Ingin Tahu Penggugah Sahur di Taiwan?

M. Irfan Ilmie

Tengah malam di atas ketinggian 250 meter dari permukaan laut, udara terasa sangat menggerahkan. Sesaat rinai hujan yang menyinggahi wilayah perbukitan pada sore hari menghapus dahaga bumi.
Pada musim panas dengan suhu udara rata-rata 35 derajat Celcius membuat penduduk Taiwan tak betah lama-lama berada di dalam rumah. Bagi mereka musim panas identik dengan liburan seiring dengan berakhirnya program pendidikan.

Tempat-tempat pelesiran, baik pantai maupun pergunungan, pada akhir pekan selalu dipadati orang. Penduduk Taiwan gemar melakukan aktivitas pelesiran di ruang terbuka. Oleh sebab itu, pemerintah Taiwan menyediakan ruang terbuka dalam bilangan tidak terbatas, meskipun dataran rendah di Pulau Formosa itu hanya 30 persen karena selebihnya bukit berbatu.

Yilan County merupakan salah satu kabupaten di Taiwan yang menjadi tujuan utama wisatawan, baik domestik maupun asing. Selain memiliki beberapa pantai karena lokasinya berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik yang membentang luas memisahkan tiga benua, Yilan juga punya wilayah perbukitan dengan beragam jenis tanaman.

Mudahnya akses transportasi dari Ibu Kota Taiwan di Taipei yang berjarak sekitar 60 kilometer juga menjadikan Yilan sebagai salah satu destinasi wisata favorit. Apalagi untuk menuju Yilan, ada banyak pilihan moda transportasi. Penumpang bus atau kendaraan bermotor lainnya akan mendapatkan pengalaman menerobos Snow Montain sepanjang 12,9 kilometer sebagai terowongan terpanjang kedua di Asia.

Bagi pengguna kereta api juga tidak perlu kecewa karena mata akan dimanjakan oleh deburan ombak Samudera Pasifik yang melambai-lambai di sisi timur. Belum lagi pemandangan khas perbukitan yang hijau di sisi barat.

Syahdan, perjalanan ke Yilan bagaikan menyusuri dua alam sekaligus, perbukitan dan pantai, dengan nuansa kenyamanan tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Morning Call
Jarum jam masih menunjuk angka 3, namun “morning call” sudah berdering. Tidak biasanya memang, “morning call” sedini itu. Namun sangat berarti bagi umat Islam yang menjalani puasa pada esok harinya.

Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu dari pramusaji. Sebakul nasi, tiga butir telur rebus, sepiring kacang goreng kupas ditambah oseng-oseng terung yang tertata rapi di di atas meja terasa lebih dari cukup untuk santap sahur.

“Morning call” itulah yang disediakan pihak Shangrila Leisure Farm Hotel untuk membangunkan tamunya yang menjalani ibadah puasa pada esok harinya.

Pihak hotel sadar bahwa di Taiwan yang mayoritas penduduknya bukan muslim tidak akan terdengar suara azan atau tarhim penggugah sahur. “Oleh sebab itu, kami menyiagakan staf untuk membangunkan tamu kami yang hendak makan sahur agar bisa tetap puasa pada saat liburan di sini,” kata Chang Ping, IT Deputy Shangrila Leisure Farm Hotel, di Yilan, Jumat (26/6).

Makanan yang disajikan pun dijamin kehalalannya. “Umat Islam tidak perlu ragu dengan makanan kami,” ujarnya seraya menunjukkan sertifikat halal yang dikeluarkan Asosiasi China Muslim (CMA) Taiwan yang terpasang di dinding restoran hotel tersebut.

Karena sudah mendapat supervisi dari CMA, maka wadah dan tempat makan khusus untuk tamu yang beragama Islam pun berbeda dengan yang lain. Bahkan untuk memudahkan tamu beragama Islam, pihaknya memasang tanda petunjuk kiblat di setiap kamar hotel, berikut dengan jadwal dan perangkat alat shalat.

“Bagi tamu yang bukan beragama Islam memang terasa aneh, tapi kami tidak segan-segan memberikan penjelasan,” ujarnya mengenai petunjuk arah yang terbuat dari kayu berukiran aksara Arab di plafon kamar.

Selain di Shangrila Leisure Farm Hotel, hal yang sama juga terdapat di Shangrila Boutique Hotel. Boleh jadi, kedua hotel yang dibangun oleh Chang Ching Lai, seorang petani sukses di perbukitan Yilan, itu merupakan satu-satunya jaringan hotel berbasis syariah di Taiwan.

Keluarga besar Chang Ching Lai bukanlah pemeluk agama Islam, apalagi belajar tentang Islam. Ia menganggap semua agama mengajarkan kebaikan. “Bukan karena sekarang bulan puasa, lantas kami memberikan pelayanan khusus kepada umat Islam,” ujar Ping, anak kedua Ching Lai, yang bertanggung jawab atas operasional Shangrila Leisure Farm Hotel.

Ching Lai merintis usaha perhotelan sejak 14 tahun yang lalu. Namun baru empat tahun terakhir dia mengembangkan hotel tersebut berbasis syariah. “Kami merasa perlu memberikan perhatian kepada tamu-tamu kami yang beragama Islam dengan memudahkan mereka beribadah dan membantu menyediakan makanan yang benar-benar sesuai dengan ajaran mereka,” kata Ping.

Upaya yang dilalukan itu justru memperluas segmentasi hotel tersebut karena bukan semata menawarkan sensasi pelesiran, melainkan juga menghapus keraguan tamu muslim akan kehalalan makanan yang disajikan.

“Apalagi sekarang ini setiap hari ada penerbangan langsung dari Dubai ke Taipei. Peluang ini perlu kami manfaatkan,” ujar sarjana teknologi informatika dari salah satu perguruan tinggi di Taiwan itu.

Shangrila Boutique Hotel yang berlokasi di No 15 Gongyuan II Road, Wuchen Township, Yilan County, terdapat 72 kamar. Hotel tersebut juga dilengkapi kapel untuk pesta pernikahan bagi umat Nasrani.
Sementara Shangrila Leisure Farm Hotel yang ada di atas perbukitan Yilan tepatnya di No 168, Meishan Road, Dahjin, Dongshan, terdapat 100 kamar.

