sama-sama berasal dari satu kampung halaman di Tanah Air maupun untuk memanjakan lidah akan masakan khas Nusantara.

Di TMS dijual beraneka jenis penganan khas Nusantara. Apalagi kalau ada acara atau kegiatan keagamaan, seperti “Istighatsah dan Sholawat Akbar” yang digelar di pelataran stasiun kereta api TMS, Minggu (7/9).

“Selain doa bersama, acara ini sekaligus sebagai ajang silaturahmi bagi para TKI,” ujar Agus Susanto selaku panitia penyelenggara “Istighatsah dan Sholawat Akbar” yang dipimpin Habib Muhammad Firdaus Almunawwar dari Pondok Pesantren Daarul Muqorobin, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, itu.

Bahkan menurut Chen Jun Hei (58), warga negara Taiwan, TMS penuh sesak oleh WNI pada saat hari libur keagamaan. Meskipun di Taiwan tidak ada hari libur keagamaan, para TKI mendapatkan kesempatan libur dari majikannya. “Kalau Tahun Baru Hijriah, TMS ini ramai oleh TKI. Apalagi kalau lebaran,” kata pria yang beristrikan WNI itu.

Menurut dia, warga negara Taiwan yang berjualan di kawasan TMS, apalagi di “Taipei City Mall” seakan mendapatkan berkah dari para TKI, terutama pada hari Sabtu dan Minggu serta hari-hari besar umat Islam.

“Makanya, tidak heran jika pelayan toko di sini bisa berbahasa Indonesia,” tutur Chen yang mengaku belum bisa berbahasa Indonesia itu meskipun sudah beberapa kali mengunjungi keluarga istrinya di Karawang, Jawa Barat.

Nahdlatul Ulama sebagai salah satu ormas keagamaan di Indonesia juga tak ingin menyia-nyiakan momentum tersebut. NU mendirikan kantor sekretariat Pengurus Cabang Istimewa di kawasan TMS. “Setiap hari Sabtu dan Minggu, kami biasanya kumpul bareng di sekretariat,” ujar Agus Susanto selaku Wakil Ketua Pengurus NU Cabang Istimewa Taiwan.

Pria asal Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, yang bekerja di pabrik aksesoris telepon seluler di Taiwan itu mengemukakan bahwa NU bukan hanya mewadahi para TKI dalam kegiatan keagamaan, seperti istigasah, tahlilan, atau yasinan.

“Kami biasanya memberikan pelatihan memasak dan menjahit,” kata Ketua Fatayat NU Cabang Istimewa Taiwan, Tarnia Tari, menambahkan.
Agus dan Tari sepakat bahwa alasannya mendirikan sekretariat PCI NU di kawasan TMS itu karena lokasinya yang strategis.

“Dari mana arah pun TMS ini bisa dituju dengan mudah. Kami pun juga dengan mudah bisa mengumpulkan teman-teman,” kata Tari yang bekerja sebagai perawat orang tua di Taipei itu.  (*)

Konversi Keringat ala TKI

M. Irfan Ilmie

“Saya merasa ini adalah berkah,” ujar Sunarti sambil mengayunkan langkahnya meninggalkan Taipei Grand Mosque. Bukan lantaran selesai menunaikan shalat Jumat (29/8) di salah satu masjid besar di Ibu Kota Taiwan itu,  dia mengucapkan kata-kata tersebut, melainkan mengenai kesehariannya yang tinggal satu atap dengan Jinshang di kawasan Yongha, Taipei, dalam sembilan tahun terakhir. “Sepertinya saya juga beruntung,” ucapnya lagi disusul dengan kalimat hamdalah.

Ia tak menyangka jika pekerjaannya di Taiwan adalah merawat dan mendampingi orang jompo. “Lebih tak menyangka lagi, ternyata saya bekerja pada keluarga yang seiman,” ujarnya.

Di masjid agung di pusat Kota Taipei itu, Sunarti tidak sendiri. Dia bersama Jinshang. Keduanya bagaikan ibu dan anak meskipun berbeda latar belakang budaya dan tentunya strata sosial-ekonomi. Sunarti layaknya perempuan desa di daerah perbukitan tandus di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. “Apalagi usia saya sudah mendekati 50,” katanya mengenai penampilannya yang dianggapnya tak pernah berubah sejak masih tinggal di Desa Ceraken, Kecamatan Munjungan.

