Sampingan

M. Irfan Ilmie

Terminal atau stasiun di Indonesia lazimnya berfungsi sebagai tempat pemberangkatan dan pemberhentian bus atau kereta api. Orang-orang yang lalu-lalang di tempat itu kebanyakan juga hendak bepergian ke berbagai tempat tujuan.

Tidak jauh berbeda dengan di Taiwan. Terminal dan stasiun juga sama fungsinya dengan di Indonesia. Taiwan memiliki “Taipei Main Station” (TMS) sebagai tempat perpaduan sistem transportasi publik, mulai dari taksi, bus kota, bus antarkota, MRT jalur bawah tanah, kereta api konvensional, hingga kereta api super cepat yang dikenal dengan “Taiwan High Speed Railway” (THSR).
Di tempat itu pula masyarakat Taiwan dapat menggunakan beragam jenis transportasi publik ke berbagai tujuan di penjuru negara berpenduduk sekitar 23,5 juta jiwa tersebut.

TMS yang pada saat pertama kali dioperasikan oleh pemerintah pendudukan Jepang pada 1901 dengan menggunakan nama “Taipei Railway Station” itu terus berbenah seiring dengan beberapa kali perluasan.
Sesuai perkembangannya, terminal dan stasiun yang berlokasi di Distrik Zhongzhen dan Distrik Datong itu makin banyak berdiri mal.

Bahkan di bawah permukaan tanah bangunan utama stasiun terdapat pusat perbelanjaan tiga lantai “Taipei City Mall” yang menyediakan berbagai keperluan sehari-hari, termasuk perangkat elektronik dan teknologi informasi.
Oleh sebab itu, TMS menjadi pusat keramaian terbesar di Ibu Kota Taiwan.

Apalagi barang-barang yang dijual di “Taipei City Mall” sangat murah dibandingkan dengan di tempat lain di Taiwan.
Namun bagi masyarakat Taiwan yang menginginkan produk bermerek juga bisa datang ke TMS karena ada beberapa tempat perbelanjaan lain, seperti Shin Kong Mitsukoshi Departement Store dan Muji Mall.

Warga negara Indonesia yang tinggal di Taiwan, baik sebagai tenaga kerja Indonesia maupun mahasiswa, lebih senang mendatangi “Taipei City Mall” yang kalau di Jakarta hampir mirip dengan Pasar Senen atau di Surabaya dengan PGS-nya.

Sehingga tidak mengherankan pula jika di TMS banyak toko yang pemilik dan pelayannya WNI. Bahkan tidak sedikit pula toko yang mencantumkan tulisan berbahasa Indonesia dan memasang bendera Merah-Putih.
Pada hari Sabtu dan Minggu, bahasa Indonesia bukan hal yang aneh untuk didengar di “Taipei City Mall” itu. Karena pada hari Sabtu dan Minggu, para TKI mengisi waktu liburnya di tempat tersebut.

Tidak hanya dari Tapei, TKI yang bekerja di Taichung, Tainan, Keelung, dan Kaohsiung juga “tumplek-blek” di TMS pada hari Sabtu dan Minggu.
Lebih dari separuh lantai utama stasiun kereta api TMS yang luasnya hampir sama dengan lapangan sepak bola dipenuhi para TKI. Hanya sebagian saja yang disisakan untuk antrean pembelian tiket THSR.

Ajang Silaturahmi
Oleh karena lokasinya yang bisa diakses dari berbagai penjuru di Taiwan, TMS sering kali dijadikan tempat para TKI untuk berkumpul, baik sekadar untuk melepas kerinduan antar-TKI yang sama-sama berasal dari satu kampung halaman di Tanah Air maupun untuk memanjakan lidah akan masakan khas Nusantara.

Di TMS dijual beraneka jenis penganan khas Nusantara. Apalagi kalau ada acara atau kegiatan keagamaan, seperti “Istighatsah dan Sholawat Akbar” yang digelar di pelataran stasiun kereta api TMS, Minggu (7/9).

“Selain doa bersama, acara ini sekaligus sebagai ajang silaturahmi bagi para TKI,” ujar Agus Susanto selaku panitia penyelenggara “Istighatsah dan Sholawat Akbar” yang dipimpin Habib Muhammad Firdaus Almunawwar dari Pondok Pesantren Daarul Muqorobin, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, itu.

Bahkan menurut Chen Jun Hei (58), warga negara Taiwan, TMS penuh sesak oleh WNI pada saat hari libur keagamaan. Meskipun di Taiwan tidak ada hari libur keagamaan, para TKI mendapatkan kesempatan libur dari majikannya. “Kalau Tahun Baru Hijriah, TMS ini ramai oleh TKI. Apalagi kalau lebaran,” kata pria yang beristrikan WNI itu.

Menurut dia, warga negara Taiwan yang berjualan di kawasan TMS, apalagi di “Taipei City Mall” seakan mendapatkan berkah dari para TKI, terutama pada hari Sabtu dan Minggu serta hari-hari besar umat Islam.

“Makanya, tidak heran jika pelayan toko di sini bisa berbahasa Indonesia,” tutur Chen yang mengaku belum bisa berbahasa Indonesia itu meskipun sudah beberapa kali mengunjungi keluarga istrinya di Karawang, Jawa Barat.

Nahdlatul Ulama sebagai salah satu ormas keagamaan di Indonesia juga tak ingin menyia-nyiakan momentum tersebut. NU mendirikan kantor sekretariat Pengurus Cabang Istimewa di kawasan TMS. “Setiap hari Sabtu dan Minggu, kami biasanya kumpul bareng di sekretariat,” ujar Agus Susanto selaku Wakil Ketua Pengurus NU Cabang Istimewa Taiwan.

Pria asal Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, yang bekerja di pabrik aksesoris telepon seluler di Taiwan itu mengemukakan bahwa NU bukan hanya mewadahi para TKI dalam kegiatan keagamaan, seperti istigasah, tahlilan, atau yasinan.