Hotel tersebut berada di tengah-tengah kebun raya yang dikembangkan oleh Ching Lai sejak puluhan tahun lalu. Mata pengunjung akan dimanjakan oleh pemandangan hijau dan menyegarkan dengan aneka ragam tanaman yang terbentang di atas lahan seluas 150 ribu meter persegi.

Dari gazebu di atas puncak perbukitan, pengunjung juga bisa menatap langsung lembah Yilan.
Pada malam harinya, setiap pengunjung mendapat kesempatan mengikuti pesta kembang api, aneka jenis permainan tradisional, dan menerbangkan lampion. (*)

Berkah Imlek Bagi Umat Islam di Taiwan

M. Irfan Ilmie
Dinginnya lantai pualam tak membuat ratusan pekerja asal Indonesia beranjak. Mereka tenggelam dalam canda dan tawa khas dengan konfigurasi lesehan.
Mereka juga tidak sedang mengantre tiket. Apalagi stasiun kereta api yang berada di pusat Kota Taipei itu bukanlah masjid atau balai RW di tengah permukiman. Stasiun yang dibangun pada 1891 bersamaan dengan dibukanya jalur kareta api dari Taipei menuju Keelung itu bukanlah sekadar tempat pemberhentian kereta dan naik-turunnya penumpang.
Gedung yang dari ke waktu dimodernisasi namun tetap mempertahankan arsitektur aslinya bernuansa kekaisaran China kuno itu bagaikan surga bagi para pekerja asal Indonesia di Taiwan pada hari libur.
Di fasilitas publik yang mudah dijangkau dari berbagai penjuru daerah di Taiwan itu terdapat beberapa mal, baik yang berdiri sendiri di sekitarnya maupun di lantai bawah tanah stasiun yang mampu menampung 600 ribu orang itu. Berbagai jenis barang kebutuhan dijual dengan harga terjangkau.
Hal yang penting bagi mereka pada hari libur adalah bertemu teman atau kerabat senasib dan seperjuangan di negeri kepulauan nan elok di hamparan lautan Pasifik itu. Mereka “melantai” dari pagi hingga sore dengan diselingi makan dan minum. Kalau pun capek duduk bersila berjam-jam, badan tinggal direbahkan. Syal yang melilit di leher untuk menghalau udara dingin pun berubah fungsi menjadi alas badan.
Saat jarum jam kuno di atas deretan loket menunjuk angka 9 malam, satu-persatu di antara mereka mulai meninggalkan “hall”. Menuruni tangga tiga lantai menuju “platform” guna menunggu kereta yang akan membawa mereka kembali ke tempat kerja.
Itulah suasana akhir pekan dan hari libur, khususnya bagi para pekerja asal Indonesia, di “Taipei Main Station” sebagai sebuah sistem “hub” yang memadukan berbagai moda transportasi, seperti kereta api reguler, kereta cepat, kereta bawah tanah (MRT), bus kota, bus antarkota, dan taksi.
Bilik Disulap Jadi Mushala
Musim dingin masih belum berlalu. Namun nuansa Imlek sudah terasa. Karakter China bertuliskan “Zhong Guo Xin Nian Kuaile” (Selamat Tahun Baru China) sudah bertebaran di setiap sudut kota.
Pada sore hari, sebagian warga sudah mengeluarkan aneka bentuk “sesajian” di depan rumah loteng. Letusan petasan dan sulutan kembang api memecah gelapnya langit malam seakan menyampaikan pesan “tahun baru segera tiba” (Xin Nian Kuaile). Pernak-pernik bernuansa merah menyala dan kuning emas memadati lapak-lapak para pedagang pasar malam yang menjamur di berbagai sudut Kota Taipei.
Para pekerja asal Indonesia pun tak kalah suka citanya. Mereka berdebar-debar menunggu “angpao” dari sang majikan (laoban) dengan jumlah bervariasi. Ada yang isi “angpao”-nya setara satu kali gaji, tetapi tidak sedikit yang alakadarnya. Ada juga yang dalam bentuk penghargaan tahunan melalui penilaian kinerja atau undian dengan jumlah fantastis, bisa mencapai 400 ribu NT (sekitar Rp160 juta) seperti ramai dibicarakan di media sosial para pekerja beberapa hari yang lalu.
Namun, bagi pekerja asal Indonesia ada yang lebih berharga daripada sekadar “angpao laoban”. Mereka, khususnya yang beragama Islam seakan mendapatkan berkah menjelang Imlek.
Tanpa disadari, keberadaan mereka yang memanfaatkan TMS untuk berlindung dari cuaca dingin dan hujan, mendapatkan perhatian serius dari pemerintah Taiwan. Pihak pengelola TMS, merelakan satu bilik tempat peristirahatan para pegawai Taiwan Railway Administration (TRA).
Bilik yang mampu menampung enam sampai delapan orang di Blok B-1 itu disulapnya menjadi tempat beribadah bagi umat Islam. Lokasinya pun mudah dituju. Begitu turun dari kereta api di “platform” Blok B-2, naik satu lantai menuju “locker room”. Di pojok ruang loker dekat loket pembelian tiket itulah mushala tersebut berada, pintunya pun mengarah ke areal parkir kendaraan bermotor.
“Ini berkah Imlek,” kata Agus Susanto dari Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI-NU) Taiwan beberapa saat setelah mendapatkan kepercayaan sebagai penjaga mushala dari Master of TMS Hsin-Li Chien, Minggu (1/2).
Chien secara khusus memanggil jajaran PCI-NU Taiwan untuk menjaga mushala tersebut setiap akhir pekan. “Tolong bantu kami, jaga dan rawat tempat itu,” pesannya. Pihaknya juga sedang menyiapkan biaya pemeliharaan dan kebersihan mushala tersebut. “Kalau ada masalah keamanan segera hubungi kami,” ucapnya kepada Agus yang saat itu didampingi Ketua PC Fatayat Taiwan Tarnia Tari.
Kepada Chien, Agus dan Tari menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian pemerintah Taiwan terhadap umat Islam dalam menjalankan ibadah shalat. “Saya berharap, mushala ini bisa dimanfaatkan seterusnya oleh umat Islam. Tidak hanya selama kepemimpinan Bapak saja,” pinta Tari yang langsung diiyakan oleh Chien.
Chien lalu bercerita mengenai ide mulianya itu. “Mulanya ada teman saya dari Indonesia yang datang ke mari. Dia merasa kesulitan saat beribadah,” ujarnya.
Kesadaran Tergugah
“Betapa setiap akhir pekan banyak orang Indonesia datang ke mari. Pasti mereka kesulitan kalau mau sembahyang,” tuturnya.
Setelah berpikir selama beberapa hari. Akhirnya Chien mendapatkan ide bahwa ruang istirahat pegawai itu dirombaknya agar bisa dimanfaatkan umat Islam. “Kami pun tahu, bahwa pekerja asal Indonesia sering menggelar kegiatan keagamaan di sini. Bahkan, mereka juga sembahyang di halaman kami,” ujarnya menambahkan.
Sederhana, namun apa yang dilakukan Chien mampu membuka cakrawala berpikir positif masyarakat Taiwan terhadap umat Islam. Setidaknya, dalam sehari itu Chien dan Agus sibuk melayani wawancara puluhan awak media di Taiwan, baik televisi, online, maupun cetak, berkenaan dengan pembukaan mushala.
Sementara itu, Kamal Cheng, mahasiswa Jurusan Sastra dan Budaya Arab “National Taiwan Chengchi University” Taipei, menganggap biasa-biasa saja keberadaan mushala tersebut.
“Memang sudah seharusnya pemerintah Taiwan menyediakan tempat beribadah bagi umat Islam. Apalagi TMS itu setiap akhir pekan dipadati orang Indonesia yang mayoritas beragama Islam,” ujarnya.
Justru dia menilai langkah tersebut terlambat karena di Bandara Internasional Taoyuan sudah ada mushola sejak lama. “Bagi kami itu bukan apresiasi, melainkan sesuatu kewajaran yang seharusnya sejak lama ada,” kata Kamal.
Apresiasi atau apa pun bentuk perhatian bukanlah esensi dari keberadaan mushala tersebut karena yang lebih penting adalah bagaimana menjaga amanat yang diberikan oleh pemerintah Taiwan, dalam hal ini pengelola TMS.
Perwakilan pemerintah Indonesia di Taiwan juga mengingatkan pentingnya menjaga amanat tersebut. “Amanat itu harus dijalankan dengan baik dan sungguh-sungguh,” kata Wakil Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Harsono Aris Yuwono.
Bukan kali ini saja NU mendapatkan kepercayaan mengelola mushala di negeri yang sama sekali tidak mengatur persoalan keberagamaan tersebut. Beberapa pengurus NU sudah lama terlibat dalam meramaikan Masjid Taichung. Bahkan, PCI-NU Taiwan pernah juga berkantor di masjid Jalan Xinhai, Taipei.
Masjid Attaqwa di Taoyuan dan Masjid Annur di Donggang, Pintung County, juga dirintis oleh kader-kader nahdliyin. Mereka rela berkorban demi terwujudnya impian membangun “rumah Allah” di Bumi Formosa.
Dengan adanya mushala baru di TMS, seakan menambah alternatif pilihan bagi umat Islam di Taiwan dalam menjalankan rukun Islam kedua itu selain Masjid Agung Taipei di Daan Park dan masjid di Jalan Xinhai.
Banyaknya masjid yang dikelola nahdliyin di Taiwan itu bukan sesuatu yang mengherankan karena dari 223 ribu jumlah pekerja asal Indonesia, sekitar 70 persen adalah kaum “sarungan” dan “kudungan”.
Bahkan, di antara mereka tidak sedikit pula yang pintar mengaji dan berdakwah. NU di Taiwan bukanlah sekadar wadah berorganisasi dan tempat pengajian semata, melainkan sudah menjadi sarana mengenalkan identitas Islam keindonesiaan yang santun dan merahmati semesta karena masjid dan mushola itu tidak dikhususkan bagi warga negara Indonesia saja. (*)

