Madu dan Racun dalam Pilgub Jatim

M. Irfan Ilmie

Pengkaji kebudayaan Madura Ali Usman mengatakan, Madura bisa bermakna “madu” dan “racun” sesuai gabungan nama pulau itu.

Dikatakan madu, karena mengacu pada hubungan sosial antar sesama, yang hal itu terpotret dalam pertemanan mereka, baik sesama orang Madura maupun dengan di luar masyarakat Madura.

Tali persahabatan tersebut, tak jarang melebihi kedekatannya dengan saudara atau kerabatnya sendiri.

Sementara orang Madura dikatakan racun, bertumpu pada sebagian sifat kerasnya disertai dengan pendendam.

Dari situlah, Ali Usman menyimpulkan, masyarakat Madura kemudian selalu diidentikkan dengan budaya kekerasan (baca, carok) yang melekat kuat pada perbuatan dan tindak-tanduk perilaku individunya.

Dalam pertarungan politik untuk memperebutkan kursi Gubernur Jawa Timur periode 2008-2013, tak satu pun orang Madura yang ikut ambil bagian.

Namun peranan orang Madura sangat dominan dalam memberikan warna pada Pilgub Jatim yang sudah berlangsung dalam dua putaran itu.

Bahkan sebagian penduduk Madura memiliki hak berpolitik yang sangat istimewa dalam Pilgub Jatim.

Mereka berhak menentukan nasib Provinsi Jawa Timur dalam kurun waktu lima tahun ke depan, setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan pemungutan suara ulang di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang.

Hak istimewa yang dimiliki masyarakat dua kabupaten di Pulau Garam itu tidak dimiliki oleh mayoritas penduduk Jawa Timur lainnya.

Dengan kata lain, Gubernur Jawa Timur kini telah berada di tangan orang Madura, kendati tak satu pun orang Madura yang ikut berlomba menuju Grahadi.

Kedigdayaan orang Madura dalam Pilgub Jatim itu sejak awal sudah mulai tampak. Mulai kisruh penghitungan suara hingga putusan MK.

Orang-orang Madura yang dikenal berani dan tampil apa adanya itu mampu mencuri perhatian publik setelah dihadirkan sebagai saksi dalam sidang sengketa Pilgub Jatim yang digelar di Gedung MK, Jakarta.

Lalu yang perlu dicatat, Ketua MK, Mohammad Mahfud MD, yang memutuskan pemungutan suara ulang di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang serta penghitungan ulang di Kabupaten Pamekasan, adalah orang Madura.

Lengkap sudah, peranan orang Madura dalam menentukan seorang kepala daerah di provinsi paling timur di Pulau Jawa itu.

Pelanggaran Sistematis

Keputusan MK atas Pilgub Jatim itu didasari kesimpulan majelis hakim, adanya pelanggaran sistematis, terstruktur, dan masif yang terjadi di daerah pemilihan Kabupaten Sampang, Kabupaten Bangkalan, dan Kabupaten Pamekasan yang bertentangan dengan konstitusi, khususnya pelaksanaan pilkada secara demokratis, terbukti secara sah dan meyakinkan.

MK beranggapan, meskipun dalil pemohon tidak konsisten dan tidak terbukti secara formal, akan tetapi secara materiil telah terjadi pelanggaran ketentuan pilkada yang berpengaruh terhadap perolehan suara kedua pasangan Cagub/Cawagub.

Oleh sebab itu majelis hakim memerintahkan pemungutan suara ulang Pilgub Jatim di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang dalam waktu paling lambat 60 hari sejak putusan ini dibacakan.

“Penghitungan suara ulang Pilgub Jatim Putaran kedua di Kabupaten Pamekasan dengan menghitung kembali secara berjenjang surat suara yang sudah dicoblos dalam waktu paling lambat 30 hari sejak putusan ini diucapkan,” kata Mahfud selaku Ketua Majelis Hakim MK.

Majelis hakim juga berkesimpulan keputusan KPU Provinsi Jatim tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pilkada Provinsi Jawa Timur Putaran II, harus dinyatakan batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang mengenai hasil penghitungan suara di kabupaten yang terkena dampak pengaruh pelanggaran.

