Tak Ada Lagi Tawa Riang Anak Yatim Itu

M. Irfan Ilmie

Siang itu cuaca di Sidoarjo, Jatim, cukup panas. Sejumlah bocah bertelanjang dada tidur tengkurap di atas lantai. Mereka tak lagi memedulikan debu kiriman dari prahoto pengangkut material yang lalu-lalang di depan barak mereka.

Sementara di barak lainnya, beberapa gadis yang ditinggal mati bapak atau ibunya itu mengusir rasa gerah dengan mengipas-ngipas buku pelajarannya sambil menonton televisi yang sedang marak-maraknya memberitakan nasib bocah dan warga Palestina akibat serangan militer Israel.

Suasana Panti Yatim Piatu Mabarrot di Desa Sarirogo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (7/1) siang itu sepi. Tak ada lagi tawa riang seperti tahun-tahun sebelumnya di saat anak-anak merayakan Asyura yang jatuh setiap tanggal 10 Muharam.

Kini mereka merayakan Asyura dengan ibadah sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. “Kami semua puasa sunah, kecuali ada beberapa teman yang tadi malam lupa tidak sahur,” kata Faizah (10), penghuni panti asuhan itu menuturkan.

Sepulang sekolah, mereka memilih tidur atau sekadar tidur-tiduran daripada melakukan aktivitas tak karuan yang dapat menguras tenaga di siang yang cukup menggerahkan itu.

Suasana ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. “Kalau dulu, banyak yang mengundang kami sekadar untuk berbagi rezeki,” kata gadis asal Ngoro, Mojokerto yang ditinggal mati ayahnya ketika masih bayi itu menceritakan suasana Asyura beberapa tahun yang lalu.

Sebagai penghuni panti asuhan, Faizah dan beberapa temannya tak banyak menuntut suasana ceria tahun lalu itu harus terulang saat ini. Ia sadar, kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya sehingga tak banyak dermawan yang mengundang mereka sekadar untuk berbagi rasa.

“Makan sudah disediakan, uang jajan sudah ada, dan sekolah pun gratis. Makanya saya senang tinggal di sini,” kata Candra (10), bocah yatim asal Tanggul, Jember yang tak pernah tahu wajah bapaknya sejak dilahirkan dari rahim ibunya itu.

Sebagian masyarakat menganggap Asyura sebagai hari raya bagi anak-anak yatim. Wajar jika di berbagai daerah, masyarakat merayakannya dengan memberikan sebagian rezekinya kepada anak-anak duafa itu.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa yang memberikan sedekah kepada anak yatim pada tanggal 10 Muharam dengan mengelus kepalanya, niscaya setiap helai rambut anak yatim akan mengangkat derajat orang tersebut di hadapan Allah.”

“Berangkat dari hadits Nabi itulah, maka setiap tanggal 10 Muharam atau disebut dengan Asyura sebagai hari raya anak yatim,” kata Pengasuh Panti Yatim Piatu Mabarrot, Luqman Hakim.

Menurut dia, menyantuni anak yatim merupakan perbuatan mulia. “Saking mulianya perbuatan itu, tercatat 23 lafal yatim dicantumkan dalam Alquran, mulai dari merawatnya, menjaganya, menikahinya, sampai memelihara hartanya,” kata alumnus IAIN Sunan Ampel jurusan Tafsir Hadits itu.

Bahkan orang yang meninggalkan anak yatim dianggap sebagai orang yang mendustakan agama, sebagaimana firman Allah dalam Surah Almaun.

“Namun, merawat anak yatim bukanlah pekerjaan mudah. Mulai dari godaan harta sampai fitnah berdatangan silih berganti. Dibutuhkan keimanan dan ketangguhan mental untuk menghadapinya,” kata Luqman.

Ia lalu mengungkapkan, di panti asuhan yang dipimpinnya itu hampir setiap saat orang datang menyumbangkan harta mulai dari uang, perlengkapan sekolah, sampai bahan pokok, terutama saat-saat menjelang lebaran Idulfitri.

Belum lagi dermawan yang mengundang anak-anak yatim ke rumahnya untuk diajak makan bersama setelah didahului dengan doa bersama demi kesuksesan karir si pengundang itu.

“Sepintas sumbangan-sumbangan itu menggembirakan bagi anak yatim. Tapi jangan lupa, ada banyak godaan di hati untuk memiliki barang-barang itu. Di sinilah iman dan ketakwaan diuji secara nyata,” kata pria berusia 33 tahun itu.