Imlek ala Nelayan Indonesia

M. Irfan Ilmie

Bagi sebagian besar masyarakat Taiwan, Imlek bukan sekadar tahun baru menurut penanggalan mereka, melainkan juga penanda pergantian musim, dari musim dingin ke musim semi.

Namun, sepertinya tahun ini agak berbeda. Orang-orang yang lalu-lalang di Magong masih pantas mengenakan jaket tebal karena teriknya sinar matahari belum sepenuhnya mampu mengusir hawa dingin.

Bedanya, untuk kaum perempuan sudah tidak lagi memakai bot seperti beberapa hari sebelumnya saat suhu udara di sebagian besar wilayah negara kepulauan itu yang rata-rata berkisar pada angka 10–15 derajat Celsius.

Akses jalan menuju luar Kota Magong siang itu terbilang lengang. Berbeda dengan situasi jalan raya di dalam kota yang dijejali pejalan kaki karena telah beralih fungsi menjadi pasar kaget yang menjual berbagai macam kebutuhan Imlek, buah-buahan, makanan khas Penghu, dan arena adu ketangkasan berhadiah langsung.

Demikian pula dengan warga negara Indonesia di Ibu Kota Pulau Penghu itu, juga tidak mau ketinggalan dengan momentum tahunan tersebut.

Mereka yang kebanyakan menggantungkan hidupnya di perairan Selat Taiwan hingga Samudra Pasifik itu turut meramaikan suasana Imlek 2015, Kamis (19/2).

Ada yang berkumpul di warung Johny yang khusus menjual penganan khas Nusantara. Ada juga yang duduk-duduk di halte atau tempat keramaian lainnya untuk mengisi jeda melaut.

Sebagian lain berkerumun di tempat pelelengan ikan yang pada siang itu berbeda dari hari-hari biasa. Mereka tertawa lepas bukan karena hasil tangkapan melimpah dan dihargai tinggi oleh pengepul.

Mereka menertawai diri-sendiri atau bahkan temannya yang terjerembap di arena tarik tambang. Terlebih lagi, orang yang terjerembap itu secara fisik lebih besar sehingga sorakan pun makin riuh.

Tidak hanya tarik tambang, para pekerja yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Penghu Indonesia-Taiwan (Forspita) dan “The Big Family of Magong” itu juga semarak oleh lomba balap karung, sepeda lambat, pukul kendil, joget dangdut, ambil koin dalam tepung, dan makan kerupuk.