“Kami biasanya memberikan pelatihan memasak dan menjahit,” kata Ketua Fatayat NU Cabang Istimewa Taiwan, Tarnia Tari, menambahkan.
Agus dan Tari sepakat bahwa alasannya mendirikan sekretariat PCI NU di kawasan TMS itu karena lokasinya yang strategis.

“Dari mana arah pun TMS ini bisa dituju dengan mudah. Kami pun juga dengan mudah bisa mengumpulkan teman-teman,” kata Tari yang bekerja sebagai perawat orang tua di Taipei itu.  (*)

Konversi Keringat ala TKI

M. Irfan Ilmie

“Saya merasa ini adalah berkah,” ujar Sunarti sambil mengayunkan langkahnya meninggalkan Taipei Grand Mosque. Bukan lantaran selesai menunaikan shalat Jumat (29/8) di salah satu masjid besar di Ibu Kota Taiwan itu,  dia mengucapkan kata-kata tersebut, melainkan mengenai kesehariannya yang tinggal satu atap dengan Jinshang di kawasan Yongha, Taipei, dalam sembilan tahun terakhir. “Sepertinya saya juga beruntung,” ucapnya lagi disusul dengan kalimat hamdalah.

Ia tak menyangka jika pekerjaannya di Taiwan adalah merawat dan mendampingi orang jompo. “Lebih tak menyangka lagi, ternyata saya bekerja pada keluarga yang seiman,” ujarnya.

Di masjid agung di pusat Kota Taipei itu, Sunarti tidak sendiri. Dia bersama Jinshang. Keduanya bagaikan ibu dan anak meskipun berbeda latar belakang budaya dan tentunya strata sosial-ekonomi. Sunarti layaknya perempuan desa di daerah perbukitan tandus di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. “Apalagi usia saya sudah mendekati 50,” katanya mengenai penampilannya yang dianggapnya tak pernah berubah sejak masih tinggal di Desa Ceraken, Kecamatan Munjungan.

Jinshang, meskipun sudah berusia 83 tahun, tetap terkesan sebagai perempuan kelas menengah di Taiwan. Jinshang yang pensiunan guru itu tak pernah menganggap Sunarti sebagai klien. Begitu pula dengan Sunarti yang tidak pernah menganggap Jinshang sebagai patron.

Resasi keduanya terkesan alamiah sejak mereka dipertemukan sembilan tahun yang lalu. “Begitu ketemu, saya langsung merasa cocok. Karena merasa nyaman, dia saya anggap sebagai anak sendiri,” ucap Jinshang.

Kebutuhan kedua perempuan berbeda generasi itu hampir sama. Jinshang di sisa usianya ingin hidup bahagia dengan relaksasi dan hal-hal rekreatif lainnya. Demikian pula dengan Sunarti yang menganggap rekreasi bagian tak terpisahkan dari hidup yang dijalaninya jauh dari keluarga.

Jinshang ingin merasa damai di kehidupannya kelak dengan memperbanyak ibadah. Sama halnya dengan Sunarti yang menganggap ibadah sebagai benteng keimanannya. “Setiap Jumat dan Minggu, dia selalu meminta saya bersama-sama ke masjid,” ujar Sunarti.

Langkah kaki kedua perempuan itu sudah hampir tiba di ujung perempatan Shinshang East Road yang padat oleh beragam kendaraan bermotor. Di depan toko peralatan elektronik, Jinshang menghentikan langkahnya.   “Panas,” ujarnya seraya meminta bantuan Sunarti untuk melepaskan jilbab dan baju muslimahnya. Suhu udara yang mencapai 38 derajat Celcius dalam beberapa hari terakhir itu sangat menggerahkan. Payung dan topi lebar menjadi bagian penting bagi masyarakat Taiwan untuk berlindung dari sengatan sinar matahari langsung.

Dalam sekejap, Jinshang sudah berganti pakaian. Ia mengenakan topi lebar dan baju panjang bermotif bunga, sedangkan Sunarti tetap dengan baju muslimahnya. Keduanya berjalan beriringan menuju salah satu halte bus di Heping East Road Section 2 yang berjarak sekitar 300 meter dari Taipei Grand Mosque.

Kebun Cengkih
Tidak banyak memang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang nasibnya seperti Sunarti. Keberhasilan seorang TKI bukan lantaran dimanjakan oleh majikan, namun karena kegigihan dan ketekunannya di negeri orang.

Sunarti bagian dari segelintir TKI yang berhasil di negeri orang karena ketekunan dan kesabarannya. Termasuk sabar menghadapi penderitaan yang telah diteguhkan dalam niat sebelum menyabung nasib di tanah perantauan.

“Selama 15 bulan, gaji yang saya terima sangat kecil karena potongan dari agensi,” katanya dengan menyebut angka 2.000 NT atau setara Rp800 ribu upah yang diterimanya setiap bulan itu selama hampir 1,5 tahun.

Dengan gaji yang masih tergolong di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) Trenggalek sekalipun, dia tetap bertahan pada keluarga Jinshang. Baginya iman merekatkan hubungannya dengan keluarga Jinshang. “Keluarga Jinshang, muslim semua. Dari empat anaknya, satu tinggal di Arab yang bekerja di perusahaan elektronik,” tutur Sunarti.

Tentu saja masalah iman bukan satu-satunya alasan. Jinshang merasakan adanya keteduhan, meskipun harus hidup bersama seseorang berbeda latar belakang. “Saya sangat merasa nyaman dan aman saja,” ujarnya.

Mengenai pengakuan majikannya itu, Sunarti mengaku tidak mempunyai trik khusus. “Saya ini ‘wong ndeso’ (orang kampung). Semuanya berjalan begitu saja,” ucapnya.

Namun dia menganggap bahwa pekerjaan apa pun bila dilakukan dengan sepenuh hati, maka akan membawa hasil. “Saya pun merasa satu hati dengan nenek ini,” kata Sunarti.