Saat ini banyak terjadi perbuatan nista dengan mengatasnamakan anak yatim, mulai dari panti asuhan yang tidak ada penghuninya sampai penggelembungan jumlah anak yatim itu sendiri.

“Oleh sebab itu, masyarakat harus waspada, terhadap banyaknya permintaan sumbangan baik yang diajukan melalui proposal atau mengerahkan petugas tertentu di kendaraan umum atau di perkantoran dan pusat keramaian lainnya,” kata Luqman mengingatkan.

Menurut dia, seharusnya anak yatim menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini Departemen Sosial di tingkat pusat dan Dinas Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat di tingkat daerah.

“Sayangnya sekarang ini pemerintah hanya memfokuskan perhatian pada anak jalanan. Padahal anak yatim itu juga butuh perhatian dari negara dan pemerintah, karena mereka juga punya cita-cita,” katanya.

Bahkan Sayidina Umar saat menjadi Khalifah pernah mengatakan, seorang pemimpin negara yang cakap adalah orang yang mampu memimpin anak-anak yatim.

Oleh sebab itu Luqman mengusulkan, di Indonesia ini sudah sangat layak dibentuk lembaga yang khusus menangani anak yatim dan permasalahannya. “Komnas Perlindungan Anak (KPA) saja ada, mengapa komisi anak yatim tidak ada? Di Malaysia, ada komisi khusus yang menangani anak-anak yatim. Bahkan di sana juga ada Bank Yatim untuk menghindari penyelewengan dana bantuan baik dari negara maupun perorangan yang diperuntukkan bagi para yatim itu,” katanya.

Selanjutnya dia meminta pemerintah menetapkan Hari Anak Yatim setiap tanggal 10 Muharam untuk menumbuhkan simpati masyarakat terhadap bocah yang kehilangan orangtuanya itu.

Pemuliaan Asyura
Dalam kesempatan itu Luqman Hakim berpendapat, bahwa pemuliaan terhadap anak yatim bukanlah hal yang berlebihan. “Tidak hanya Islam, tapi ajaran agama manapun juga memiliki pandangan yang sama terhadap anak yatim,” kata pengkaji ajaran-ajaran agama itu menambahkan.

Hanya dalam Islam, lanjut dia, ada keterkaitan erat antara pemuliaan anak yatim dengan Asyura. “Namun bukan berarti, memuliakan anak yatim hanya dilakukan pada Asyura, saat yang lain tidak penting. Ini pandangan yang keliru,” katanya.

Selain berdasar Hadits Nabi SAW mengenai pemuliaan anak yatim pada bulan Asyura, ada serentetan peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 10 Muharam itu.

Di dalam kitab “Tanbihul Ghafilin” disebutkan, pada tanggal 10 Muharam, Allah menciptakan langit, bumi, dan surga. Bahkan pembukaan pintu surga dan hari kiamat pun terjadi pada tanggal 10 Muharam, kendati waktunya tidak bisa ditentukan.

Dalam kitab karya Al Faqih Asy Syaikh Abu Laits As Samarqandi itu disebutkan pula beberapa peristiwa lain yang terjadi pada tanggal 10 Muharam. Di antaranya adalah Nabi Adam AS mendapat ampunan dari Allah, Nabi Ibrahim AS diselamatkan Allah dari bara api yang disulut oleh Raja Namrud, Nabi Musa AS selamat dari kejaran Raja Fir’aun, Nabi Nuh AS selamat dari banjir bandang dan badai yang menewaskan istri dan anaknya.

Pada tanggal itu juga, Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara setelah difitnah oleh suami Zulaikhah, Nabi Ya’qub AS disembuhkan dari kebutaan, Nabi Yunus AS dikeluarkan dari perut ikan Nun setelah dikejar-kejar umatnya yang tidak mau mengikuti perintahnya, dan Nabi Daud AS dijauhkan dari fitnah setelah menikahi bekas istri panglima perangnya yang tewas di medan pertempuran.

Selain itu, ada catatan penting dalam sejarah Islam, bahwa terbunuhnya cucu Rasulullah SAW, Husein, dengan cara dipenggal kepalanya oleh pasukan Yazid bin Muawiyah di Karbala, Irak, bertepatan dengan Asyura.

Sebagian masyarakat Irak dan Iran memperingati Hari Asyura dengan memukul kepalanya sampai berdarah sebagai bentuk penyesalan atas tewasnya Husein di tangan serdadu Yazid.

“Oleh sebab itu bukanlah hal yang berlebihan, jika kita menyantuni anak yatim tepat pada tanggal 10 Muharam, memiliki arti tersendiri,” kata Luqman Hakim.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s