Bagi penduduk asli Pulau Penghu, kegiatan para nelayan itu menjadi hiburan tersendiri. Tidak jarang para majikan mereka sekaligus pemilik kapal menyempatkan diri mendatangi tempat pelelangan ikan itu. Bahkan, di antara mereka terpingkal-pingkal menyaksikan kelucuan para anak buah kapal yang sedang “beraksi” di darat itu.

Para majikan itu takpernah merasa rugi karena dana yang disumbangkan untuk kegiatan tersebut membuatnya terhibur. Polisi setempat yang berpatroli pun takkuat menahan tawa di sela-sela merekam aktivitas nelayan di arena perlombaan makan kerupuk.

Pada malam harinya di tempat yang sama diisi dengan acara pengajian dan doa bersama. “Kegiatan ini rutin kami gelar setiap Tahun Baru Imlek karena saat seperti inilah para nelayan dan pekerja lainnya libur panjang,” kata Najib Ibrahim selaku penasihat Forspita.

Ajang silaturahmi
Sudah puluhan tahun nelayan asal wilayah Pantura Pulau Jawa, Lampung, dan pesisir Sulawesi itu mengadu nasib di Pulau Penghu yang berbatasan dengan perairan wilayah Tiongkok.

Sampai saat ini nelayan asal Indonesia yang bekerja di pulau itu diperkirakan mencapai angka 1.700 jiwa. Mereka bekerja sesuai dengan perjanjian kontrak yang bisa diperpanjang setiap tiga tahun sekali.

Mereka mendiami beberapa pelabuhan pendaratan ikan yang tersebar di gugusan pulau seluas 141 kilometer persegi yang secara administratif menyatu ke dalam wilayah Penghu County.

Di masing-masing dermaga pendaratan ikan itu mereka membentuk kelompok. Setiap kelompok diketuai seorang “lurah”.

Di Kota Magong sendiri sedikitnya terdapat empat kelompok nelayan. Selebihnya tersebar di Lamkang, Waian, dan Xiaomen.

“Lurah” mereka diangkat berdasarkan senioritas atau yang paling lama bekerja di satu wilayah. Namun, tidak jarang di antara kelompok-kelompok tersebut terlibat perkelahian yang dipicu oleh persoalan sepele.

“Kalau sudah kayak gitu, kami harus turun tangan,” kata Ikhsan, nelayan asal Lampung yang sudah belasan tahun bekerja di sebagai pelaut di Lamkang.

Hampir setiap hari pria berusia 42 tahun itu terlibat langsung menyelesaikan konflik antarnelayan berkebangsaan Indonesia. “Tadi malam ada yang mau berkelahi,” tuturnya saat ditemui di sela-sela aktivitasnya di dalam kapal ikan di Pelabuhan Lamkang, Jumat (20/2).

Para “lurah” itu juga sering dimintai bantuan pihak kepolisian Penghu County untuk turut meredakan ketegangan antarnelayan.

Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan pula jika polisi setempat turut membantu pendanaan setiap kali ada kegiatan para nelayan, asalkan bersifat positif.

“Oleh karena itu, kegiatan lomba-lomba seperti sekarang sangat berarti untuk mempererat tali silaturahmi para pelaut,” kata Kartono selaku panitia kegiatan di Pelabuhan Magong, Kamis (19/2).

Selain di Magong, kegiatan serupa juga digelar para nelayan di Pelabuhan Waian. Sedikitnya 300 nelayan asal Indonesia berkumpul di lapangan basket dekat tempat pelelangan ikan pelabuhan tersebut, Jumat (20/2). *

Gempa Awali Pergantian Tahun

Oleh M. Irfan Ilmie
Pesta pergantian tahun dari 2014 ke 2015 di Taiwan didahului dua kali peristiwa gempa bumi yang mengguncang negara kepulauan di Laut Pasifik itu dalam waktu berbeda. Sebagaimana data yang terekam Biro Pusat Iklim Taiwan, gempa bumi yang pertama terjadi pada hari Rabu (31/12) pukul 11.06 waktu Taiwan. Pusat gempa berkekuatan 4,6 pada skala Richter itu berada di lautan Pasifik yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Yilan.

Kemudian masyarakat Taiwan kembali dikejutkan gempa berkekuatan 5,1 pada skala Richter yang terjadi di 79 kilometer dari Suao pada pukul 15.54. Kedua peristiwa gempa tersebut tidak menimbulkan tsunami.

Masyarakat tidak terlalu panik dalam menghadapi peristiwa gempa yang terjadi secara beruntun karena struktur bangunan di Taiwan yang rata-rata bertingkat dirancang tahan terhadap guncangan gempa.
Sementara itu, warga Taiwan menyambut pergantian tahun dengan meriah, Kamis dini hari. Namun konsentrasi massa berada di seputar kawasan gedung Taipei 101.

Di Taipei City Hall yang berjarak sekitar 300 meter dari gedung tertinggi kedua di dunia itu terdapat panggung terbuka yang diisi oleh artis Taiwan. Polisi menutup akses jalan menuju Taipei 101 sejak pukul 20.00 karena untuk memberikan keleluasaan kepada para pejalan kaki yang mulai berdatangan sejak pukul 19.00. Beberapa stasiun MRT yang terdekat dengan Taipei 101 juga ditutup karena padatnya manusia di sekitar lokasi itu.

Selain panggung terbuka, beberapa seniman jalanan juga unjuk kebolehan di beberapa ruas jalan menuju Taipei 101 sehingga menambah suasana semarak tahun baru 2015.

Tak ketinggalan beberapa tempat hiburan malam dan restoran di Distrik Xinyi sebagai kawasan bisnis terbesar di Ibu Kota Taiwan tersebut seakan ketiban rezeki pada malam tahun baru itu.
Jutaan orang termasuk warga negara Indonesia dan warga pendatang lainnya memadati kawasan Taipei 101 untuk melihat pesta kembang api yang dimulai pada pukul 00.00 tepat itu.