Pada 9 September 2014, Sunarti mudik ke kampung halamannya di perbatasan Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pacitan. Keluarga Jinshang mengizinkan Sunarti libur selama dua pekan. “Biasanya baru seminggu di rumah, mereka sudah telepon saya,” ujarnya.

Selama ditinggal mudik Sunarti, Jinshang akan diawasi oleh salah satu anggota keluarga lainnya di Taiwan. “Ya ada keluarga yang mengawasi. Dia dulu pernah didampingi TKI lain, tapi tidak lama karena tidak ada kecocokan,” kata Sunarti.

Dalam kurun waktu sembilan tahun bekerja pada keluarga Jinshang, Sunarti mendapatkan kesempatan tiga kali pulang kampung. Bulan depan merupakan yang ketiga kalinya bagi Sunarti untuk melepaskan kerinduan terhadap suami dan putra semata wayangnya yang duduk di bangku SMA di Kabupaten Trenggalek itu.

Gaji Sunarti sudah tidak lagi dipangkas habis-habisan oleh agen. “Saya sudah berhubungan langsung dengan majikan setelah dua tahun pertama kontrak saya dengan agensi berakhir. Jadi, nggak ada lagi potongan,” ucapnya.

Kini, setiap bulan Sunarti menerima gaji bersih 15.000 NT atau setara Rp6 juta. “Saya masih mendapatkan tambahan 3.000 NT (Rp1.200.000) per bulan,” katanya mengenai insentif yang diberikan salah satu anak Jinshang yang bekerja sebagai polisi di Taipei.

Keringat Sunarti itu kini telah dikonversikan dalam bentuk kebun cengkih seluas 1 hektare di kampung halamannya di Kabupaten Trenggalek. Kebun cengkih itu digarap Shoimin, suaminya.

“Sampai sekarang, saya belum punya rencana usaha. Tapi saya tetap akan menjadikan kebun cengkih itu sebagai bekal masa depan saya dan keluarga,” ucap perempuan yang tak pernah bermimpi memiliki kebuh cengkih seluas 1 hektare itu.

Kebun cengkih milik Sunarti diperkirakan bakal makin luas karena keluarga Jinshang masih menginginkan Sunarti tinggal bersamanya selama tiga tahun lagi. Pemerintah Taiwan di bawah rezim Ma Ying-Jeou mengeluarkan kebijakan perpanjangan masa kerja tenaga kerja asing hingga 12 tahun.

“Dulu awal-awal saya di sini, TKI hanya bisa diperpanjang sampai enam tahun. Lalu sembilan tahun. Sekarang di bawah presiden baru bisa sampai 12 tahun,” ujarnya sumringah. *

Kisah tentang Rambut Si Penghuni Gubuk

M. Irfan Ilmie

Bagi wanita, rambut adalah mahkota. Saking antusiasnya, sebagian wanita rela menghabiskan harta dan waktunya untuk menjaga keindahan mahkota. Namun hal itu tidak berlaku bagi Made Murniasih. Perempuan yang tinggal di Jalan Kenyeri Nomor 12, Semarapura, Bali, itu rela digunduli suaminya, Putu Eka Sucipta.

Pemelontosan kepala istri oleh suami itu bukan ranah Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang pelakunya dapat dihukum penjara selama lima tahun atau denda sebesar Rp15 juta sebagaimana diatur dalam Pasal 44 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT.

Justru pasangan suami-istri yang tinggal di gubuk kecil di Ibu Kota Kabupaten Klungkung itu saling menyerahkan diri, melucuti mahkotanya masing-masing. Tidak tanggung-tanggung pasangan suami-istri yang sama-sama berusia 39 tahun itu juga menggunduli kedua anak kembarnya berusia enam tahun. Tanpa sedikit pun rasa sesal, Murniasih tersenyum di depan juru foto saat digunduli suaminya sambil menimang Komang Sumartana dan Ketut Sumardana.

Begitulah kira-kira gaya kaum marginal mengekspresikan sebuah kemenangan. “Ini janji kami sekeluarga kalau Jokowi (Capres Joko Widodo yang berpasangan dengan Cawapres Jusuf Kalla pada Pilpres 2014) menang,” kata Eka Sucipta setelah membayar kaul atas kemenangan sang pujaannya itu, Senin (14/7).

Perilaku yang tergolong nekat namun unik itu diakuinya sebagai “janji suci” keluarga sederhana yang tinggal di gubuk berdinding gedek 2×2 meter. “Tak ada paksaan dari siapa pun, apalagi ada yang bayar,” tuturnya.

Murniasih sadar perilakunya bakal menyita perhatian publik. Namun dia bukan penganut aliran narsisisme yang butuh perhatian publik atau mencari-cari popularitas murahan. Sudah dua tahun lebih keluarga kecil itu meninggalkan kampung halamannya di Banjar (dusun adat) Bucu, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Di Semarapura, mereka berusaha memperbaiki nasib. Murniasih keluar-masuk gang menjajakan bubur, sedangkan Eka Sucipta berkeliling kota menawarkan jasa sebagai tukang sol.

Dalam menentukan sikap politik, pasangan suami-istri itu memiliki pertimbangan yang sangat sederhana, tanpa harus memelajari visi dan misi kandidat, apalagi mengamati hasil survei tingkat elektabilitas. “Beliau baik, polos, dan kalem,” ujar Murniasih mengartikulasikan mimpinya tentang Jokowi sebagai pemimpin negara yang bersahaja.

Atas dasar itulah, dia menyatakan tidak ragu-ragu mencoblos pasangan nomor urut 2 yang dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Hati Nurani Rakyat, dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia pada pilpres 9 Juli lalu itu. “Mudah-mudahan Pak Jokowi nantinya tetap memperhatikan rakyat miskin,” kata Murniasih menitipkan pesan kepada calon Presiden 2014-2019 yang didukungnya sepenuh hati itu.

