Oleh M Irfan Ilmie

          Pertemuan selama tiga hari para kepala negara dan kepala pemerintahan di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) telah usai dengan ditandatanganinya kesepakatan demi kesepakatan.

         Dalam pertemuan yang berlangsung pada 17-19 November 2011 di Nusa Dua itu, sebanyak 18 kepala negara dan kepala pemerintahan menyepakati beberapa hal, di antaranya terkait penyatuan masyarakat di kawasan dalam meraih kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

         Kedatangan para kepala negara dan kepala pemerintahan ke wilayah paling selatan Pulau Dewata itu bertujuan untuk menjaga saling pengertian antara satu dengan yang lainnya dalam memelihara perdamaian di kawasan.

         Ribuan mil perjalanan mereka lakoni bukan untuk mencari kemenangan. Tentu saja hal itu berbeda dengan pertemuan duta olahraga antarbangsa serumpun (SEA Games) di Jakarta dan Palembang yang berjibaku di medan laga untuk memperebutkan medali.

         Perhelatan akbar di Bali selama tiga selama tiga hari itu juga terasa istimewa lantaran kehadiran Presiden Amerika Serikat Barack Obama beserta Menteri Luar Negerinya Hillary Clinton.

         Kehadiran Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon juga melengkapi ajang pertemuan yang dikemas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-19 ASEAN itu.

         Boleh jadi, selama tiga hari penyelenggaraan KTT ASEAN dan KTT terkait, Bali menjadi perhatian masyarakat internasional. Hal itu bukan sesuatu yang berlebihan, mengingat nama Bali sudah sangat mendunia.

         Bali dikenal oleh masyarakat internasional tidak saja karena eksotisme alamnya yang menghipnotis setiap orang untuk segera menikmati dan mencumbuinya, melainkan juga perilaku masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran agama dan budaya.

         Negara lain boleh saja memiliki panorama alam yang eksotik, akan tetapi negara Indonesia memiliki Bali bukan karena objek wisatanya belaka, melainkan juga kelestarian budaya masyarakatnya.

         Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Bali menjadi salah satu barometer perekenomian nasional. Apalagi, masyarakat di belahan lain dunia, lebih mengenal Bali ketimbang Indonesia.

         Bisa dibayangkan, betapa pusingnya pemerintah Indonesia ketika suatu negara mengeluarkan anjuran kepada warganya untuk tidak mengunjungi (travel advisory) Bali, meskipun sering kali kebijakan negara lain itu tidak beralasan.

         Pulau berjuluk “island of paradise” itu memang pernah porak-poranda oleh ulah teroris pada 2002 dan 2005. Akan tetapi, tidak adil jika bencana alam dan terorisme yang terjadi di daerah lain dijadikan alasan bagi pemerintah suatu negara untuk melarang rakyatnya berpelesir ke Bali.

                                                                                               Stempel “Aman”
Kehadiran Obama dan sejumlah kepala negara memaksa masyarakat internasional memusatkan perhatiannya ke Pulau Seribu Pura yang dihuni sekitar 3,6 juta jiwa itu.

         Pengamat pariwisata, Dr Ir Agung Suryawan Wiranatha, beranggapan bahwa kedatangan para kepala negara dan kepala pemerintahan itu secara tidak langsung memberikan garansi kepada Bali sebagai tempat paling aman untuk dikunjungi.

         “Kalau tidak aman, tentu Obama dan kepala-kepala negara lainnya tidak akan mau datang ke Bali,” kata Ketua Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pariwisata Universitas Udayana (Unud) Denpasar itu, Rabu (23/11).

         Selain membawa stempel “aman”, kehadiran delegasi, kepala negara, dan kepala pemerintahan di ajang KTT ASEAN itu juga sebagai sarana promosi gratis bagi pariwisata di Bali.

         “Kedatangan tamu negara itu sekaligus menjadi ajang promosi bagi pariwisata Bali. Apalagi, Obama sampai tiga hari menginap di Bali. Ini sungguh peristiwa luar biasa,” kata Agung.