Gedung setinggi 508 meter yang dilengkapi sebuah pendulum seberat 800 ton terpasang di lantai 88 untuk menjaga kestabilan dari guncangan gempa bumi, angin topan, dan gaya geser lainnya itu bermandikan aneka warna kembang api selama lebih kurang 3 menit.

Seusainya pesta kembang api, sebagian warga ada yang masih menikmati malam tahun baru dengan menggelar pesta di tempat-tempat hiburan atau tempat terbuka.

Namun sebagian besar pulang dengan menggunakan MRT. Hal ini yang mengakibatkan terjadinya kepadatan luar biasa di stasiun-stasiun MRT seputar Taipei 101.

Khusus pada malam tahun baru ini, MRT beroperasi hingga pukul 03.00. Pada hari-hari biasa, MRT hanya beroperasi hingga pukul 00.30. Demikian pula dengan bus kota yang khusus pada malam itu beroperasi hingga 24 jam, padahal pada hari-hari biasa hanya sampai pukul 23.00.

“Kami sangat menikmati pesta tahun baru di Taiwan ini. Ini merupakan yang kedua kalinya kami bertahunbaruan di Taiwan,” kata Ferry Sentosa, WNI yang tinggal di kawasan Guting, Taipei.

Hal yang sama juga dilontarkan Peter Hans, warga negara Korea Selatan. “Saya senang bisa merayakan tahun baru di sini karena banyak hiburan dan tempat-tempat jajanan,” ujar warga Seoul, Korea Selatan, yang mengajar di Taichung, Taipei, itu. *

Barokatologi di balik Musik Wali (Oleh-oleh dari konser di Taoyuan)

 

Oleh M. Irfan Ilmie

Musik adalah bahasa ruh. Ia membuka rahasia kehidupan, membawa perdamaian, dan menghapuskan perselisihan….

Begitulah Kahlil Gibran dalam mengartikulasikan musik yang kemudian banyak orang menyebut bahwa musik adalah bahasa universal umat manusia.

Personel The Beatless, John Lennon, menyerukan perdamaian melalui tembang andalannya “Imagine” yang sampai sekarang masih akrab di telinga para penikmat musik. Demikian pula dengan grup musik cadas asal Eropa, Scorpions, mendambakan perdamaian dunia melalui lagu “Wind of Change” yang sangat melegenda itu.

Michael Jackson pun turut menyampaikan pesan perdamaian dalam lagunya yang sangat populer “Heal The World”. Dalam video klip lagu yang dirilis pada 1991 itu, Raja Pop asal Amerika Serikat, yang meninggal pada 25 Juni 2014, tersebut membawa serta anak-anak kaum papa menyalakan lilin sambil berseru “Heal the world, make it a better place for you and for me and the entire human race.”

Lalu di Indonesia ada grup kasidah asal Semarang, Jawa Tengah, Nasyida Ria, yang kondang pada tahun 1980-an dengan lagunya berjudul “Perdamaian”. Lagu itu pun kemudian dikemas secara apik oleh grup musik papan atas di Tanah Air, Gigi, dengan sentuhan tempo irama cepat dan terkesan “ngerock” agar lebih akrab di telinga kawula muda.

Mereka, para penyeru perdamaian itu hidup di era industrialisasi. Mereka penggerak utama industri musik. Kreativitas mereka tentu saja setimpal dengan imbalan materi yang didapatkannya. Bagi mereka musik bukan kegemaran belaka, melainkan juga pundi-pundi harta. Entah itu royalti atau honor “manggung” di berbagai tempat.

Hal ini pula yang dirasakan oleh para mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Melalui “Wali Band”, mereka tidak hanya menuangkan ide kreativitasnya akan kegemarannya memainkan alat musik dan bernyanyi, melainkan juga telah menjadi sandaran hidup. Namun sebagai santri, mereka sadar bahwa popularitas dan limpahan materi yang didapatkannya bukan semata-mata dihasilkan oleh kreativitas dan kecerdasan emosionalnya.

“Ada ‘tangan’ yang terlibat sehingga kami menganggap hal ini sebagai keajaiban,” kata Apoy, penggagas terbentuknya “Wali Band” yang pandai mencipta lagu dan piawai memainkan gitar itu.

Alumnus pondok pesantren di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, itu tidak ingin kreativitasnya bersama Faang (vokal), Tomi (drum), dan Ovie (keyboard) selalu dikonversikan dengan nilai materi semata.

“Kami tidak ingin mengutamakan kepentingan bisnis karena di setiap kreativitas kami selalu ada unsur ‘barokatologi’,” ujar Apoy saat ditemui seusai “manggung” di Taoyuan Stadium Arena, Taiwan, Minggu (23/11) malam.

Barokatologi                                                                                                                                                                 Bagi mereka bekerja tanpa beramal bagaikan pohon tanpa buah. Oleh karena itu, mereka tak hanya mengandalkan kekuatan talenta lahiriah, melainkan juga kedekatan batin dengan Sang Pencipta.

“Barokatologi itulah yang menaungi kami,” kata pria kelahiran 8 Maret 1979 yang memiliki nama lengkap Aan Kurnia itu.

Istilah berkah atau “barokah” sangat lazim bagi anak-anak pesantren. Sikap taat kepada guru dan rendah diri (tawadhu) merupakan modal utama bagi anan-anak pesantren bila ilmu yang mereka dapatkan mengandung berkah.

Berkah dalam arti luas mengacu pada standar kualitas, bukan kuantitas. Oleh karena itu, barokatologi bagi Apoy dan kawan-kawan di “Wali Band” menjadi nafas di setiap hasil karya mereka.

Apalagi saat ini Apoy, Faang, Tomi, dan Ovie masih dalam tataran mencari jati diri sebagai remaja shaleh sekaligus “role model” bagi anak muda lainnya.

Metode dakwah yang dipelajari di bangku kuliah dan madrasah dipadukan dengan totalitas seni ala Bang Haji Rhoma Irama. Sehingga mereka memilih musik sebagai media yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan positif kepada masyarakat.

Apoy tidak ingin larut dalam perbedaan mazhab bermusik. “Mau orang lain menyebut musik kami kampungan, melayu, atau dangdut, silakan! Asal musik kami tak dianggap aliran sesat,” selorohnya.