Semurni Hati Nurani
Harapan Murniasih dan keluarganya itu sangat sederhana, sesimpel keinginan “wong cilik” mendapatkan perhatian dari penguasa, tanpa disertai konspirasi ala “dagang sapi”. Rambut yang dicukurnya pun tak perlu ditukar dengan materi karena mahkota kaum Hawa itu memang tak ternilai harganya.

Mungkin hanya Murniasih satu-satunya wanita pendukung Jokowi yang melampiaskan kebahagian bersama suaminya itu dengan caranya sendiri yang “nyeleneh”.  Apalagi sebagai orang yang sangat awam politik, dia tidak menggabungkan diri dengan organisasi atau komunitas apa pun, termasuk kelompok relawan pendukung Jokowi.

Ulahnya pun bukan dipengaruhi oleh pendukung Jokowi-JK di Kuta dan Singaraja yang sama-sama punya nazar mengobarbankan rambutnya lebih dulu. Namun di kedua tempat itu pelakunya kaum Adam semua. Mereka memang mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk memenangkan Jokowi-JK selama proses pilpres berlangsung secara bertahap. Aksi itu mereka lakukan beberapa saat begitu perolehan suara Jokowi-JK mengungguli pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa versi hitung cepat delapan lembaga survei, Rabu (9/7).

Gundul massal itu hampir mirip dengan momentum Pilkada Provinsi Bali pada 15 Mei 2013. Saat itu kader dan simpatisan PDIP merayakan pesta setelah pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Bali, Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan, menang versi “quick count” dengan selisih kurang dari satu persen. Namun kegembiraan mereka tidak berlangsung lama karena hasil rekapitulasi suara mulai dari tingkat PPS, PPK, KPU kabupaten/kota, hingga KPU Provinsi Bali memenangkan pasangan Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta yang selisihnya hanya 996 suara.

Pilpres 2014 tentu berbeda dengan Pilkada Bali 2013. Berdasarkan rekapitulasi KPU Provinsi Bali, Jumat (18/7), Jokowi-JK meraih 1.535.110 suara atau 71,42 persen yang tersebar di sembilan kabupaten/kota. Sementara Prabowo-Hatta yang dicalonkan Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Amanat Nasional, Partai Golongan Karya, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Bulan Bintang, serta didukung oleh Partai Demokrat itu hanya mendapatkan 614.241 suara (28,58 persen) dari masyarakat Pulau Dewata.

Wayan Koster selaku Ketua Tim Pemenangan Jokowi-JK Provinsi Bali melarang para pendukung, simpatisan, dan relawan menggelar pesta kemenangan. “Kami sudah memberikan arahan dan instruksi agar tidak melakukan syukuran sampai selesainya proses dan tahapan rekapitulasi di KPU Pusat pada 22 Juli nanti,” kata Ketua DPC PDIP Kabupaten Klungkung yang bakal duduk di kursi DPR untuk periode ketiganya itu.

Koster menganggap pentingnya larangan itu untuk menghindarkan loyalis Jokowi dan simpatisan PDIP di Bali dari gesekan-gesekan dengan pendukung pasangan Prabowo-Hatta yang juga mengklaim kemenangan. Namun imbauan Koster yang instruktif itu tentu bukan untuk Murniasih yang sama sekali tidak terikat secara struktural dengan garis partai politik mana pun, termasuk parpol pimpinan Koster di Kabupaten Klungkung. Kenginan Murniasih tidak saja didasari kasih sayang kepada sang suami. Niat Murniasih semurni suara hati nurani. (*)

Peringatan Dini dari Nusa Penida

M. Irfan Ilmie

Hasil Pemilihan Presiden 2014 berdasarkan rekapitulasi suara oleh setiap panitia pemungutan suara (PPS) di Nusa Penida, Bali, Kamis (10/7), di luar dugaan. Perolehan suara Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, justru jeblok di pulau yang menjadi penyumbang suara terbanyak untuk Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada Pemilu Legislatif 9 April 2014 itu,

Prabowo selaku pendiri Gerindra yang menggandeng Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa hanya meraih 12.085 suara. Sementara rivalnya, Joko Widodo-Jusuf Kalla, mampu meraih simpati masyarakat Nusa Penida dengan mendapatkan 15.579 suara. Dalam pileg 9 April, Gerindra menjadi pemenang di gugusan pulau di sebelah tenggara daratan Bali itu dengan meraih 11.531 suara.

Perolehan suara Gerindra itu sekaligus menyingkirkan perolehan suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (8.944) dan Partai Hati Nurani Rakyat (4.261). Baru pada Pemilu 2014, PDIP yang selalu menjadi pemenang sejak 1999, harus mengakui keunggulan Gerindra. Gerindra juga menyumbang kursi terbanyak di DPRD Kabupaten Klungkung periode 2014-2019.

Keunggulan Gerindra dan keruntuhan PDIP itu sudah terbaca sebelum Pemilu 2014 digelar. Dua kader Gerindra asal Nusa Penida, Nyoman Suwirta dan Made Kasta, sukses menduduki kursi Bupati dan Wakil Bupati Klungkung periode 2013-2018 setelah mengalahkan kader PDIP, Partai Demokrat, dan Partai Golkar yang lebih dulu berkuasa.

Atas catatan kegemilangan itu pula Prabowo-Hatta menunjuk Suwirta-Kasta sebagai ketua dan sekretaris tim pemenangan untuk melanjutkan dua kesuksesan sebelumnya. Sayangnya, kegemilangan Gerindra dan keberhasilan Suwirta-Kasta tidak terulang pada pilpres. Prabowo-Hatta hanya menang di enam desa, yakni Tanglad, Sekartaji, Toyapakeh, Pejukutan, Bunga Mekar, dan Batukandik.