“Memerintahkan KPU dan Bawaslu untuk mengawasi pemungutan suara ulang dan penghitungan suara ulang, sesuai dengan kewenangannya dan sesuai dengan semangat untuk melaksanakan pilkada yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil,” katanya membacakan putusan MK.

Sedang putusan MK dinilai sebagai pukulan telak bagi KPU Provinsi Jatim.

“Putusan itu merupakan pukulan telak bagi KPU Jatim. Artinya, KPU juga harus belajar dari kasus ini dan jangan lupa, untuk terus introspeksi diri,” kata Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, KH Sholahuddin Wahid.

Mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) itu, sejak awal telah meminta kepada KPU Jatim, agar dilakukan pemungutan suara ulang di satu kabupaten di Pulau Madura.

Putusan tersebut, lanjut adik mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, semakin mempertegas bahwa kecurangan dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim putaran kedua pada 4 November lalu benar-benar ada.

“Tapi, KPU tidak pernah menanggapi adanya laporan kecurangan itu. Justru sebaliknya, MK memiliki komitmen yang tinggi untuk menegakkan demokratisasi di Jatim,” katanya.

Selanjutnya, dia meminta kedua kubu pendukung pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) untuk menerima dengan lapang dada putusan MK yang bersifat mengikat itu.

Tentu saja para pendukung pasangan Kaji menyambut gembira putusan MK. Di kantor DPW Partai Patriot Jatim di Jalan Wali Kota Mustajab, Surabaya, ratusan muslimah dan kader Partai Patriot yang sebelumnya mengikuti istighosah, langsung bersorak-sorai setelah mendengarkan putusan MK, Selasa (2/12).

Berbeda dengan pemandangan di Posko Tim Soekarwo-Saifullah Yusuf di Jalan Comal 17 Surabaya. Para pendukung KarSa yang menyaksikan siaran televisi swasta yang menyiarkan langsung pembacaan putusan MK itu tampak bersedih.

Putusan MK yang mendasarkan diri dari situasi politik di Madura itu benar-benar dirasa sebagai “madu” dan “racun” oleh dua pasangan calon.

Dan “madu” dan “racun” itu masih akan diperebutkan lagi oleh Kaji dan KarSa di dua kabupaten di Pulau Madura dalam pemungutan suara Pilgub Jatim “putaran ketiga” pada Januari 2009.(*)

One thought on “Madu dan Racun dalam Pilgub Jatim

  1. “MADU” DAN “RACUN” DALAM PILGUB JATIM Oleh M Irfan Ilmie

    Surabaya, 3/11 (ANTARA) – Pengkaji kebudayaan Madura Ali Usman mengatakan, Madura bisa bermakna “madu” dan “racun” sesuai gabungan nama pulau itu.
    Dikatakan madu, karena mengacu pada hubungan sosial antar sesama, yang hal itu terpotret dalam pertemanan mereka, baik sesama orang Madura maupun dengan di luar masyarakat Madura.

    Tali persahabatan tersebut, tak jarang melebihi kedekatannya dengan saudara atau kerabatnya sendiri.

    Sementara orang Madura dikatakan racun, bertumpu pada sebagian sifat kerasnya disertai dengan pendendam.

    Dari situlah, Ali Usman menyimpulkan, masyarakat Madura kemudian selalu diidentikkan dengan budaya kekerasan (baca, carok) yang melekat kuat pada perbuatan dan tindak-tanduk perilaku individunya.