         Dia tak membayangkan, berapa uang negara yang harus dikeluarkan untuk promosi pariwisata jika tanpa adanya penyelenggaraan KTT ASEAN.

         “Ini yang harus disyukuri, tidak hanya oleh masyarakat Bali, tetapi juga oleh seluruh rakyat Indonesia karena kedatangan kepala negara dan kepala pemerintahan itu mendapatkan perhatian utama dari masyarakat internasional,” kata Sekretaris Program Doktor Pariwisata Unud itu.

         Kalau pun ada sebagian masyarakat yang merasa terganggu oleh pelaksanaan KTT, seperti kemacetan jalur lalu-lintas akibat kedatangan dan kepulangan tamu negara, dia menganggap sebagai sesuatu yang wajar.

         “Kemacetan lalu-lintas yang hanya satu atau dua hari itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan besarnya manfaat yang didapat dari KTT itu,” kata Agung yang sempat terkena dampaknya saat menjemput rekannya di Bandar Udara Ngurah Rai itu.

         Oleh sebab itu, dia berharap masyarakat bisa berpikir positif atas penyelenggaraan KTT itu demi kemajuan sektor pariwisata Bali ke depan.

         Garansi sudah didapat, “travel advisory” tak lagi menyisakan tempat. Lalu upaya apa lagi yang harus dilakukan agar pariwisata Bali tidak kehilangan minat?
Untuk itu, Agung mengingatkan kepada semua pihak untuk tidak terlena dengan garansi itu. Aparat keamanan tidak boleh lengah dalam menjaga keamanan objek vital dan objek wisata di Bali.

         “Teroris itu tidak pernah tidur. Jangan sampai aparat keamanan lengah,” kata Sekjen Bali Tourism Board 2005-2011 itu mengingatkan.

         Yang tidak kalah pentingnya lagi, Pemerintah Provinsi Bali harus mampu menyediakan infrastruktur yang memadai agar wisatawan, dari mana pun asalnya, tetap betah tinggal berlama-lama di Pulau Dewata. “Percuma saja garansi dan promosi gratis dari pemimpin negara karena jalan menuju objek wisata kualitasnya buruk,” kata Agung.
Demikian pula, masyarakat Bali juga harus menjaga kepercayaan dunia internasional itu melalui sikap yang bersahaja dan melestarikan nilai-nilai kedewataan.

         Konflik horizontal antarwarga desa adat seperti yang terjadi di Kabupaten Bangli dan Kabupaten Klungkung tak boleh terulang selama mereka masih menginginkan Bali tetap “Santhi”.*

     M. Irfan Ilmie

Sepanjang Kamis (13/10) secara umum cuaca di Bali cerah, apalagi jika dibandingkan dengan cuaca dua hari sebelumnya yang tertutup mendung dan sesekali diwarnai gerimis, meskipun tidak merata ke seluruh wilayah daratan di Pulau Dewata itu.

Sisa-sisa “canang”, “segehan”, dan pelengkap sesajian atau sesajen yang menjadi simbol peringatan “Purnama Kapat“  dua hari sebelumnya masih berserakan di halaman sekolah, di pinggir-pinggir lapangan, di depan gedung perkantoran, di padmasana, bahkan di atas meja-meja kerja.

Meskipun “Purnama Kapat” pada bulan ini jatuh pada hari Selasa, sebagian masyarakat Bali ada yang melaksanakan upacara adat “piodalan” pada hari Rabu, bahkan Kamis. Masyarakat Bali meyakini “Purnama Kapat” itu sebagai hari yang penuh berkah.

Oleh karena itu, semarak perayaan datangnya bulan purnama tersebut masih terasa hingga Kamis pagi. Nuansa terang, sebenderang bulan purnama pada malam hari masih membekas pada gurat wajah anak-anak sekolah dasar yang pagi itu mengikuti kegiatan olahraga di Lapangan Lumintang, Denpasar.