Sementara Jokowi-JK unggul di 10 desa di kepulauan itu, yakni Kutampi Kaler, Kutampi, Batununggul, Klumpu, Ped, Lembongan, Batumadeg, Jungut Batu, Sakti, dan Suana. “Meskipun daerah kepulauan, masyarakat kami sudah sangat cerdas dalam menentukan pilihan politik,” kata Gede Wicaksana, tokoh masyarakat Nusa Penida, Kamis. Masyarakat Nusa Penida yang jauh dari sentuhan kemajuan pembangunan lebih mengutamakan faktor realitas dibandingkan fanatisme sesaat.

Peringatan Dini
Boleh jadi, ucapan Gede Wicaksana itu peringatan diri bagi Suwirta-Kasta yang sudah hampir setahun duduk di kursi tampuk kepemimpinan Kabupaten Klungkung yang beribu kota Semarapura di daratan Bali itu. Posisinya yang terpisahkan oleh Selat Badung, menjadikan masyarakat yang mendiami gugusan pulau di Nusa Penida tidak seperti masyarakat di daratan Pulau Bali pada umumnya.

Kemiskinan dan pengangguran tidak pernah lepas dari deraan masyarakat di pulau yang berjarak sekitar 11 kilometer arah tenggara Pulau Bali itu. Kebutuhan pangan, utamanya beras, dan ketersediaan energi masih menjadi persoalan tersendiri karena sangat bergantung pada kondusivitas cuaca di perairan. Hanya perikanan, rumput laut, dan pariwisata yang menjadi penopang hidup mereka selama ini. Namun dalam beberapa bulan terakhir, nelayan ogah melaut karena gelombang dan angin yang mulai mengganas.

Begitu juga rumput laut sudah bukan menjadi komoditas andalan akibat serangan hama yang bertub-tubi. “Sudah hampir setahun hasil panennya buruk karena hama,” kata Nyoman Risna (41), warga Desa Jungut Batu.

Sektor pariwisata yang lebih banyak dikembangkan oleh investor asing tidak didukung oleh ketersediaan energi yang mencukupi. Sejumlah akomodasi pariwisata bertaraf internasional di Nusa Lembongan harus bersusah-payah untuk menciptakan suasana gemerlap di kepulauan itu karena beberapa kali terkena pemadaman bergilir.

Pemadaman bergilir itu tak bisa dielakkan karena salah satu mesin pembangkit milik PT Perusahaan Listrik Negara rusak, sedangkan dua mesin penggantinya berkapasitas 4,8 megawatt mengalami kendala pengiriman dari Pelabuhan Benoa, Denpasar.

Demikian pula dengan ketersediaan air bersih yang sedari dulu masyarakat Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan mengonsumsi air payau. “Kalau kawasan Pecatu (Kabupaten Badung) yang berbukit dan tandus saja bisa tersedia air dan listrik yang melimpah, kenapa di sini tidak? Di sini kontribusi sektor pariwisata juga sangat besar,” kata Gede Suryawan selaku Kepala Desa Jungut Batu, Kecamatan Nusa Penida.

Masyarakat Nusa Penida masih menyimpan harapan dan optimisme atas kepemimpinan duet Suwirta-Kasta di Kabupaten Klungkung hingga empat tahun ke depan. Namun bukan berarti sikap politik masyarakat Nusa Penida harus sama dengan dua pemimpin daerahnya yang berasal dari kepulauan itu. “Figur sangat menentukan. Masyarakat Nusa Penida punya satu keinginan untuk berubah tanpa bisa dipengaruhi siapa pun,” kata Gede Wicaksana, tokoh masyarakat Nusa Penida, menambahkan. (*)

Beda Kampung Jawa, Lain Pula Kampung Bugis

Oleh M. Irfan Ilmie

Dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Provinsi Bali tidak terbendung hingga empat kali penyelenggaraan pemilihan umum digelar sejak era reformasi. Meskipun perolehan suaranya tak sesignifikan Pemilu 1999 dan Pemilu 2004, PDIP masih menjadi partai politik yang mendapatkan kursi terbanyak, yakni 24 dari 55 kursi di DPRD Provinsi Bali periode 2014-2019 sebagaimana hasil pemilu legislatif 9 April lalu.

Pada Pilpres 2014, partai politik berlambang kepala banteng gemuk dalam lingkaran yang mencalonkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla melalui koalisi dengan Partai Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Hati Nurani Rakyat, dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.

Berdasarkan rekapitulasi suara sementara, pasangan nomor urut 2 itu di Bali mengungguli pasangan nomor urut 1 Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang diusung Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Amanat Nasional, Partai Golongan Karya, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Bulan Bintang serta didukung oleh Partai Demokrat.

Terlepas dari keunggulan sementara Jokowi-JK di Bali ada fenomena menarik yang terjadi di tengah-tengah komunitas muslim dalam perhelatan politik lima tahunan itu. Di pulau yang berpenduduk mayoritas beragama Hindu itu terdapat sejumlah komunitas muslim. Di Kota Denpasar saja ada Kampung Jawa  yang berada di lingkungan Desa Adat Wanasari, Kampung Bugis (Serangan), dan Kepaon (Pamogan).

Kampung Jawa dan Kepaon lebih banyak dihuni oleh muslim pendatang dari Pulau Jawa dan Pulau Madura, sedangkan umat Islam yang mendiami Kampung Bugis bernenek moyang yang berasal dari Makassar. Komunitas muslim dari beragam etnis itu secara turun-temurun mendiami lahan yang dihibahkan oleh Raja Pemecutan, salah satu kerajaan terbesar di Bali sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun silam.

Pada Pilpres 2014, Rabu (9/7), pasangan Prabowo-Hatta berjaya di Kampung Jawa. Dari empat tempat pemungutan suara yang ada, pasangan nomor urut 1 tersebut meraih suara mayoritas di tiga TPS. Di TPS 15 Prabowo-Hatta meraih 167 suara, sedangkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan nomor urut 2 memperoleh 121 suara.