Jinshang, meskipun sudah berusia 83 tahun, tetap terkesan sebagai perempuan kelas menengah di Taiwan. Jinshang yang pensiunan guru itu tak pernah menganggap Sunarti sebagai klien. Begitu pula dengan Sunarti yang tidak pernah menganggap Jinshang sebagai patron.

Resasi keduanya terkesan alamiah sejak mereka dipertemukan sembilan tahun yang lalu. “Begitu ketemu, saya langsung merasa cocok. Karena merasa nyaman, dia saya anggap sebagai anak sendiri,” ucap Jinshang.

Kebutuhan kedua perempuan berbeda generasi itu hampir sama. Jinshang di sisa usianya ingin hidup bahagia dengan relaksasi dan hal-hal rekreatif lainnya. Demikian pula dengan Sunarti yang menganggap rekreasi bagian tak terpisahkan dari hidup yang dijalaninya jauh dari keluarga.

Jinshang ingin merasa damai di kehidupannya kelak dengan memperbanyak ibadah. Sama halnya dengan Sunarti yang menganggap ibadah sebagai benteng keimanannya. “Setiap Jumat dan Minggu, dia selalu meminta saya bersama-sama ke masjid,” ujar Sunarti.

Langkah kaki kedua perempuan itu sudah hampir tiba di ujung perempatan Shinshang East Road yang padat oleh beragam kendaraan bermotor. Di depan toko peralatan elektronik, Jinshang menghentikan langkahnya.   “Panas,” ujarnya seraya meminta bantuan Sunarti untuk melepaskan jilbab dan baju muslimahnya. Suhu udara yang mencapai 38 derajat Celcius dalam beberapa hari terakhir itu sangat menggerahkan. Payung dan topi lebar menjadi bagian penting bagi masyarakat Taiwan untuk berlindung dari sengatan sinar matahari langsung.

Dalam sekejap, Jinshang sudah berganti pakaian. Ia mengenakan topi lebar dan baju panjang bermotif bunga, sedangkan Sunarti tetap dengan baju muslimahnya. Keduanya berjalan beriringan menuju salah satu halte bus di Heping East Road Section 2 yang berjarak sekitar 300 meter dari Taipei Grand Mosque.

Kebun Cengkih
Tidak banyak memang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang nasibnya seperti Sunarti. Keberhasilan seorang TKI bukan lantaran dimanjakan oleh majikan, namun karena kegigihan dan ketekunannya di negeri orang.

Sunarti bagian dari segelintir TKI yang berhasil di negeri orang karena ketekunan dan kesabarannya. Termasuk sabar menghadapi penderitaan yang telah diteguhkan dalam niat sebelum menyabung nasib di tanah perantauan.

“Selama 15 bulan, gaji yang saya terima sangat kecil karena potongan dari agensi,” katanya dengan menyebut angka 2.000 NT atau setara Rp800 ribu upah yang diterimanya setiap bulan itu selama hampir 1,5 tahun.

Dengan gaji yang masih tergolong di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) Trenggalek sekalipun, dia tetap bertahan pada keluarga Jinshang. Baginya iman merekatkan hubungannya dengan keluarga Jinshang. “Keluarga Jinshang, muslim semua. Dari empat anaknya, satu tinggal di Arab yang bekerja di perusahaan elektronik,” tutur Sunarti.

Tentu saja masalah iman bukan satu-satunya alasan. Jinshang merasakan adanya keteduhan, meskipun harus hidup bersama seseorang berbeda latar belakang. “Saya sangat merasa nyaman dan aman saja,” ujarnya.

Mengenai pengakuan majikannya itu, Sunarti mengaku tidak mempunyai trik khusus. “Saya ini ‘wong ndeso’ (orang kampung). Semuanya berjalan begitu saja,” ucapnya.

Namun dia menganggap bahwa pekerjaan apa pun bila dilakukan dengan sepenuh hati, maka akan membawa hasil. “Saya pun merasa satu hati dengan nenek ini,” kata Sunarti.