Cuaca cerah pada Kamis pagi itu tak sedikit pun memberikan pertanda akan terjadinya bencana karena tepat pukul 11.16 Wita masyarakat Bali panik akibat tanah yang mereka pijak berguncang. Meskipun hanya beberapa detik, guncangan itu cukup membuat warga tercekam ketakutan.

Gempa berkekuatan 6,8 pada skala Richter yang berpusat di 143 kilometer sebelah barat daya Nusa Dua dengan kedalaman 10 kilometer itu sedikit memporak-porandakan sebagian rumah warga, sekolahan, tempat ibadah, dan fasilitas umum lainnya di Bali.

Dari magnitude-nya memang gempa Bali lebih besar dibandingkan dengan gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006 yang hanya berkekuatan 5,9 SR. Namun dampaknya tidak separah di Yogyakarta karena memang lokasi gempa Bali relatif lebih jauh dari daratan dibandingkan dengan gempa di Yogyakarta yang berjarak sekitar 25 kilometer selatan-barat daya “Kota Gudeg” itu.

Selain itu, struktur bangunan rumah di Bali lebih kokoh dibandingkan dengan di Yogyakarta. Bahkan, untuk bangunan rumah kos di Bali rata-rata pada bagian dindingnya dilapisi beton. Kebanyakan rumah penduduk asli konstruksi bangunannya menggunakan batu bata bercampur semen yang dipadatkan atau orang Bali menyebutnya dengan “bata gosok“.

Hal itu juga yang merupakan salah satu faktor gempa berkekuatan 6,8 SR tidak sampai meluluhlantakkan rumah-rumah dan bangunan lain di Bali. Padahal, dalam satu hari “Pulau Seribu Pura” itu diguncang sepuluh 10 kali gempa susulan. Dari 10 kali gempa susulan itu yang guncangannya dirasakan warga terjadi pada pukul 15.52 Wita. Itu pun kekuatannya hanya 5,6 SR atau lebih rendah dari gempa utama pada pukul 11.16 Wita.

Kalau pun ada bangunan yang rusak, maka faktor penyebabnya lebih banyak pada konstruksi bangunan, seperti yang terjadi di SMK Negeri 2 Denpasar dan toko swalayan “Carrefour” di Jalan Sunset Road, Kuta, Kabupaten Badung.

Dua tempat itulah yang disebut-sebut paling parah terkena dampak gempa. Bahkan, 49 siswa dan guru SMK Negeri 2 Denpasar harus menjalani perawatan di RS Sanglah karena luka-luka pada bagian kepala setelah tertimpa reruntuhan bangunan.

Sejauh ini belum ada laporan mengenai bangunan yang rusak parah akibat bencana tersebut. Demikian halnya dengan korban jiwa, juga tidak ada laporan, baik yang masuk ke posko BPBD, Bakesbangpol-Linmas, PMI, maupun tenaga sukarelawan lainnya.

Akan tetapi, gempa pada Kamis siang itu boleh dibilang gempa terbesar sejak 1979. Gempa di Karangasem pada 1979 telah merenggut 24 nyawa warga. Setelah 1979, beberapa kali Bali memang pernah diguncang gempa, di antaranya 2004 di Karangasem dan 2010 di Nusa Dua, yang semuanya tidak sampai menimbulkan jatuhnya korban jiwa.

Walau begitu, kepanikan masyarakat tak bisa terelakkan. Apalagi trauma pascabencana, seperti yang dialami masyarakat di Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, dan Kota Pariaman, Sumatera Barat, akibat gempa berkekuatan 7,9 SR pada 30 september 2009 dan tsunami di Jepang pada 11 Maret 2011 masih belum beranjak dari ingatan.

Oleh sebab itu, warga yang tinggal di kawasan pesisir Bali, seperti di Nusa Dua, Sanur, dan Kuta, sempat takut karena sebagian di antara mereka melihat permukaan air laut meninggi beberapa saat setelah gempa mengguncang Bali.