Lalu di TPS 16 Prabowo-Hatta mendapatkan 182 suara, sedangkan Jokowi-JK dengan 124 suara. Kemudian di TPS 18 Prabowo-Hatta meraih 236 suara, sedangkan Jokowi-JK hanya 122 suara. Hanya di TPS 17, Prabowo-Hatta harus mengakui keunggulan Jokowi-JK meskipun terpaut tiga suara, yakni 115 melawan 118.

Kemenangan Prabowo-Hatta di Kampung Jawa tidak bisa dilepaskan dari peran serta PKS yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih itu. Pada pemilu legislatif 9 April 2014, PKS meraih suara terbanyak di Kampung Jawa. Bahkan seorang caleg PKS meraih 2.000 suara di permukiman padat penduduk di tengah-tengah Kota Denpasar itu. “Dulu perolehan suara saya mencapai angka 2.000. Sekarang saya tidak berani menargetkan angka itu untuk kemenangan Prabowo-Hatta,” kata Umar Dhani, caleg terpilih PKS untuk DPRD Kota Denpasar periode 2014-2019.

Dalam pilpres kali ini, dia berpikir realistis. “Pendukung Jokowi di sini juga banyak. Sangat tidak mungkin Prabowo menang telak,” ujarnya di sela-sela kesibukannya berkeliling TPS di Kampung Jawa untuk mencatat perolehan suara kedua pasangan calon, Rabu (9/7). Namun bukan berarti caleg yang berasal dari Kampung Jawa itu tinggal diam. “Kami tetap bekerja dengan harapan suara pasangan yang didukung partai kami mendapatkan suara sebanyak-banyaknya,” kata Umar Dhani menampik tudingan mesin politik Prabowo tidak bekerja maksimal.

 

Ikatan Emosional

Lain halnya di Kampung Bagus yang justru dimenangkan oleh pasangan Jokowi-JK. Permukiman kecil di tengah-tengah Pulau Serangan yang dihuni sekitar 350 jiwa umat Islam itu memiliki TPS tersendiri. “Kalau pileg kemarin, warga kami memilih di beberapa TPS. Sekarang kami punya TPS tersendiri,” kata Ketua KPPS TPS 7 Kelurahan Serangan, Muhadi.

TPS 7 Kelurahan Serangan khusus diperuntukkan bagi 256 umat Islam yang tinggal di Kampung Bugis. Di TPS itu pasangan Prabowo-Hatta hanya meraih 92 suara, terpaut jauh di bawah perolehan suara Jokowi-JK yang mencapai 135 suara. “Pileg kemarin kami tidak bisa memastikan ke partai mana suara warga Kampung Bugis diberikan karena mereka memilih di beberapa TPS,” ujar Muhadi.

Namun jika melihat Pilkada Provinsi Bali 2013, suara masyarakat Kampung Bugis diberikan kepada pasangan Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan dari PDIP yang dikalahkan oleh pasangan Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta dari Demokrat dan Golkar itu, bisa menjadi salah satu keterkaitan kemenangan Jokowi-JK. Akan tetapi, dukungan tersebut juga tak lepas dari ikatan emosional dan historis karena Jusuf Kalla dari daerah asal nenek moyang mereka. (*)

Skandal Asmara di Pulau Cinta

Oleh M. Irfan Ilmie

Bali punya julukan baru selain Pulau Surga, Pulau Dewata, dan Pulau Seribu Pura setelah bintang fim Hollywood Julia Roberts menjalani proses pengambilan gambar film berjudul “Eat, Pray, and Love” karya Elizabeth Gilbert. Roberts yang berperan sebagai Elizabeth Gilbert, sang penulis novel sesuai judul film itu, menemukan cintanya kembali di Bali, setelah melanglang buana ke Italia dan India untuk menghapus jejak asmara masa lalunya.

Film yang pengambilan gambarnya dilakukan di Ubud, Kabupaten Gianyar, dan Pantai Padang-Padang, Kabupaten Badung, pada 2010 itu sukses menjadikan Bali sebagai ikon Pulau Cinta. Begitu dahsyatnya julukan itu sampai-sampai selebriti dan kaum sosialita lainnya ramai-ramai merayakan pernikahannya di Bali. Bahkan pasangan artis Tiongkok Yang Mi dan Hawick Lau mengakhiri masa lajangnya di pulau yang banyak memiliki keindahan panorama alamnya itu.

“Betapa melalui film itu memang daerah kita menjadi tempat untuk menemukan cinta sejati. Bali itu pulau penuh cinta,” demikian Gubernur Bali Made Mangku Pastika setiap kali memperkenalkan julukan baru untuk daerahnya. Ikon Pulau Cinta itu selaras dengan konsep Tri Hita Karana sebagai falsafah hidup orang Bali mengenai trilogi hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Namun masyarakat Pulau Bali terhenyak mana kala mendengar kabar bahwa kasus mutilasi di Kabupaten Klungkung dilandasi oleh jalinan asmara.  Sejak pertama kali ditemukan bungkusan plastik warna hitam berisi kepala manusia dalam kondisi tidak utuh di pinggir Jalan Bukit Jambul, Kabupaten Klungkung, Selasa (17/6), masyarakat heboh.

Keresahan makin terasa ketika ditemukan lagi bungkusan berisi beberapa potongan kaki dan lengan manusia yang berjarak sekitar 400 meter dari lokasi penemuan kepala. Tidak saja lokasi penemuan potongan tubuh manusia di wilayah perbatasan Kabupaten Klungkung-Kabupaten Karangasem, RSUP Sanglah, Denpasar, pun didatangi masyarakat yang ingin mengetahui identitas korban.

Tercatat tiga orang asal Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Karangasem yang merasa kehilangan keluarga menyediakan diri untuk diperiksa DNA-nya guna dicocokkan dengan DNA mayat yang sampai Rabu (18/6) pagi belum diketahui identitas dan jenis kelaminnya itu.