Baginya, jenis musik apa pun, asalkan enak didengar, maka tugas utamanya menyampaikan pesan kepada khalayak telah berhasil. “Zaman sekarang ini serba sulit, kenapa harus bikin lagu-lagu yang sulit?” ujarnya menanggapi penilaian berbagai pihak bahwa karya-karya Wali Band terkesan “easy come, easy going” itu.

Dengan lagu-lagu yang pilihan notasinya sederhana dan liriknya cenderung jenaka, seperti Cari Jodoh, Tobat Maksiat (Tomat), dan Nenekku Pahlawanku, sudah barang tentu “tidak berkelas” bagi sebagian penikmat musik.

Namun lagu-lagu seperti itu yang saat ini digandrungi masyarakat. Bahkan tidak sedikit, lagu-lagu karya Apoy bersama Wali Band dinyanyikan dalam versi dangdut sehingga menyentuh segala lapisan masyarakat.

Percaya akan berkah yang mereka sebut dengan istilah “barokatologi” itu, anak-anak Wali Band tidak lupa untuk beramal, setidaknya hingga tiga album yang dirilisnya sejak 2008.

Bahkan, sebagian dari hasil penjualan cakram padat, nada tunggu, dan “manggung” di berbagai tempat dari album keempatnya bertitel “Doain Ya Penonton” akan ditasarrufkan untuk pembangunan sekolah bagi-bagi anak-anak di Gaza, Palestina.

“Di sana ada rumah sakit Indonesia. Maka kami bercita-cita mendirikan sekolah Indonesia. Di sana namanya Rumah Sakit Indonesia bukan ‘Mustasyfa Indonesiyyah’. Nantinya sekolah itu juga diberi nama ‘Sekolah Indonesia’ untuk anak-anak Gaza, bukan ‘Madrosah Indonesiyyah’,” kata Apoy.

Niat untuk mendirikan sekolah Indonesia di Gaza itu telah didahului dengan membentuk “Wali Care Foundation” sejak tiga tahun lalu.

Melalui yayasan itu, Wali Band telah menghimpun dan menyalurkan dana senilai Rp1,3 miliar untuk berbagai kegiatan sosial di Gaza dan Indonesia.

Menariknya, selain berasal dari donatur dan penggemar fanatiknya, dana tersebut juga dikumpulkan dari pemotongan 2,5 persen dari seluruh penghasilan personel Wali Band dan kru. Angka 2,5 persen itu dinisbatkan dengan standar zakat “maal” (harta).

Filosofi Barokatologi itu pula yang melandasi keinginan Joy Simson, pengusaha asal Indonesia di Taiwan, untuk menggelar konser gratis Wali Band.

Di Taoyuan Stadium Arena, Minggu (23/11) siang, penampilan Wali Band disaksikan sedikitnya 17 ribu pasang mata. Jauh melampaui angka penonton pada penampilan pertama pada 2012 yang hanya mencapai 12 ribu penonton. Penonton konser tahun ini dan dua tahun lalu sama-sama tidak dipungut biaya dan digelar di tempat yang sama.

“Tadinya kami ragu bisa mendatangkan penonton dalam jumlah yang sama dengan dua tahun lalu. Sempat terpikir untuk menghadirkan kelompok band fenomenal lainnya dari Indonesia,” ujarnya mengenai konser berbiaya 4 juta dolar Taiwan itu.

Dalam konser itu, Joy selaku pengelola Tabloid Indo Suara yang terbit di Taiwan tersebut melihat bahwa Wali Band telah menginspirasi anak-anak muda Indonesia, termasuk mahasiswa dan tenaga kerja Indonesia di Taiwan.

“Sama dengan Wali, kami juga berpandangan bahwa memberikan hiburan kepada masyarakat juga harus disertai dengan unsur yang mendidik,” ujar pria yang beristrikan warga negara Taiwan itu.

Menurut dia, Wali Band tidak hanya menyampaikan pesan kebaikan kepada pemeluk agama tertentu, melainkan juga umat manusia secara universal. “Kebaikan tidak hanya diajarkan dalam Islam. Orang Taiwan pun sejatinya senang dengan hiburan tanpa harus buka-buka baju segala,” ujarnya.

Selain Wali Band, konser musik yang digelar di lapangan terbuka yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Ibu Kota Taiwan di Taipei itu, Joy juga menghadirkan penyanyi dangdut Fitri Carlina dan Duo Anggrek.

Para penyanyi dangdut tersebut tampil dengan busana sopan untuk menghibur WNI yang haus akan musik pop khas Nusantara.  *

 

Karunia Itu Berlabuh di Donggang

M. Irfan Ilmie

Bekerja di negeri orang untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, tentu menjadi dambaan semua orang. Namun menjadi pintar ilmu agama di negeri yang tidak “beragama”, sudah barang tentu sebuah karunia yang tidak dimiliki semua orang.

Mendapatkan ilmu agama tidak harus didapat dari surau, masjid, madrasah, pondok pesantren, atau majelis taklim. Ilmu agama juga tidak mesti diturunkan dari ustaz, kiai, atau apa pun sebutan yang melekat pada diri orang alim.

Ratusan nelayan asal Indonesia yang mengadu nasib di Donggang (baca: Tongkang), Kabupaten Pingtung, mendapatkan ilmu agama justru dengan cara-cara yang tidak lazim. Mereka mengais ilmu agama dari satu kapal pencari ikan ke kapal lainnya yang sedang bersandar di kota pelabuhan di bagian selatan Taiwan itu.

Pemilik kapal bukan orang Indonesia, melainkan orang Taiwan yang memang tidak diwajibkan memeluk agama tertentu. Di pulau yang disebut Formosa oleh penjajah Portugis karena keelokannya itu tidak diatur masalah agama.
Meskipun demikian, beribadah dan menjalankan ritual keagamaan tetap diizinkan, asalkan tidak mengganggu pekerjaan atau kegiatan di sekolahan.

Para nelayan yang kebanyakan berasal dari wilayah pantai utara Pulau Jawa itu mampu memanfaatkan sekecil apa pun kesempatan yang diberikan oleh majikannya di Taiwan.