    (Komentar: kalau yang ini bukan untuk salah benar. Tapi untuk bahan diskusi.
    1. Siapa Ali Usman kurang dijelaskan oleh penulisnya. Dosen, tukang carok atau korban carok?
    2. Penjelasan tentang “Madu” dan “Racun” terlalu sumir, terutama yang racun. Hal itu bisa menimbulkan rasa tidak berterima di hati orang Madura karena seolah-olah orang Madura itu hanya tukang carok atau bentuk kekerasan lainnya yang “meracuni”. Pesan tersembunyinya, “orang Madura jahat” atau yang lainnya.
    Padahal yang dimaksud dengan Ali Usman itu kurang lebih begini. Orang Madura seperti madu, kalau orang lain bersikap baik, maka orang Madura akan sangat atau jauh lebih baik. Istilahnya, kalau orang lain menunduk, maka orang Madura akan “ndlosor”. Opo ndlosor iku? Pokoknya orang Madura akan jauh lebih sopan, lebih baik dan lainnya kalau orang Madura dibaiki. Kalau sudah seperti itu, orang lain akan menjadi saudara. Kata orang Madura, “Oreng daddhih taretan, taretan daddhih oreng” (orang lain jadi saudara, sebaliknya, saudara bisa menjadi orang lain).
    Pengertian racun adalah, jika orang Madura dikhianati atau disakiti, ia bisa sangat marah, walaupun pengkhianat itu adalah saudara kandungnya sendiri. Dalam konteks ini, carok adalah bagian dari kemarahan atas pengkhianatan itu. Ini bukan membenarkan carok. Apapun bentuknya, menyakiti, apalagi menghilangkan nyawa orang adalah dosa, tidak baik. Saya kira, kekerasan semacam itu bukan hanya menjadi bagian dari Madura. Amrozi dan kawan-kawan membunuh ratusan orang dengan atasnama agama. Padahal, nyawa seekor semutpun, Allah sangat menyayanginya. Itu kan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib).

    Pada kalimat ini, “Dari situlah, Ali Usman menyimpulkan, masyarakat Madura kemudian selalu diidentikkan dengan budaya kekerasan (baca, carok) yang melekat kuat pada perbuatan dan tindak-tanduk perilaku individunya.” Mengesankan carok melekat pada tindak tanduk orang Madura. Ini memberi tafsir bahwa tindak tanduk orang Madura selalu bercarok. Betulkah?

    Pada tulisan feautersnya, wartawan Kompas di Surabaya, Anwar Hudiyono menyimpulkan bahwa ternyata persepsi Madura di luar, khususnya di Jawa tidak sama dengan yang sesungguhnya terjadi di Madura. Wartawan senior itu berkesimpulan, kalau ingin tahu sesungguhnya tentang Madura, datang lah ke Madura. Jangan hanya melihat orang Madura di Surabaya atau kota besar lainya.

    Tentang makna kata MADURA, itu sebetulnya hanya “gothak gathuk mathuk” saja dalam istilah Jawa. Orang di Madura selalu menyebut MADURA sebagai MADUNYA NEGARA (Maddhunah nagarah). Karena itu, Indonesia tanpa Madura tidak akan manis. he heee.

    Namun, lebih semua itu adalah, kita adalah sama-sama makhluk Tuhan. Kita tidak bisa memilih untuk lahir manjadi siapa. Saya dulu tidak minta lahir dari rahim yang tumbuh dan hidup di Madura. Demikian juga mas Irfan yang lahir dari campuran Sunda dan Jawa, namun lahir dalam komunitas budaya orang Madura.
    Semua adalah kehendak Allah agar kita saling mengenal satu sama lain. Tidak ada bangsa yang paling tinggi dari bangsa lainnya, kecuali taqwanya. Itu kan pesan terakhir saat Nabi Muhammad saat menunaikan ibadah haji. Bahkan Nabi juga mengingatkan orang Arab agar tidak merasa lebih tinggi dari yang lainnya. Nabi juga menegaskan bahwa haram sesama muslim saling menyakiti, apalagi menumpahkan darah.
    Lalu kenapa orang Madura yang agamanya mayoritas NU aliran Islam masih ada atau mungkin banyak yang suka carok? Saya kira letaknya pada masalah pendidikan. Semakin tinggi pendidikan orang-orang di Madura, carok akan semakin hilang.
    Kita adalah saudara. “Ada Jawa, sunda dan banyak lagi yang lainnya”. Itu kata Bang Haji dala lagunya.

    Salam,

    Uki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s