Namun, pihak Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar memastikan bahwa tingginya air laut bukan pertanda akan datangnya gelombang tsunami, melainkan karena air pasang yang dipicu oleh fenomena bulan purnama.

Kepala BMKG Wilayah III Denpasar Wayan Suwardana menyatakan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak panik akibat gempa tersebut,” katanya beberapa saat setelah terjadi gempa utama, Kamis siang.

Sementara itu, Kepala Bidang Pusat Gempa Bumi BMKG, Suhardjono, mengatakan, gempa yang terjadi masih termasuk dalam taraf normal. “Kekuatan gempa masih tergolong normal. Oleh karena itu, saya minta masyarakat tidak panik dan tetap tenang,” katanya.

Jumat pagi, Pulau Bali kembali diliputi mendung dan tidak secerah sehari sebelumnya. Gempa yang terjadi Kamis itu tidak menimbulkan traumatik yang berlebihan. Masyarakat sudah kembali beraktivitas. Bahkan, wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, sama sekali tidak takut akan fenomena alam, meskipun sehari sebelumnya sejumlah jadwal kedatangan dan keberangkatan penerbangan dari Bali sempat mengalami penundaan.

Wayan Suwardana di Denpasar mengemukakan, akitivitas seismik di selatan Bali yang menjadi pusat gempa, Jumat pagi terpantau relatif normal. “Meskipun ada aktivitas seismik relatif normal, masih terdeteksi terjadi gempa oleh alat kami,” katanya.

Menurut dia, kekuatan gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama Kamis (13/10) pukul 11.16 Wita itu, terus melemah. Berdasarkan hasil pemantauan, sampai sekarang tercatat terjadi 16 kali gempa susulan.

“Namun masyarakat tidak perlu khawatir karena kekuatan gempa tersebut di bawah 4 SR sehingga hanya bisa dirasakan oleh peralatan seismik,” katanya menambahkan.*

Oleh: M. Irfan Ilmie*

Suatu siang, saya agak tertatih-tatih menyeberangi Jalan Dharmawangsa yang secara kebetulan tidak banyak kendaraan lalu-lalang seperti hari-hari biasa. Puas mencapai seberang jalan, saya terduduk tak jauh dari kedai kopi di mulut gang sambil memijit-mijit kaki kanan yang ngilu akibat terlalu lama berimpitan di dalam angkutan umum.

Semua orang pasti pernah mengalami kesemutan seperti saya. Kesemutan atau mati rasa, dalam istilah kedokteran adalah sensasi abnormal yang dapat terjadi pada bagian tubuh mana pun, dan yang paling sering adalah tangan dan kaki.

Penyebabnya juga bermacam-macam, di antaranya posisi duduk atau berdiri dalam waktu yang lama sehingga bagian tubuh tertentu tidak mendapatkan aliran darah yang mencukupi atau buntu. Pemulihannya pun tidak sulit, karena yang dibutuhkan adalah peregangan pada otot-otot yang mati rasa itu.

Mati rasa juga bisa terjadi pada diri seseorang karena emosi jiwanya terganggu sehingga mati rasa yang gejalanya seperti ini bukan monopoli Dewi Sandra saja yang merajuk saat melantunkan tembang andalannya berjudul “Mati Rasa”.

Ketika perasaan ini sudah mati, maka cinta dan kasih sayang pun akan pergi. Perhatian pada seseorang, tiba-tiba hilang dan tergantikan oleh perasaan dendam yang sebelumnya lama terpendam.

Dalamnya lautan, siapa pun tahu, tapi dalamnya hati, siapa yang tahu? Begitu juga dengan dendam, sifatnya tak beda jauh dengan api di dalam sekam.