Muhsin (55), nelayan asal Surodadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, layak disebut sebagai peletak dasar ilmu agama Islam di kota pelabuhan yang berjarak sekitar 392 kilometer di sebelah selatan Ibu Kota Taiwan di Taipei. Tanpa kehadirannya, bisa jadi tidak akan terdengar azan atau pun lantunan ayat-ayat suci Alquran sampai sekarang. Demikian pula gema takbir dan tahmid pada malam Idul Adha, Sabtu (4/10), tidak akan menjadi hiburan tersendiri bagi penduduk pribumi di Donggang.

P1060601

Muhsin meninggalkan Donggang sejak empat tahun silam setelah kontrak kerjanya sebagai nelayan habis dan sekarang menetap di kampung halamannya di Kabupaten Tegal. Namun ilmunya dilestarikan oleh para pengikutnya di Donggang.
Pada 2006, para nelayan asal Indonesia terbiasa tidur di kapal-kapal pencari ikan. Di kapal yang rata-rata berukuran 4×20 meter mereka melakukan beragam aktivitas di luar pekerjaan.

Awalnya Muhsin mengajak ketiga rekannya, yakni Sutikno, Yunus, dan Tuwu untuk shalat berjemaah. “Setelah bersembahyang, Pak Muhsin mengajari kami mengaji,” kata Sutikno (43) saat ditemui di Pingtung, Minggu (5/10). Dari tiga orang, jumlah santri Muhsin berkembang menjadi 10 orang. “Saya sejak 2005 berada di Pingtung, tapi baru dua tahun kemudian bertemu Pak Muhsin,” kata Sahudi (32).

Nelayan asal Desa Kali Lingi, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu mengaku sebelumnya sama sekali tidak bisa mengaji, apalagi mengerti ilmu agama.

“Sejak kelas 2 SD saya sudah membantu orang tua bekerja sebagai nelayan di Brebes sana. Tidak pernah diajari mengaji. Saat pulang kampung beberapa waktu lalu, keluarga saya kaget karena sudah bisa mengaji,” ujar pria yang tidak tamat SD itu.
Demikian pula yang dialami Imam Sobirin yang masih bertetangga dengan Sahudi. “Saya memang pernah belajar mengaji di kampung. Tapi baru betul-betul bisa, ya setelah ketemu Pak Muhsin,” ujarnya.

Hingga 2010 jumlah santri Muhsin sudah mencapai angka 100-an sehingga tidak mungkin belajar dan shalat berjemaah dilangsungkan di kapal pencari ikan.

“Kebetulan ada warga sini yang mau mengontrakkan rumahnya. Kami pun sepakat patungan membayar sewa rumah 8.500 NT (setara Rp3.400.000) per bulan,” kata Sutikno.

Mimpi Para Nelayan
Bangunan dua lantai yang beralamatkan di 34-1 Fung Yu Li, Fung Yu St, Donggang, itu kini tidak hanya menjadi tempat tinggal para nelayan.

Di bangunan milik Su Kwu Chen yang berjarak sekitar 20 meter dari dermaga persandaran kapal ikan di Pelabuhan Donggang itu dihuni sekitar 100 nelayan.

Sekilas bangunan itu mirip pondok pesantren di Pulau Jawa. Sekat-sekat di lantai dasar bangunan itu bukan berfungsi sebagai pembatas antarkamar, melainkan pembatas ruang makan, gudang, dan sekretariat Forum Silaturahmi Pelaut Indonesia (Fospi). Para nelayan di Donggang bergabung dalam organisasi itu.

Di lantai dua hanya ada dua sekat. Mereka menjadikan lantai dua sebagai tempat beribadah sekaligus tempat belajar agama. Meskipun bukan masjid, lantai dua bangunan itu dijadikan tempat shalat Jumat dan shalat Id sebagaimana terlihat dari adanya mimbar dan tongkat untuk khutbah di bagian sudut.

Sampai saat ini para nelayan, khususnya yang masih baru bekerja di Donggang, memanfaatkan rumah itu untuk belajar ilmu agama pada malam hari. Pada pagi sampai sore hari, mereka bekerja di kapal untuk mencari ikan di perairan Selat Taiwan hingga Laut Pasifik. “Tapi ada juga yang kapalnya melaut pada malam hari. Biasanya kalau kerja malam hari, waktunya lebih singkat sehingga belajar agama pun bisa lebih leluasa,” kata Imam Sobirin.

Dalam kurun waktu empat tahun lebih, para nelayan itu sudah berhasil menghimpun dana 6.150.000 NT atau setara Rp2,4 miliar. Uang yang mereka kumpulkan dari hasil iuran itu hendak mereka tasarufkan untuk membeli bangunan dua lantai tersebut.P1060645

Namun bagi warga asing tidak mudah untuk bisa memiliki properti di Taiwan. “Itu yang menjadi salah satu kendala kami untuk menjadikan bangunan ini sebagai masjid,” kata Sekretaris Fospi Pingtung, Suparto. Untuk bisa mewujudkan impian para nelayan itu, maka harus dibentuk yayasan atau lembaga hukum lainnya yang di dalam struktur kepengurusan harus melibatkan satu hingga dua orang penduduk Taiwan.

“Hal inilah yang mencoba kami fasilitasi dengan mengajak pengurus masjid di Kaohsiung dan CMA (Asosiasi Muslim China) untuk bergabung dalam yayasan tersebut,” ujar pendiri PCINU Taiwan, Bambang Arip, saat bertemu para nelayan di Donggang, Sabtu (4/10).

Pihak keluarga Su Kwu Chen memang berniat menjual bangunan tersebut. Namun mereka juga harus terlebih dulu memastikan legalitas jual-beli bangunan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Kalau saja bangunan itu sudah berpindah tangan kepada para nelayan, maka akan menjadi satu-satunya masjid di Taiwan yang dimiliki oleh warga negara Indonesia.
“Kami semua di sini bertekad meneruskan perjuangan Pak Muhsin. Bagi kami, ini adalah karunia yang tidak ternilai,” kata Dani, nelayan yang sehari-hari menjadi imam shalat di masjid sekaligus penampungan para nelayan itu. (*)

Sampingan

Taipei Main Station Bukan Sembarang Stasiun

M. Irfan Ilmie

Terminal atau stasiun di Indonesia lazimnya berfungsi sebagai tempat pemberangkatan dan pemberhentian bus atau kereta api. Orang-orang yang lalu-lalang di tempat itu kebanyakan juga hendak bepergian ke berbagai tempat tujuan.