Pada 9 September 2014, Sunarti mudik ke kampung halamannya di perbatasan Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pacitan. Keluarga Jinshang mengizinkan Sunarti libur selama dua pekan. “Biasanya baru seminggu di rumah, mereka sudah telepon saya,” ujarnya.

Selama ditinggal mudik Sunarti, Jinshang akan diawasi oleh salah satu anggota keluarga lainnya di Taiwan. “Ya ada keluarga yang mengawasi. Dia dulu pernah didampingi TKI lain, tapi tidak lama karena tidak ada kecocokan,” kata Sunarti.

Dalam kurun waktu sembilan tahun bekerja pada keluarga Jinshang, Sunarti mendapatkan kesempatan tiga kali pulang kampung. Bulan depan merupakan yang ketiga kalinya bagi Sunarti untuk melepaskan kerinduan terhadap suami dan putra semata wayangnya yang duduk di bangku SMA di Kabupaten Trenggalek itu.

Gaji Sunarti sudah tidak lagi dipangkas habis-habisan oleh agen. “Saya sudah berhubungan langsung dengan majikan setelah dua tahun pertama kontrak saya dengan agensi berakhir. Jadi, nggak ada lagi potongan,” ucapnya.

Kini, setiap bulan Sunarti menerima gaji bersih 15.000 NT atau setara Rp6 juta. “Saya masih mendapatkan tambahan 3.000 NT (Rp1.200.000) per bulan,” katanya mengenai insentif yang diberikan salah satu anak Jinshang yang bekerja sebagai polisi di Taipei.

Keringat Sunarti itu kini telah dikonversikan dalam bentuk kebun cengkih seluas 1 hektare di kampung halamannya di Kabupaten Trenggalek. Kebun cengkih itu digarap Shoimin, suaminya.

“Sampai sekarang, saya belum punya rencana usaha. Tapi saya tetap akan menjadikan kebun cengkih itu sebagai bekal masa depan saya dan keluarga,” ucap perempuan yang tak pernah bermimpi memiliki kebuh cengkih seluas 1 hektare itu.

Kebun cengkih milik Sunarti diperkirakan bakal makin luas karena keluarga Jinshang masih menginginkan Sunarti tinggal bersamanya selama tiga tahun lagi. Pemerintah Taiwan di bawah rezim Ma Ying-Jeou mengeluarkan kebijakan perpanjangan masa kerja tenaga kerja asing hingga 12 tahun.

“Dulu awal-awal saya di sini, TKI hanya bisa diperpanjang sampai enam tahun. Lalu sembilan tahun. Sekarang di bawah presiden baru bisa sampai 12 tahun,” ujarnya sumringah. *

Kisah tentang Rambut Si Penghuni Gubuk

M. Irfan Ilmie

Bagi wanita, rambut adalah mahkota. Saking antusiasnya, sebagian wanita rela menghabiskan harta dan waktunya untuk menjaga keindahan mahkota. Namun hal itu tidak berlaku bagi Made Murniasih. Perempuan yang tinggal di Jalan Kenyeri Nomor 12, Semarapura, Bali, itu rela digunduli suaminya, Putu Eka Sucipta.

Pemelontosan kepala istri oleh suami itu bukan ranah Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang pelakunya dapat dihukum penjara selama lima tahun atau denda sebesar Rp15 juta sebagaimana diatur dalam Pasal 44 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT.

Justru pasangan suami-istri yang tinggal di gubuk kecil di Ibu Kota Kabupaten Klungkung itu saling menyerahkan diri, melucuti mahkotanya masing-masing. Tidak tanggung-tanggung pasangan suami-istri yang sama-sama berusia 39 tahun itu juga menggunduli kedua anak kembarnya berusia enam tahun. Tanpa sedikit pun rasa sesal, Murniasih tersenyum di depan juru foto saat digunduli suaminya sambil menimang Komang Sumartana dan Ketut Sumardana.

Begitulah kira-kira gaya kaum marginal mengekspresikan sebuah kemenangan. “Ini janji kami sekeluarga kalau Jokowi (Capres Joko Widodo yang berpasangan dengan Cawapres Jusuf Kalla pada Pilpres 2014) menang,” kata Eka Sucipta setelah membayar kaul atas kemenangan sang pujaannya itu, Senin (14/7).