Atas nama dendam dan benci pula, hal-hal yang tadinya suci tiba-tiba berubah menjadi keji. Padahal, sesuai fitrahnya, manusia yang dilahirkan ke dunia ini penuh dengan kesucian. Oleh sebab itu, sebagian ahli tafsir meyakini bahwa tangisan bayi yang baru keluar dari rahim ibunya sebagai bentuk pelampiasan atas kekecewaannya melihat dunia yang penuh dengan sifat-sifat “madzmumah”.

Bahkan, atas nama agama dan keyakinan tertentu, sekelompok orang bisa menjadi kalap sehingga fitrah kemanusiaannya pun diabaikan, digadaikan, dan digantinya dengan nafsu amarah sebagai petunjuk jalan jihad yang semu.

Atas nama agama pula, sekelompok orang menghalalkan darah saudaranya sendiri yang dianggap tidak berada dalam satu garis komando. Komando yang terbungkus keyakinan dalam menistakan kelompok tertentu.

Tak puas dengan hanya menistakan, sekelompok orang itu memerangi saudaranya sendiri sampai betul-betul binasa. Ironisnya dalam upaya membinasakan saudaranya sendiri itu mereka mengusung kesucian yang dijunjung keagungannya secara universal.

Bagaimana tidak mati rasa, kalau sesama umat manusianya ditimpuk, ditendang, dipukuli beramai-ramai, meskipun ajal sudah meninggalkan jasad korbannya. Peristiwa yang terjadi di Cikeusik, Banten, itu mengingatkan pada tradisi “gropyokan” yang dilakukan sekelompok petani di tepi barat Sungai Brantas, Kabupaten Tulungagung.

Menjelang panen tiba, biasanya sekelompok petani di daerah itu memasukkan bahan kimia yang mudah terbakar pada lubang-lubang kecil di bawah pematang. Tikus-tikus pun keluar karena kegerahan berada di tempat persembunyian akibat lubang-lubang dimasuki bahan kimia.

Begitu tikus keluar dari lubang, tanpa perasaan para petani sudah menyambutnya dengan sabetan parang, pentungan, golok, dan benda apa saja yang dapat membinasakan jenis binatang pengerat yang doyan tanaman padi itu. Setelah tak bernyawa, bangkai-bangkai tikus itu pun dibakar beramai-ramai. Begitulah potret tradisi “gropyokan” di Tulungagung yang sekilas fenomenanya hampir mirip dengan tragedi Cikeusik.

Walaupun objeknya berbeda, modus operandi di Tulungagung dan Cikeusik sebangun dan sebidang karena mereka sama-sama beringas. Di Cikeusik, orang membunuh karena keyakinan agamanya merasa terusik, sedangkan di Tulungagung petani membasmi karena takut merugi.

Gejolak sosial di Cekeusik dan di Temanggung merupakan sebuah fenomena ketidakmampuan sekelompok orang dalam memahami agama secara utuh. Perbedaan masih diidentikkan dengan sebuah permusuhan. Padahal dalam hadisnya, Nabi Muhammad SAW berkali-kali mengingatkan bahwa “Perbedaan itu membawa rahmat”.

Bahkan, Allah sendiri dalam firmannya menyatakan: “Laa ikrâha fi al-dîn”. Artinya: Tidak ada paksaan di dalam agama (QS. Al-Baqarah: 120). Ayat lain menegaskan, “… Fa man syâ’a falyu’min, wa man syâ’a falyakfur.” Artinya: Orang boleh memilih, barang siapa ingin beriman, maka boleh beriman, dan barang siapa hendak kufur, maka silakan saja kufur (QS. Al-Kahfi: 29). Ada lagi ayat yang berbunyi. “Lakum dînukum wa liya dîn.” Artinya: Bagimu agamamu dan bagiku agamaku (QS. Al-Kafirun: 6).

Dengan merujuk pada ayat-ayat Alquran seperti itu, sesungguhnya Islam tidak boleh dilaksanakan atas dasar paksaan. DR Moqsith Ghazali menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan menyatakan bahwa kekerasan atas nama agama itu dilarang, kekerasan dengan alasan agama atau berbaju agama haram hukumnya.

