Istilah “Ngaji Kilatan”

Awalnya istilah ini hanya dikenal kaum santri. Namun seiring dengan perkembangan waktu, “Ngaji Kilatan” mulai banyak dijumpai di beberapa tulisan, termasuk berita-berita yang ada di televisi, radio, dan media cetak.

Istilah itu terdiri dari dua kata “Ngaji” dan “Kilatan”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Ketiga (maaf, saya hanya punya edisi ini) halaman 491, kata “mengaji” merupakan kata kerja yang berarti mendaras (Bahasa Arab Dars: Belajar) Alquran atau tulisan Arab. Sehingga yang namanya mengaji sudah pasti belajar, entah itu belajar membaca dan menulis Alquran atau tulisan Arab lainnya.

Sedang “kilatan” sendiri tak lain sekilas cahaya (KBBI, 568).

Lalu apa hubungannya antara belajar membaca dan menulis tulisan Arab dengan kilatan cahaya?

Makanya, “ngaji kilatan” bukan kalimat baku dalam Bahasa Indonesia. Itu hanya istilah yang populer di kalangan pondok pesantren salaf. Tapi belakangan masyarakat umum juga mengadopsinya, seperti “pesantren kilatan”.

Kalau mengaji, para santri sudah mafhum semuanya, karena itu sudah menjadi santapan wajib di pondok pesantren manapun, baik salaf atau modern.

Sebenarnya para santri (dan kiai tentunya) menggunakan istilah “kilatan” itu karena mereka terbiasa menggunakan jasa PT Pos (dulu masih Pos dan Giro) untuk mengirimkan surat kepada orangtuanya di kampung halaman. Saat membeli perangko di toko atau koperasi pondok, santri biasa ditanya mau yang biasa butuh waktu tujuh sampai 15 hari atau “kilat” yang dalam dua hari bisa sampai ke alamat tujuan.

Rata-rata santri mengirimkan surat dengan menggunakan perangko kilat, agar surat yang mengabarkan tentang kebutuhan logistiknya di pondok sudah menipis atau bahkan habis sama sekali cepat sampai kepada orangtuanya di kampung halaman.

Nah, dari situlah, muncul istilah “kilatan” untuk hal yang berkaitan dengan mengaji tadi.

Ngaji kilatan sendiri umumnya digelar pada bulan Ramadan seperti sekarang ini, ketika sekolah diniyah dan aktivitas wajib lainnya di pondok pesantren libur karena tahun pelajaran ponpes salaf dimulai pada bulan Syawal dan berakhir pada bulan Rajab. Oleh karena itu, jangan heran kalau setiap bulan Rajab atau Sya’ban, stasiun kereta api dan terminal bus di daerah yang banyak berdiri pondok salafnya akan dipadati para santri yang hendak pulang kampung.

Sama dengan istilah pos tadi, kilatan bisa berarti cepat. Artinya ngaji kilatan ini adalah sistem mengaji kitab yang diselesaikan dalam waktu singkat.

Sebagai ilustrasi, untuk mengaji Kitab Ihya’ al ‘Ulumuddin karya Imam al Ghazali yang terdiri atas empat jilid (satu jilid terdiri atas 350-500 halaman) sampai tamat, para santri membutuhkan waktu satu hingga dua tahun.

Tapi dalam ngaji kilatan bulan Ramadan, mengaji Kitab Ihya’ dengan cara memaknai Bahasa Jawa yang lazim dilakukan para santri salaf itu bisa tamat dalam waktu sebulan. Wow…fantastic! (menirukan ungkapan Prof Jonathan Burton setiap kali mendengar jawaban dari siswanya dalam IASTP di Surabaya kemarin)

Hanya saja jadwal ngaji kilatan dibuat rapat, biasanya dimulai bakda subuh dan berakhir pukul 24.00 WIB, dengan waktu istirahat saat salat maktubah dan buka puasa. Pengajian pun bisa dimulai sepuluh hari menjelang Ramadan (20 Sya’ban) agar bisa tamat pada tanggal 20 atau 25 Ramadan. (Kebayang kan? Bagaimana pegelnya mata, keritingnya tangan, dan menipisnya pantat seharian penuh ngaji, selama sebulan lagi!. Makanya kalau yang biasa jadi anak mama dan nggak mau sengsara, jangan jadi santri deh…!)

Oke, berarti sama dong, dengan perangko tadi. Kalau ngaji Kitab Ihya’ dengan cara biasa membutuhkan waktu satu hingga dua tahun. Tapi kalau dengan sistem kilatan, sebulan saja sudah rampung atau bisa disebut SKS lah, maksudnya Sistem Kebut Semalam, gitu….!

Di sini para santri bisa memilih, mau ngaji kilatan, atau menghabiskan waktu selama bulan Ramadan ini di rumah saja, mumpung liburan, toh…nanti 15 hari setelah lebaran sudah diwajibkan kembali ke pondok lagi.

Kalau saya dulu, kira-kira memilih yang mana ya….?

Kediri, 5 September 2008
elhaqier (orang paling sembrono)

4 thoughts on “Istilah “Ngaji Kilatan”

  1. tidak jauh beda sama efek “kilat cahaya” : sangat terang, tapi cuma dalam satu kali kedipan mata. jadi biasanya yang kilat-kilat efeknya dahsyat, tapi efeknya terasa cuma sebentar.
    menurut saya kegiatan semacam itu bagus untuk tujuan men”charge” diri. tetapi bukan untuk tujuan yang sebenar-benarnya belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s