Bahasa Indonesia Bukan Untuk Kitab Kuning?

oleh M. Irfan Ilmie

Di lantai dua sebuah bangunan pondok pesantren, belasan santri menulis huruf Arab kecil-kecil di bawah setiap kata yang tertera dalam kitab kuningnya masing-masing.
Sesekali diantara mereka tertinggal satu sampai dua kata dalam mebubuhkan makna harfiah lantaran cepatnya bacaan sang kiai yang memimpin pengajian sejak subuh itu.

Sepintas lalu huruf Arab berukuran kecil yang dituliskan para santri di sela-sela dan di bawah kata-kata dalam kitab kuning itu berupa kode untuk melambangkan kedudukannya sesuai dengan Tata Bahasa Arab.
Namun ada juga huruf Arab yang ditulis dengan tinta Cina bermata kecil itu adalah Bahasa Jawa atau biasa disebut dengan Huruf Pegon (Bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab).

Setelah matahari sudah bergeser sepersekian derajat dari zawal, sang kiai itupun menutup pengajian tersebut tanpa memberikan keterangan mengenai isi yang terkandung dalam kitab kuning tersebut.

Metode pengajian seperti di Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur inilah biasa digunakan untuk mengkaji kitab-kitab kuning oleh kalangan santri pondok pesantren salaf yang masih setia dengan kurikulum pendidikan klasik.

Sejak tahun 1993, pondok ini sudah mempublikasikan 115 judul kitab kuning dilengkapi dengan makna berbahasa Jawa. Pemberian makna sempit pada setiap kata dalam 115 judul kitab kuning itu telah dicetak secara massal oleh Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab dan didistribusikan ke seantero Nusantara.

“Kalau dihitung harian, rata-rata omzet kami bisa mencapai Rp1 juta. Tapi pada bulan Ramadan begini bisa mencapai Rp2 juta sampai Rp3 juta per hari karena banyaknya pondok pesantren yang menggelar ngaji kilatan,” kata Ketua Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab, Ruslin Nafi’uddin.

Mengapa Bukan Bahasa Indonesia?
Selain Bahasa Jawa, pengkajian kitab kuning secara harfiah sesuai dengan tatanan Bahasa Arab selama ini juga ada yang menggunakan Bahasa Sunda, seperti di Ponpes Cipasung Tasikmalaya, Ponpes Manonjaya Ciamis, dan sejumlah ponpes salaf lainnya di Jawa Barat.

Kata-kata Bahasa Arab yang ada di dalam kitab kuning bisa juga dibubuhi makna harfiah dengan menggunakan Bahasa Madura, seperti di Ponpes Syaichona Cholil Bangkalan dan ponpes salaf lainnya di Pulau Madura dan sebagian kawasan Tapal Kuda Jawa Timur.

Lalu, mengapa tidak ada yang memberikan makna harfiah dengan menggunakan Bahasa Indonesia?

“Sepertinya kosa kata Bahasa Indonesia itu tidak sekaya Bahasa Jawa sehingga sampai sekarang belum ada orang yang memberikan makna kitab kuning dengan Bahasa Indonesia,” kata Pengasuh Ponpes Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, K.H. Achmad Yasin Asmuni, menjawab pertanyaan tersebut.

Ia kemudian menjelaskan, untuk menunjuk kata di dalam kitab kuning yang berkedudukan sebagai “mubtada” (subyek), para santri membubuhinya dengan huruf Arab “mim” atau diterjemahkan sebagai “utawi” dalam Bahasa Jawa.

“Saya sendiri belum pernah tahu, apa artinya ‘utawi’ itu di dalam Bahasa Indonesia karena utawi berbeda dengan ‘atau’. Ini baru hal yang paling mendasar dalam mengaji kitab kuning, belum lagi yang mendalam,” katanya.

Bukan hal yang aneh, jika sebuah kata di dalam Bahasa Arab yang terdapat dalam kitab kuning mengandung beberapa pengertian yang panjang dan terperinci jika dikaji dengan menggunakan Tata Bahasa Arab yang baik dan benar.

Oleh sebab itu, Kiai Yasin menambahkan, hal ini merupakan tantangan bagi para akademisi dan pakar Bahasa Indonesia untuk meneliti lebih jauh mengenai kemungkinan penggunaan Bahasa Indonesia dalam memberikan makna harfiah pada sejumlah kitab kuning.