Sayangnya, kelompok Islam radikal tak menerima dalil-dalil tersebut. Mereka punya dalil sendiri yang juga bersumber dari Alquran dan Hadis. Tapi, apa pun dalilnya, membunuh sesama manusia tetap dilarang.

Di sinilah kewajiban aparatur melakukan campur tangan. Bukan sebaliknya, pemerintah cuci tangan dengan kalimat-kalimat bernada kecaman, kutukan, dan prihatin. Ingat, kekerasan tidak akan terhenti hanya dengan membuat pernyataan-pernyataan seperti itu.

Penegak hukum pun juga demikian. Polisi, jangan memosisikan diri sebagai penonton di arena pembantaian. Bukankah polisi dibayar oleh negara karena ketegasannya dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Bukan sebaliknya, polisi dan aparat hukum lainnya tegas dalam menghadapi orang yang lemah, namun lemah dalam menghadapi orang yang kuat. Yang patut dicatat pula, pergantian pucuk pimpinan polisi bukan solusi atas sebuah persoalan. Justru mengesankan pimpinan kepolisian yang diganti itu cuci tangan atas peristiwa yang terjadi.

Persoalan bangsa ini semakin lama semakin pelik. Banyak orang yang mengalami mati rasa, tapi tidak sadar kalau dia mati rasa. Termasuk saya yang saat itu mengalami mati rasa pada kaki kanan, tapi dipaksa untuk menyeberang jalan raya di Kota Surabaya. Untung pula, saat itu jalanan sepi….!

(tulisan ini telah dipublikasikan dalam Tajuk www.antarajatim.com)

Oleh M. Irfan Ilmie

Kenapa harus ke Desa Durenan kalau sekadar merayakan Lebaran Ketupat? Bukankah Lebaran selalu identik dengan penganan khas yang terbuat dari beras itu? Lalu apa pula istimewanya berlebaran ketupat di Durenan?

Pertanyaan-pertanyaan itu terbersit di benak setiap orang, terutama bagi orang yang tinggal di luar Desa Durenan. Apalagi, di Desa Durenan tidak terdapat objek wisata dan wahana hiburan lainnya sehingga wajar orang bertanya-tanya perihal keistimewaan berlebaran ketupat di desa itu.

Belum lagi akses jalan menuju Durenan macet berkilo-kilo meter sejak pagi sampai sore hari. Jalan-jalan kampung di desa itu pun sesak oleh pengguna jalan, pejalan kaki, dan pedagang kaki lima yang menggelar berbagai macam dagangan. Akibatnya, polisi tampak kewalahan mengatasi kemacetan di desa itu, meskipun ratusan personel dibantu tenaga sukarelawan dikerahkan.

Para pegawai negeri sipil (PNS) pun tak mau melewatkan momen penting itu dengan meninggalkan tugasnya lebih awal. Tak ketinggalan, Bupati Trenggalek Soeharto dan Ketua DPRD setempat Akbar Abbas bersama sejumlah Muspida juga turut merayakan “pesta ketupat” itu di Durenan.

Lebaran Ketupat di Desa Durenan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jatim, tidak hanya milik warga desa itu dan masyarakat Kabupaten Trenggalek. Bahkan, satu rombongan dari Jambi harus rela menempuh perjalanan beribu-ribu kilometer ke Durenan untuk bergabung dengan sejumlah warga dari daerah-daerah lain.

Setiap tanggal 8 Syawal tahun Hijriah, masyarakat Desa Durenan membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Alunan musik yang diperdengarkan melalui salon berbagai ukuran memberikan isyarat kepada warga dan pengguna jalan untuk masuk ke rumah mereka.