Beberapa jam kemudian rumah sakit rujukan terbesar di Bali itu memastikan korban mutilasi berjenis kelamin perempuan berusia 20-40 tahun dengan tinggi badan 120-150 centimeter. “Jika dilihat dari kulit dan gigi yang terawat, besar kemungkinan korban dari kelas menengah,” kata Kepala Laboratorium Forensik RSUP Sanglah, dr Dudut Rustyadi, untuk menepis anggapan bahwa korban seorang gelandangan.

Walau begitu, misteri tersebut belum tersingkap. Wakil Kepala Kepolisian Daerah Bali Brigadir Jenderal I Gusti Ngurah Raharja Subyaktha harus turun langsung ke lapangan memimpin operasi penyelidikan kasus itu. Operasi itu terkesan sangat istimewa karena melibatkan ratusan personel dari Polres Klungkung, Polres Karangasem, dan Polres Bangli. “Ini termasuk kejahatan luar biasa sehingga perlu perhatian khusus. Pelaku berbuat kejahatan dengan tingkat kesadisan tinggi,” ujarnya saat memimpin penelusuran jejak mutilasi di Mapolres Klungkung di Semarapura, Rabu (18/6).

Asmara Berujung Tragis

Kerja keras polisi yang tak kenal kata menyerah selama sepekan akhirnya membuahkan hasil setelah pelaku bernama Fikri (26) tertangkap selepas makan malam di Jalan Dharmawangsa, Semarapura, Minggu (22/6) pukul 19.30 Wita. Sampai saat ini pelaku masih menjalani perawatan secara intensif di Mapolres Klungkung. Namun dari hasil pemeriksaan sementara menyebutkan bahwa pelaku yang sehari-hari bekerja sebagai sopir di Pengadilan Agama Kabupaten Klungkung itu terbakar api asmara yang mendorongnya berbuat sadis terhadap orang yang pernah dicintainya itu. “Antara korban dan pelaku memang punya hubungan asmara,” kata Kepala Polda Bali Inspektur Jenderal Benny Mokalu saat memberikan keterangan pers di Mapolres Klungkung, Senin (23/6).

Sejauh mana hubungan asmara yang melatarbelakangi tragedi itu, sampai sekarang polisi masih melakukan penyelidikan dan penyidikan secara intensif dengan meminta keterangan pelaku dan saksi-saksi serta mengumpulkan barang bukti. “Pengakuan pelaku berubah-ubah. Masih kami dalami terus,” kata Kepala Polres Klungkung Ajun Komisaris Besar Ni Wayan Sri Yudatni Wirawati menanggapi pertanyaan wartawan mengenai intensitas hubungan pelaku dan korban.

Saat melakukan perbuatan sadis, pelaku masih berstatus suami sah dari seorang perempuan asal Klungkung yang memberinya seorang anak berusia tiga tahun. Sementara korban, Diana Sari, berstatus janda beranak satu. Keduanya sama-sama berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pelaku baru 1,5 bulan tinggal di Bali karena memang istrinya berasal dari Klungkung.

Sebelum bekerja sebagai tenaga honorer di PA Kabupaten Klungkung, Fikri yang akrab disapa Eki itu mengabdi di kantor Muhammadiyah di Sumbawa selama empat tahun. Diana yang akrab disapa Nana baru sebulan menempati rumah kos di Jalan Kenyeri IX, Semarapura, atas bantuan Eki sebagai kekasih gelapnya. “Yang menyewa kos memang Fikri,” kata Wayan Netra pemilik rumah kos yang dijadikan tempat oleh pelaku untuk memotong anggota tubuh pacar gelapnya itu.

Pada saat mutilasi itu terjadi Senin (16/6), Wayan Netra sempat menelepon Eki untuk menanyakan kepastian perpanjangan sewa rumah kos bertarif Rp425 ribu per bulan itu. “Saat itu dia menjawab, akan memberikan kepastian keesokan harinya,” ujarnya.

Korban sendiri dikenal ramah dan pandai bergaul. “Banyak tamu pria datang ke kosnya Nana. Mereka ganteng-ganteng. Maklum Nana memang cantik,” tutut Wayan Murka (60) yang tinggal berhadapan dengan rumah kos yang ditempati korban. Namun Wayan Netra dan Wayan Murka tidak tahu persis mengenai kemungkinan korban dalam kondisi hamil, mengingat beredar informasi bahwa di antara potongan tubuh yang ditemukan terdapat janin. “Tahunya dia janda asal Sumbawa beranak satu,” kata Wayan Murka.

Jalinan asmara berujung maut bukan kali ini saja terjadi. Pada bulan yang sama, pasangan selingkuh juga berniat mengakhiri hidup dengan cara menceburkan diri ke sungai di Jalan Gatot Subroto Timur, Denpasar, berboncengan menggunakan sepeda motor Yamaha Mio nomor polisi AE-5795-VH.

Niat bunuh diri yang terjadi, Selasa (3/6), itu berasal dari Jaelani (31), warga Madiun, Jawa Timur, setelah hubungan gelapnya dengan Nur Imamah (29) asal Jember, Jatim, terbongkar oleh pasangan sahnya masing-masing. Motor yang dikendarainya secara tiba-tiba dibelokkan ke tebing sungai sebelum melintasi jembatan Trenggana di Jalan Gatot Subroto Barat. Jaelani tewas setelah satu jam menjalani perawatan di RSUP Sanglah akibat luka parah dan tubuhnya kemasukan air sungai, sedangkan Nur Imamah hanya mengalami luka lecet. Keduanya sama-sama memiliki pendamping hidup dan tinggal berdekatan di bilangan Jalan Teuku Umar, Denpasar. *

Janggan Harvesting The Wind, Visualisasi Kebanggaan “Rare Angon”

Oleh M. Irfan Ilmie

Layang-layang bukan sekadar ornamen di hamparan birunya langit Pulau Bali pada musim kemarau seperti sekarang, melainkan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat setempat.