Perilaku yang tergolong nekat namun unik itu diakuinya sebagai “janji suci” keluarga sederhana yang tinggal di gubuk berdinding gedek 2×2 meter. “Tak ada paksaan dari siapa pun, apalagi ada yang bayar,” tuturnya.

Murniasih sadar perilakunya bakal menyita perhatian publik. Namun dia bukan penganut aliran narsisisme yang butuh perhatian publik atau mencari-cari popularitas murahan. Sudah dua tahun lebih keluarga kecil itu meninggalkan kampung halamannya di Banjar (dusun adat) Bucu, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Di Semarapura, mereka berusaha memperbaiki nasib. Murniasih keluar-masuk gang menjajakan bubur, sedangkan Eka Sucipta berkeliling kota menawarkan jasa sebagai tukang sol.

Dalam menentukan sikap politik, pasangan suami-istri itu memiliki pertimbangan yang sangat sederhana, tanpa harus memelajari visi dan misi kandidat, apalagi mengamati hasil survei tingkat elektabilitas. “Beliau baik, polos, dan kalem,” ujar Murniasih mengartikulasikan mimpinya tentang Jokowi sebagai pemimpin negara yang bersahaja.

Atas dasar itulah, dia menyatakan tidak ragu-ragu mencoblos pasangan nomor urut 2 yang dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Hati Nurani Rakyat, dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia pada pilpres 9 Juli lalu itu. “Mudah-mudahan Pak Jokowi nantinya tetap memperhatikan rakyat miskin,” kata Murniasih menitipkan pesan kepada calon Presiden 2014-2019 yang didukungnya sepenuh hati itu.

Semurni Hati Nurani
Harapan Murniasih dan keluarganya itu sangat sederhana, sesimpel keinginan “wong cilik” mendapatkan perhatian dari penguasa, tanpa disertai konspirasi ala “dagang sapi”. Rambut yang dicukurnya pun tak perlu ditukar dengan materi karena mahkota kaum Hawa itu memang tak ternilai harganya.

Mungkin hanya Murniasih satu-satunya wanita pendukung Jokowi yang melampiaskan kebahagian bersama suaminya itu dengan caranya sendiri yang “nyeleneh”.  Apalagi sebagai orang yang sangat awam politik, dia tidak menggabungkan diri dengan organisasi atau komunitas apa pun, termasuk kelompok relawan pendukung Jokowi.

Ulahnya pun bukan dipengaruhi oleh pendukung Jokowi-JK di Kuta dan Singaraja yang sama-sama punya nazar mengobarbankan rambutnya lebih dulu. Namun di kedua tempat itu pelakunya kaum Adam semua. Mereka memang mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk memenangkan Jokowi-JK selama proses pilpres berlangsung secara bertahap. Aksi itu mereka lakukan beberapa saat begitu perolehan suara Jokowi-JK mengungguli pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa versi hitung cepat delapan lembaga survei, Rabu (9/7).

Gundul massal itu hampir mirip dengan momentum Pilkada Provinsi Bali pada 15 Mei 2013. Saat itu kader dan simpatisan PDIP merayakan pesta setelah pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Bali, Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan, menang versi “quick count” dengan selisih kurang dari satu persen. Namun kegembiraan mereka tidak berlangsung lama karena hasil rekapitulasi suara mulai dari tingkat PPS, PPK, KPU kabupaten/kota, hingga KPU Provinsi Bali memenangkan pasangan Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta yang selisihnya hanya 996 suara.

Pilpres 2014 tentu berbeda dengan Pilkada Bali 2013. Berdasarkan rekapitulasi KPU Provinsi Bali, Jumat (18/7), Jokowi-JK meraih 1.535.110 suara atau 71,42 persen yang tersebar di sembilan kabupaten/kota. Sementara Prabowo-Hatta yang dicalonkan Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Amanat Nasional, Partai Golongan Karya, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Bulan Bintang, serta didukung oleh Partai Demokrat itu hanya mendapatkan 614.241 suara (28,58 persen) dari masyarakat Pulau Dewata.