Tidak ada basa-basi, kecuali kalimat, “silakan menikmati hidangan ketupat,” yang keluar dari mulut sang tuan rumah. Mau berbincang-bincang atau pamit ke rumah sebelah untuk menikmati ketupat sayur lainnya, tuan rumah tidak merasa tersinggung.      Kenal atau tidak dengan tuan rumah, lidah setiap orang pasti juga akan merasa dimanjakan oleh hidangan ketupat dilengkapi sayur nangka muda, kacang pajang, opor ayam, telur puyuh goreng, dan kerupuk atau “rempeyek”.

Fenomena itu cocok bagi orang yang lapar atau mereka yang ingin mendapatkan sarapan sekaligus makan siang gratis. Wajar pula pada Jumat itu tak satu pun warung makanan di Durenan yang buka, kecuali kedai kopi.

“Sudah tiga kali ini saya makan ketupat di tiga tempat berbeda,” kata Andri, remaja berusia 23 tahun asal Blitar yang ramai-ramai makan ketupat bersama empat rekannya di rumah seorang warga di Desa Durenan.

“Selama Lebaran saya tak berani meninggalkan tugas. Hanya Lebaran Ketupat ini saya libur sehari penuh,” kata Saiful, perwira menengah polisi, saat ditemui di sela-sela kesibukannya menerima tamu di rumahnya di Desa Durenan.
Durenan adalah sebuah desa yang berada di jalur utama Trenggalek-Tulungagung. Durenan juga kecamatan paling timur di wilayah Kabupaten Trenggalek yang berbatasan dengan Kebupaten Tulungagung. Karena lokasinya berada di jalur utama, di Durenan juga terdapat terminal bus, pasar, dan toko-toko yang menyediakan aneka kebutuhan masyarakat.

Masyarakatnya tergolong agamais karena di situ juga terdapat pondok pesantren dan sejumlah madrasah. Di Durenan ada seorang tokoh legendaris, yakni KH Abdul Mashir atau dikenal dengan nama Mbah Mesir.

Mbah Mesir salah satu penyebar agama Islam di daerah itu. Makamnya yang berada di seberang Sungai Semarum juga kerap dikunjungi para peziarah, terutama dari kalangan santri.

Mbah Mesir-lah yang pertama kali merayakan Lebaran Ketupat dengan cara seperti itu sejak 300 tahun silam. “Setiap Lebaran Ketupat, Mbah Mesir menyediakan ketupat dalam jumlah besar dan tak pernah berkurang, walau disuguhkan kepada banyak orang,” kata KH Fatah Muin, generasi keempat Bani Mesir.

Ritual itu dilakukan Mbah Mesir bersama para santrinya setelah berhasil menunaikan puasa sunah bulan Syawal, terhitung sejak tanggal 2 Syawal atau sehari setelah salat Idulfitri.

“Ritual Mbah Mesir itu kemudian diikuti oleh sanak familinya. Ada sekitar sepuluh rumah kerabat yang menggelar ritual serupa,” kata Kiai Fatah yang juga pemuka agama di Desa Durenan.

Bentuk syukur kepada Allah SWT itu kemudian diikuti oleh masyarakat sekitar sehingga ajang “open house” dan makan ketupat bersama itu berkembang luas hingga ke beberapa kecamatan di sekitar Durenan, seperti Pogalan dan Gandusari.

Sebelum ritual santap ketupat bersama itu dilakukan, masyarakat setempat menunaikan salat dhuha berjamaah di masjid-masjid yang dirangkai dengan pembacaan doa bersama sesaat setelah matahari beranjak dari ufuk timur.
Hindarkan Hedonisme
Selain ungkapan rasa syukur, tradisi yang diajarkan Mbah Mesir itu juga untuk mendidik masyarakat agar tidak larut dalam hedonisme setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.

“Biasanya, tempat-tempat wisata selalu ramai setelah Lebaran, bahkan puncaknya pada Lebaran Ketupat ini,” kata Kiai Fatah usai menerima Bupati Trenggalek dan rombongan tamu penting lainnya.

Menurut dia, Mbah Mesir mengajak masyarakat sekitar untuk memperat tali silaturahmi dengan siapa saja tanpa melihat suku, agama, ras, dan golongan sambil bersama-sama menikmati ketupat sayur ala Durenan itu.