Tidak jauh berbeda dengan di Taiwan. Terminal dan stasiun juga sama fungsinya dengan di Indonesia. Taiwan memiliki “Taipei Main Station” (TMS) sebagai tempat perpaduan sistem transportasi publik, mulai dari taksi, bus kota, bus antarkota, MRT jalur bawah tanah, kereta api konvensional, hingga kereta api super cepat yang dikenal dengan “Taiwan High Speed Railway” (THSR).
Di tempat itu pula masyarakat Taiwan dapat menggunakan beragam jenis transportasi publik ke berbagai tujuan di penjuru negara berpenduduk sekitar 23,5 juta jiwa tersebut.

TMS yang pada saat pertama kali dioperasikan oleh pemerintah pendudukan Jepang pada 1901 dengan menggunakan nama “Taipei Railway Station” itu terus berbenah seiring dengan beberapa kali perluasan.
Sesuai perkembangannya, terminal dan stasiun yang berlokasi di Distrik Zhongzhen dan Distrik Datong itu makin banyak berdiri mal.

Bahkan di bawah permukaan tanah bangunan utama stasiun terdapat pusat perbelanjaan tiga lantai “Taipei City Mall” yang menyediakan berbagai keperluan sehari-hari, termasuk perangkat elektronik dan teknologi informasi.
Oleh sebab itu, TMS menjadi pusat keramaian terbesar di Ibu Kota Taiwan.

Apalagi barang-barang yang dijual di “Taipei City Mall” sangat murah dibandingkan dengan di tempat lain di Taiwan.
Namun bagi masyarakat Taiwan yang menginginkan produk bermerek juga bisa datang ke TMS karena ada beberapa tempat perbelanjaan lain, seperti Shin Kong Mitsukoshi Departement Store dan Muji Mall.

Warga negara Indonesia yang tinggal di Taiwan, baik sebagai tenaga kerja Indonesia maupun mahasiswa, lebih senang mendatangi “Taipei City Mall” yang kalau di Jakarta hampir mirip dengan Pasar Senen atau di Surabaya dengan PGS-nya.

Sehingga tidak mengherankan pula jika di TMS banyak toko yang pemilik dan pelayannya WNI. Bahkan tidak sedikit pula toko yang mencantumkan tulisan berbahasa Indonesia dan memasang bendera Merah-Putih.
Pada hari Sabtu dan Minggu, bahasa Indonesia bukan hal yang aneh untuk didengar di “Taipei City Mall” itu. Karena pada hari Sabtu dan Minggu, para TKI mengisi waktu liburnya di tempat tersebut.

Tidak hanya dari Tapei, TKI yang bekerja di Taichung, Tainan, Keelung, dan Kaohsiung juga “tumplek-blek” di TMS pada hari Sabtu dan Minggu.
Lebih dari separuh lantai utama stasiun kereta api TMS yang luasnya hampir sama dengan lapangan sepak bola dipenuhi para TKI. Hanya sebagian saja yang disisakan untuk antrean pembelian tiket THSR.

Ajang Silaturahmi
Oleh karena lokasinya yang bisa diakses dari berbagai penjuru di Taiwan, TMS sering kali dijadikan tempat para TKI untuk berkumpul, baik sekadar untuk melepas kerinduan antar-TKI yang sama-sama berasal dari satu kampung halaman di Tanah Air maupun untuk memanjakan lidah akan masakan khas Nusantara.

Di TMS dijual beraneka jenis penganan khas Nusantara. Apalagi kalau ada acara atau kegiatan keagamaan, seperti “Istighatsah dan Sholawat Akbar” yang digelar di pelataran stasiun kereta api TMS, Minggu (7/9).

“Selain doa bersama, acara ini sekaligus sebagai ajang silaturahmi bagi para TKI,” ujar Agus Susanto selaku panitia penyelenggara “Istighatsah dan Sholawat Akbar” yang dipimpin Habib Muhammad Firdaus Almunawwar dari Pondok Pesantren Daarul Muqorobin, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, itu.

Bahkan menurut Chen Jun Hei (58), warga negara Taiwan, TMS penuh sesak oleh WNI pada saat hari libur keagamaan. Meskipun di Taiwan tidak ada hari libur keagamaan, para TKI mendapatkan kesempatan libur dari majikannya. “Kalau Tahun Baru Hijriah, TMS ini ramai oleh TKI. Apalagi kalau lebaran,” kata pria yang beristrikan WNI itu.

Menurut dia, warga negara Taiwan yang berjualan di kawasan TMS, apalagi di “Taipei City Mall” seakan mendapatkan berkah dari para TKI, terutama pada hari Sabtu dan Minggu serta hari-hari besar umat Islam.

“Makanya, tidak heran jika pelayan toko di sini bisa berbahasa Indonesia,” tutur Chen yang mengaku belum bisa berbahasa Indonesia itu meskipun sudah beberapa kali mengunjungi keluarga istrinya di Karawang, Jawa Barat.

Nahdlatul Ulama sebagai salah satu ormas keagamaan di Indonesia juga tak ingin menyia-nyiakan momentum tersebut. NU mendirikan kantor sekretariat Pengurus Cabang Istimewa di kawasan TMS. “Setiap hari Sabtu dan Minggu, kami biasanya kumpul bareng di sekretariat,” ujar Agus Susanto selaku Wakil Ketua Pengurus NU Cabang Istimewa Taiwan.

Pria asal Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, yang bekerja di pabrik aksesoris telepon seluler di Taiwan itu mengemukakan bahwa NU bukan hanya mewadahi para TKI dalam kegiatan keagamaan, seperti istigasah, tahlilan, atau yasinan.

“Kami biasanya memberikan pelatihan memasak dan menjahit,” kata Ketua Fatayat NU Cabang Istimewa Taiwan, Tarnia Tari, menambahkan.
Agus dan Tari sepakat bahwa alasannya mendirikan sekretariat PCI NU di kawasan TMS itu karena lokasinya yang strategis.

“Dari mana arah pun TMS ini bisa dituju dengan mudah. Kami pun juga dengan mudah bisa mengumpulkan teman-teman,” kata Tari yang bekerja sebagai perawat orang tua di Taipei itu.  (*)