Wayan Koster selaku Ketua Tim Pemenangan Jokowi-JK Provinsi Bali melarang para pendukung, simpatisan, dan relawan menggelar pesta kemenangan. “Kami sudah memberikan arahan dan instruksi agar tidak melakukan syukuran sampai selesainya proses dan tahapan rekapitulasi di KPU Pusat pada 22 Juli nanti,” kata Ketua DPC PDIP Kabupaten Klungkung yang bakal duduk di kursi DPR untuk periode ketiganya itu.

Koster menganggap pentingnya larangan itu untuk menghindarkan loyalis Jokowi dan simpatisan PDIP di Bali dari gesekan-gesekan dengan pendukung pasangan Prabowo-Hatta yang juga mengklaim kemenangan. Namun imbauan Koster yang instruktif itu tentu bukan untuk Murniasih yang sama sekali tidak terikat secara struktural dengan garis partai politik mana pun, termasuk parpol pimpinan Koster di Kabupaten Klungkung. Kenginan Murniasih tidak saja didasari kasih sayang kepada sang suami. Niat Murniasih semurni suara hati nurani. (*)

Peringatan Dini dari Nusa Penida

M. Irfan Ilmie

Hasil Pemilihan Presiden 2014 berdasarkan rekapitulasi suara oleh setiap panitia pemungutan suara (PPS) di Nusa Penida, Bali, Kamis (10/7), di luar dugaan. Perolehan suara Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, justru jeblok di pulau yang menjadi penyumbang suara terbanyak untuk Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada Pemilu Legislatif 9 April 2014 itu,

Prabowo selaku pendiri Gerindra yang menggandeng Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa hanya meraih 12.085 suara. Sementara rivalnya, Joko Widodo-Jusuf Kalla, mampu meraih simpati masyarakat Nusa Penida dengan mendapatkan 15.579 suara. Dalam pileg 9 April, Gerindra menjadi pemenang di gugusan pulau di sebelah tenggara daratan Bali itu dengan meraih 11.531 suara.

Perolehan suara Gerindra itu sekaligus menyingkirkan perolehan suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (8.944) dan Partai Hati Nurani Rakyat (4.261). Baru pada Pemilu 2014, PDIP yang selalu menjadi pemenang sejak 1999, harus mengakui keunggulan Gerindra. Gerindra juga menyumbang kursi terbanyak di DPRD Kabupaten Klungkung periode 2014-2019.

Keunggulan Gerindra dan keruntuhan PDIP itu sudah terbaca sebelum Pemilu 2014 digelar. Dua kader Gerindra asal Nusa Penida, Nyoman Suwirta dan Made Kasta, sukses menduduki kursi Bupati dan Wakil Bupati Klungkung periode 2013-2018 setelah mengalahkan kader PDIP, Partai Demokrat, dan Partai Golkar yang lebih dulu berkuasa.

Atas catatan kegemilangan itu pula Prabowo-Hatta menunjuk Suwirta-Kasta sebagai ketua dan sekretaris tim pemenangan untuk melanjutkan dua kesuksesan sebelumnya. Sayangnya, kegemilangan Gerindra dan keberhasilan Suwirta-Kasta tidak terulang pada pilpres. Prabowo-Hatta hanya menang di enam desa, yakni Tanglad, Sekartaji, Toyapakeh, Pejukutan, Bunga Mekar, dan Batukandik.

Sementara Jokowi-JK unggul di 10 desa di kepulauan itu, yakni Kutampi Kaler, Kutampi, Batununggul, Klumpu, Ped, Lembongan, Batumadeg, Jungut Batu, Sakti, dan Suana. “Meskipun daerah kepulauan, masyarakat kami sudah sangat cerdas dalam menentukan pilihan politik,” kata Gede Wicaksana, tokoh masyarakat Nusa Penida, Kamis. Masyarakat Nusa Penida yang jauh dari sentuhan kemajuan pembangunan lebih mengutamakan faktor realitas dibandingkan fanatisme sesaat.

Peringatan Dini
Boleh jadi, ucapan Gede Wicaksana itu peringatan diri bagi Suwirta-Kasta yang sudah hampir setahun duduk di kursi tampuk kepemimpinan Kabupaten Klungkung yang beribu kota Semarapura di daratan Bali itu. Posisinya yang terpisahkan oleh Selat Badung, menjadikan masyarakat yang mendiami gugusan pulau di Nusa Penida tidak seperti masyarakat di daratan Pulau Bali pada umumnya.