“Hari ini momen yang tepat untuk mempererat tali silaturahmi. Setelah berpuasa wajib selama sebulan ditambah puasa sunah di bulan Syawal selama tujuh hari, kita wajib mengencangkan kembali tali persaudaraan itu,” katanya.

Tradisi Lebaran Ketupat yang penuh dengan muatan spiritual tersebut disambut positif oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek. Bupati Soeharto pun akan memasukkan tradisi itu dalam agenda wisata rutin.

“Kami akan memasukkan ritual ini dalam agenda wisata rutin setiap tanggal 8 Syawal,” katanya usai santap ketupat bersama Muspida di rumah Kiai Fatah itu.

Menurut dia, tradisi silaturahmi dengan menyuguhkan hidangan ketupat sayur kepada setiap tamu pada tanggal 8 Syawal yang diajarkan pemuka agama di Desa Durenan, KH Abdul Mashir atau Mbah Mesir, sejak 300 tahun silam itu, perlu dilestarikan.

Bentuk pelestarian itu, kata Soeharto, yang akan mengakhiri tugasnya sebagai Bupati Trenggalek pada 3 Oktober 2010, adalah dengan memasukkan tradisi itu dalam agenda wisata.

“Apalagi, Anda tahu sendiri yang merayakan Lebaran Ketupat di sini bukan masyarakat Trenggalek saja, melainkan dari berbagai daerah, bahkan dari luar Jawa,” katanya.

Meskipun nantinya menjadi agenda wisata, Pemkab Trenggalek tidak akan membangun tempat khusus atau semacam “land mark” yang bisa digunakan masyarakat untuk merayakan Lebaran Ketupat di Desa Durenan itu.

“Kalau nanti dibangun tempat khusus, tradisi ini dikhawatirkan cepat pudar karena tradisi ini tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat dan masyarakat sendiri yang berinisiatif memberikan suguhan ketupat kepada setiap tamu,” katanya.

Menurut Bupati, biarlah tradisi itu tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat secara alamiah karena jika terlalu banyak intervensi dari pemerintah dikhawatirkan cepat luntur dan masyarakat pun melupakannya. *

Oleh M. Irfan Ilmie

Perahu-perahu kelotok yang bersandar dan berderet di bibir Pantai Pamuna, siang itu, seakan menjadi lambang tak adanya kegiatan berarti para nelayan.
Gelombang Laut Jawa siang itu relatif tenang dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Namun para nelayan di Pulau Bawean dan Pulau Gili, Jawa Timur tetap saja tidak melaut. Baca entri selengkapnya »

oleh M. Irfan Ilmie

          Surabaya - Guru besar Linguistik Fakultas Bahasa dan Seni Unversitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Kisyani Laksono, mengemukakan, perkembangan Bahasa Indonesia berada di tangan masyarakat. Baca entri selengkapnya »

oleh M. Irfan Ilmie

       Surabaya – Ratusan bahasa daerah di Indonesia, keberadaannya hingga saat ini terancam punah karena sudah jarang sekali digunakan. Baca entri selengkapnya »

oleh M. Irfan Ilmie

Gumpalan-gumpalan awan hitam yang bergelayut itu tiba-tiba luruh membasahi besi batang landasan kereta api, klakson lokomotif yang meraung-raung pun tertelan gemuruh air yang berjatuhan ke bumi. Baca entri selengkapnya »

oleh M. Irfan Ilmie

Metode pengobatan yang dilakukan Muhammad Ponari, dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terkesan unik dan berbau takhayul. Baca entri selengkapnya »

oleh m. irfan ilmie

Iluk Sariroh (26), terpaksa berbohong kepada para tetangganya di Desa Semanding, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, bahwa bercak merah di sekujur tubuh anaknya, Fahmi (6), akibat sengatan lebah. Baca entri selengkapnya »