Tukang Panggul Jenderal Sudirman Kian Merana

Kediri – Djuwari (81), tukang panggul Panglima Sudirman dalam perang gerliya melawan penjajah, kian merana.

“Kami hanya berharap generasi muda saat ini bisa menerusan cita-cita pahlawan untuk bisa bebas dari segala bentuk penjajahan,” katanya saat ditemui di rumahnya di Dusun Goliman, Desa Parang, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, Jatim, Minggu.

Sehari-hari dia menghabiskan waktunya di sawah dengan kondisi ekonomi yang serba pas-pasan di sebuah desa yang berada di kaki Gunung Wilis itu.
Bahkan sampai saat ini, tak banyak yang tahu mengenai kiprah lelaki tua renta itu dalam memperjuangkan bangsa Indonesia dari kungkungan penjajah.
Padahal dia salah satu tukang panggul tandu Panglima Sudirman yang saat itu sedang sakit dalam memimpin perang gerilya di kawasan selatan Pulau Jawa pada periode 1948-1949.
Djuwari menuturkan, pagi hari pada tanggal 6 Januari 1949, dia dan tiga temannya, Karso, Warto, dan Joyodari memanggul tandu panglima perang gerilya itu menuju Dusun Magersari, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk untuk menghadapi para penjajah.
Mereka berjalan kaki sekitar 30 kilometer dari Dusun Goliman  menuju Dusun Magersari dengan melintasi kawasan perbukitan Gunung Wilis. “Untuk menempuh perjalanan itu dibutuhkan waktu sehari penuh dengan beberapa kali istirahat,” katanya.
Dalam perjalanan tersebut, Panglima Sudirman dikawal Tokro Pranolo, Supardjo Rustam, Suwondo, dan Heru Tjokro bersama pasukan bersenjata lainnya.
Djuwari mengaku bahagia, kendati dalam perjalanan melelahkan itu dia dan tiga orang rekannya hanya mendapatkan hadiah berupa sepotong kain panjang dari Panglima Sudirman.

“Saat itu kami merasakan ikut berjuang, meskipun tidak dengan cara memanggul senjata seperti tentara lainnya,” kata satu dari empat tukang panggul Panglima Sudirman yang masih hidup hingga sekarang.
Selama berada di Dusun Goliman, Panglima Sudirman tinggal di rumah Badal. Di sebuah ruangan di rumah tersebut, Sudirman dan beberapa anggota pasukannya menyusun strategi menghadapi penjajah.

Di dalam kamar berukuran 7×3,5 meter yang berada rumah joglo yang kini ditempati Suwandi itu masih terdapat beberapa perabotan, diantaranya dipan beralaskan tikar, kendi, cangkir, dan tempayan dari kuningan.

“Kamar ini sudah tidak pernah kami tempati lagi sejak dulu, karena kami anggap memiliki nilai sejarah perjuangan bangsa ini,” kata Suwandi, salah satu anak Badal.

Selama berada di Dusun Goliman, Panglima Sudirman menyamar sebagai mantri guru untuk menghindari mata-mata penjajah yang tersebar di mana-mana. Sayangnya bangunan bersejarah di Dusun Goliman itu hingga kini tak terawat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s