Sebagian anak muda di 1a0d265db8ef0434c0b22f2ff0576c0cBali mencoba mengaktualisasikan fenomena budaya yang terancam punah itu. Layang-layang yang biasa mengawang, diangkatnya ke layar lebar melalui film dokumenter berjudul “Janggan Harvesting The Wind”.

Pemutaran film perdananya bertepatan dengan umat Hindu merayakan Umanis Galungan, Kamis (22/5). Hal itu pula yang menyebabkan tiga ruang pertunjukan di Denpasar Cineplex penuh oleh penonton, baik tua maupun muda, berbaur tanpa membedakan warna kulit dan latar belakang suku bangsa. Film berdurasi satu jam 18 menit itu bercerita tentang perjalanan Janggan sebagai salah satu jenis layang-layang tradisional sejak dulu kala.

Kisah dalam film tersebut dibuka oleh rasa penasaran Petra Moerbeek, mahasiswi asal Belanda, atas foto layang-layang Janggan pada tahun 1918. Foto itu dia dapatkan dari leluhurnya di Amsterdam, Belanda, yang pernah bertugas di Indonesia saat masa penjajahan.

Berbekal foto tersebut, Petra menjejakkan kakinya ke Bali. Dari pelayan hotel tempatnya menginap di kawasan Sanur, Denpasar, Petra mendapatkan nomor kontak Anak Agung Yoka Sara, produser film dokumenter tersebut yang juga “rare angon” atau penggemar layang-layang.

Petra tidak hanya menemui sekelompok anak muda yang gemar bermain layang-layang, tetapi juga mendengarkan cerita para sesepuh dari Puri Gerenceng, Banjar Abian Timbul, dan tokoh-tokoh dusun adat di Bali sebagai peletak dasar tradisi permainan tersebut.

Bahkan, mahasiswi berusia 19 tahun yang fasih berbahasa Indonesia itu terlibat langsung membantu anggota “sekaa” (kumpulan anak muda) merancang dan membangun Janggan, termasuk ritual-ritual keagamaan, baik sebelum maupun setelah festival layang-layang digelar di Pantai Padanggalak, Denpasar, digambarkan secara apik dalam film garapan sutradara Erick Est tersebut. “Film ini memotret sejarah Janggan sejak 1918 hingga 2012. Selama masa itu, Janggan tidak hanya menghiasi langit Bali tiap musim layangan tiba, tetapi juga adu gengsi antar-`sekaa rare angon`,” kata Yoka Sara.

Menurut dia, sejarah tersebut tidak hanya direpresentasikan oleh warna-warni ekor Janggan yang panjangnya mencapai 240 meter, tetapi juga melalui pencarian jejak falsafah di balik fenomena tradisi masyarakat Pulau Dewata. Film yang pembuatannya dimulai pada bulan September 2012 hingga Oktober 2013 merefleksikan layang-layang sebagai bagian dari budaya masyarakat Bali berikut perbedaan pembuatan, bahan, dan hal-hal yang terkait lainnya.

“Hingga saat ini belum ada satu pun media, baik visual maupun tekstual, yang telah mendokumentasikan proses di balik megahnya Janggan. Akibatnya, tidak banyak pula generasi muda yang tahu proses di balik pembuatan Janggan, kecuali penyampaian secara lisan secara turun-temurun,” ujar Yoka Sara.

Menatap Cannes
Secara umum film yang bakal diikutsertakan dalam Festival Film Cannes, Prancis, mampu memberikan gambaran secara visual mengenai seluk-beluk pembuatan layang-layang raksasa itu yang sudah menjadi bagian ritual dan budaya masyarakat Bali.

Namun sayang, film tersebut kurang memberikan tempat kepada sebagian masyarakat yang kontra atau terusik oleh layang-layang. Apalagi, festival tahunan di Padanggalak telah menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Peristiwa tewasnya seorang bocah akibat tertimpa Janggan saat asyik menonton Festival Layang-Layang di Pantai Padanggalak pada tanggal 15 Juli 2012 hanya digambarkan melalui potongan-potongan berita di media “online”.

Film itu juga masih menonjolkan arogansi anggota “sekaa rare angon” saat berkonvoi di jalan raya sambil mengusung layang-layang yang lebarnya melebihi bak truk, sedangkan pengguna jalan lainnya pasrah di tengah kemacetan arus lalu lintas.

Dari segi pengambilan gambar, film tersebut juga terkesan membosankan karena keterangan narasumber lebih mendominasi ketimbang figur layang-layang yang menjadi kebanggaan masyarakat dusun adat. Masyarakat luas tentu ingin mengetahui detail pembuatan badan layang-layang, “tapel” (kepala dan hiasan), dan “buntut” (ekor) yang dikerjakan secara terpisah oleh beberapa ahli.

Selain itu, gambar narasumber sering kali terpotong, terutama pada bagian kepala, termasuk wajah Petra sebagai tokoh utama dalam film tersebut juga sering kali tidak utuh. Padahal, eksotisme Petra sebagai warga negara Belanda keturunan pribumi layak ditampilkan secara utuh. Begitu pula, latar belakang ketertarikannya pada layang-layang sebagai permainan tradisional yang tertelan modernitas teknologi.

Walau begitu, film karya sineas lokal Bali yang pertama itu layak diapresiasi. “Film ini bisa meningkatkan motivasi generasi muda dalam mendokumentasikan ekspresi kebudayaan khas Bali yang mengandung banyak nilai sejarah, budaya, dan spiritual. Film ini bisa menjadi media informasi dunia luar akan beragamnya budaya Bali,” kata Wakil Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara sebelum menonton bareng “Janggan Harvesting The Wind” itu.

Film yang narasinya diisi oleh Sandrina Malakiano itu juga memberikan pesan tentang gotong royong dan semangat pantang menyerah layaknya Janggan yang tangguh menghadapi tiupan angin di atas langit. “Kuasa matahari menjadi kawan, bukan lagi lawan yang mampu menyilaukan mata mereka,” komentarnya mengenai heroisme “Rare Angon”. (*)