Kemiskinan dan pengangguran tidak pernah lepas dari deraan masyarakat di pulau yang berjarak sekitar 11 kilometer arah tenggara Pulau Bali itu. Kebutuhan pangan, utamanya beras, dan ketersediaan energi masih menjadi persoalan tersendiri karena sangat bergantung pada kondusivitas cuaca di perairan. Hanya perikanan, rumput laut, dan pariwisata yang menjadi penopang hidup mereka selama ini. Namun dalam beberapa bulan terakhir, nelayan ogah melaut karena gelombang dan angin yang mulai mengganas.

Begitu juga rumput laut sudah bukan menjadi komoditas andalan akibat serangan hama yang bertub-tubi. “Sudah hampir setahun hasil panennya buruk karena hama,” kata Nyoman Risna (41), warga Desa Jungut Batu.

Sektor pariwisata yang lebih banyak dikembangkan oleh investor asing tidak didukung oleh ketersediaan energi yang mencukupi. Sejumlah akomodasi pariwisata bertaraf internasional di Nusa Lembongan harus bersusah-payah untuk menciptakan suasana gemerlap di kepulauan itu karena beberapa kali terkena pemadaman bergilir.

Pemadaman bergilir itu tak bisa dielakkan karena salah satu mesin pembangkit milik PT Perusahaan Listrik Negara rusak, sedangkan dua mesin penggantinya berkapasitas 4,8 megawatt mengalami kendala pengiriman dari Pelabuhan Benoa, Denpasar.

Demikian pula dengan ketersediaan air bersih yang sedari dulu masyarakat Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan mengonsumsi air payau. “Kalau kawasan Pecatu (Kabupaten Badung) yang berbukit dan tandus saja bisa tersedia air dan listrik yang melimpah, kenapa di sini tidak? Di sini kontribusi sektor pariwisata juga sangat besar,” kata Gede Suryawan selaku Kepala Desa Jungut Batu, Kecamatan Nusa Penida.

Masyarakat Nusa Penida masih menyimpan harapan dan optimisme atas kepemimpinan duet Suwirta-Kasta di Kabupaten Klungkung hingga empat tahun ke depan. Namun bukan berarti sikap politik masyarakat Nusa Penida harus sama dengan dua pemimpin daerahnya yang berasal dari kepulauan itu. “Figur sangat menentukan. Masyarakat Nusa Penida punya satu keinginan untuk berubah tanpa bisa dipengaruhi siapa pun,” kata Gede Wicaksana, tokoh masyarakat Nusa Penida, menambahkan. (*)

Beda Kampung Jawa, Lain Pula Kampung Bugis

Oleh M. Irfan Ilmie

Dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Provinsi Bali tidak terbendung hingga empat kali penyelenggaraan pemilihan umum digelar sejak era reformasi. Meskipun perolehan suaranya tak sesignifikan Pemilu 1999 dan Pemilu 2004, PDIP masih menjadi partai politik yang mendapatkan kursi terbanyak, yakni 24 dari 55 kursi di DPRD Provinsi Bali periode 2014-2019 sebagaimana hasil pemilu legislatif 9 April lalu.

Pada Pilpres 2014, partai politik berlambang kepala banteng gemuk dalam lingkaran yang mencalonkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla melalui koalisi dengan Partai Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Hati Nurani Rakyat, dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.

Berdasarkan rekapitulasi suara sementara, pasangan nomor urut 2 itu di Bali mengungguli pasangan nomor urut 1 Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang diusung Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Amanat Nasional, Partai Golongan Karya, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Bulan Bintang serta didukung oleh Partai Demokrat.

Terlepas dari keunggulan sementara Jokowi-JK di Bali ada fenomena menarik yang terjadi di tengah-tengah komunitas muslim dalam perhelatan politik lima tahunan itu. Di pulau yang berpenduduk mayoritas beragama Hindu itu terdapat sejumlah komunitas muslim. Di Kota Denpasar saja ada Kampung Jawa  yang berada di lingkungan Desa Adat Wanasari, Kampung Bugis (Serangan), dan Kepaon (Pamogan).