Apalagi santri-santri yang belajar kitab kuning di sejumlah ponpes salaf tidak hanya berasal dari Jawa, Sunda, atau Madura.

Bahkan sampai sekarang masih banyak santri-santri ponpes salaf di Pulau Jawa berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Beberapa provinsi itu, termasuk Papua selama ini juga aktif mengirimkan santrinya dalam ajang Musabaqoh Qiroatil Kutub (lomba baca kitab kuning) tingkat nasional yang rutin digelar Departemen Agama setiap dua tahun sekali.

Namun demikian, lanjut Kiai Yasin, Bahasa Indonesia hanya bisa digunakan untuk menyimpulkan isi kandungan (makna murad) di dalam kitab kuning seperti dalam ajang MQK yang memungkinkan para peserta saling berdebat.

“Tapi kalau digunakan untuk memberikan makna harfiah secara sempit seperti yang lazim dipelajari santri salaf, sampai detik ini belum bisa,” kata kiai muda yang dipromosikan mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari sebuah perguruan tinggi di Inggris itu.

Oleh sebab itu, beberapa santri asal luar Pulau Jawa yang belajar di ponpes salaf di Jawa terpaksa menyempatkan diri untuk belajar Bahasa Jawa terlebih dulu.

Kitab Kuning di Indonesia
Sejauh ini belum ada kajian sejarah mengenai awal mula metode pembelajaran kitab kuning di Indonesia. Sebagian ada yang menyebutkan, sejak zaman Wali Sanga, namun ada juga yang menyebutkan, jauh setelah periode wali sembilan penyebar agama Islam di Pulau Jawa itu.

“Namun berdasar cerita para ulama sepuh zaman dulu, yang meletakkan dasar-dasar mempelajari kitab kuning dengan menggunakan Bahasa Jawa adalah Mbah Sholeh Darat yang hidup sekitar 150 tahun lalu,” kata Kiai Yasin.

Selain berasal dari negara-negara di Jazirah Arab, kitab kuning yang dipelajari para santri salaf saat ini juga ada yang berasal dari Indonesia, diantaranya Sullamut Taufiq (Banten), Atturmusi (Pacitan), dan Sirajut Tholibin (Jampes, Kediri).

Para santri di ponpes salaf sendiri sudah terbiasa memepelajari Tata Bahasa Arab sesuai dengan pakemnya melalui beberapa literatur mulai dari yang terendah seperti Aljurumiyah hingga kasta tertinggi sekalipun seperti Alfiyah Ibnu Malik.

Sehingga mereka pun memiliki disiplin yang tinggi dalam mengkaji kitab kuning baik mengenai fikih, tasawuf, hadits, maupun tafsir karena selalu mencermati kata demi kata yang ada di dalamnya.

Kitab kuning yang dipelajari para santri ponpes salaf itu umumnya adalah “kitab mu’tabarah” atau kitab yang valid menjadi rujukan untuk menjawab berbagai macam problematika kehidupan.
Sebenarnya warna kuning dalam kitab-kitab itu hanya kebetulan, lantaran dahulu kala belum ada kertas yang putih seperti sekarang ini.

Oleh sebab itu sesuai dengan perkembangannya, kitab-kitab kuning itu kini sudah dicetak dengan berbagai jenis kertas berkualitas.

Bahkan sebagian masyarakat sudah mengoleksinya untuk menjadi sebuah hiasan di rumah, masjid, atau perpustakaan. Sehingga menjadi sebuah ironi, jika ternyata sampai saat ini Bahasa Indonesia yang telah puluhan tahun menjadi “Lingua Franca” masyarakat Kepulauan Nusantara ini belum mampu memaknai kitab kuning secara harfiah.(*)

2 thoughts on “Bahasa Indonesia Bukan Untuk Kitab Kuning?

  1. aslmu’alaikum wr wb.akhi.. alhamdulillah dngn pertolonan alloh swt. saya sudah khatam mengkaji kitab, bersama-sama temanq, dengan memakai huruf pegon yg isinya bhs indonesia dan serta utawi(hrf mim) iku(hrf kho) dll yg di indonesiakn,dan rencana qta akan mengkaji Jalalain n kitab2 lain dng metode itu N Q lg dlm pembuatn maklah tentang metode itu.mhon doakan dan q mghrap ridhoNYA.risman di merauke.mhsiswa STAIS YAMRA MERAUKE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s