Kampung Jawa dan Kepaon lebih banyak dihuni oleh muslim pendatang dari Pulau Jawa dan Pulau Madura, sedangkan umat Islam yang mendiami Kampung Bugis bernenek moyang yang berasal dari Makassar. Komunitas muslim dari beragam etnis itu secara turun-temurun mendiami lahan yang dihibahkan oleh Raja Pemecutan, salah satu kerajaan terbesar di Bali sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun silam.

Pada Pilpres 2014, Rabu (9/7), pasangan Prabowo-Hatta berjaya di Kampung Jawa. Dari empat tempat pemungutan suara yang ada, pasangan nomor urut 1 tersebut meraih suara mayoritas di tiga TPS. Di TPS 15 Prabowo-Hatta meraih 167 suara, sedangkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan nomor urut 2 memperoleh 121 suara.

Lalu di TPS 16 Prabowo-Hatta mendapatkan 182 suara, sedangkan Jokowi-JK dengan 124 suara. Kemudian di TPS 18 Prabowo-Hatta meraih 236 suara, sedangkan Jokowi-JK hanya 122 suara. Hanya di TPS 17, Prabowo-Hatta harus mengakui keunggulan Jokowi-JK meskipun terpaut tiga suara, yakni 115 melawan 118.

Kemenangan Prabowo-Hatta di Kampung Jawa tidak bisa dilepaskan dari peran serta PKS yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih itu. Pada pemilu legislatif 9 April 2014, PKS meraih suara terbanyak di Kampung Jawa. Bahkan seorang caleg PKS meraih 2.000 suara di permukiman padat penduduk di tengah-tengah Kota Denpasar itu. “Dulu perolehan suara saya mencapai angka 2.000. Sekarang saya tidak berani menargetkan angka itu untuk kemenangan Prabowo-Hatta,” kata Umar Dhani, caleg terpilih PKS untuk DPRD Kota Denpasar periode 2014-2019.

Dalam pilpres kali ini, dia berpikir realistis. “Pendukung Jokowi di sini juga banyak. Sangat tidak mungkin Prabowo menang telak,” ujarnya di sela-sela kesibukannya berkeliling TPS di Kampung Jawa untuk mencatat perolehan suara kedua pasangan calon, Rabu (9/7). Namun bukan berarti caleg yang berasal dari Kampung Jawa itu tinggal diam. “Kami tetap bekerja dengan harapan suara pasangan yang didukung partai kami mendapatkan suara sebanyak-banyaknya,” kata Umar Dhani menampik tudingan mesin politik Prabowo tidak bekerja maksimal.

 

Ikatan Emosional

Lain halnya di Kampung Bagus yang justru dimenangkan oleh pasangan Jokowi-JK. Permukiman kecil di tengah-tengah Pulau Serangan yang dihuni sekitar 350 jiwa umat Islam itu memiliki TPS tersendiri. “Kalau pileg kemarin, warga kami memilih di beberapa TPS. Sekarang kami punya TPS tersendiri,” kata Ketua KPPS TPS 7 Kelurahan Serangan, Muhadi.

TPS 7 Kelurahan Serangan khusus diperuntukkan bagi 256 umat Islam yang tinggal di Kampung Bugis. Di TPS itu pasangan Prabowo-Hatta hanya meraih 92 suara, terpaut jauh di bawah perolehan suara Jokowi-JK yang mencapai 135 suara. “Pileg kemarin kami tidak bisa memastikan ke partai mana suara warga Kampung Bugis diberikan karena mereka memilih di beberapa TPS,” ujar Muhadi.

Namun jika melihat Pilkada Provinsi Bali 2013, suara masyarakat Kampung Bugis diberikan kepada pasangan Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan dari PDIP yang dikalahkan oleh pasangan Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta dari Demokrat dan Golkar itu, bisa menjadi salah satu keterkaitan kemenangan Jokowi-JK. Akan tetapi, dukungan tersebut juga tak lepas dari ikatan emosional dan historis karena Jusuf Kalla dari daerah asal nenek moyang mereka. (*)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 603 pengikut lainnya.