Tatkala Kusta Dianggap Sebuah Kutukan

oleh m. irfan ilmie

Iluk Sariroh (26), terpaksa berbohong kepada para tetangganya di Desa Semanding, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, bahwa bercak merah di sekujur tubuh anaknya, Fahmi (6), akibat sengatan lebah.

Ia menampakkan sikap tidak jujur di depan warga desanya itu untuk melindungi masa depan anak semata wayangnya, selain sebagai upaya agar keluarganya tidak semakin terkucil.

Sayangnya langkah yang ditempuh Iluk untuk menutup-nutupi penderitaan keluarganya itu sia-sia. Vonis warga Desa Semanding, bahwa penyakit yang diderita Fahmi sama dengan penyakit yang diderita kakek-neneknya itu telah membuat kesempatan menuntut ilmu sejak dini semakin tertutup.

“Seharusnya anak saya itu sudah duduk di bangku TK (Taman Kanak-kanak) seperti teman sebayanya yang kini sudah kelas nol besar,” kata Iluk dengan mata menerawang.

Fahmi tak bisa sekolah lantaran harus menyusul neneknya, Siti Unifah (50), yang tergolek lemah di Rumah Sakit (RS) Kusta Kediri. Beberapa tahun sebelumnya, M. Irham, istri Unifah sekaligus kakek Fahmi meninggal dunia akibat penyakit kusta yang dideritanya. Karena itu penyakit yang dialami oleh Fahmi saat ini seakan menjadi pembenaran bagi warga Desa Semanding yang selama ini menganggap keluarga buruh tani itu terkena penyakit kutukan.

Stigma penyakit kutukan juga dirasakan oleh Jatuk Wulandari (10). Gadis belia asal Desa Babadan, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri itu harus tersisih dari pergaulan teman sebayanya.

“Tak seorang pun anak-anak seusia dia yang mengajaknya bermain karena takut tertular. Mainan anak tetangga tidak boleh bercampur dengan mainan anak saya,” kata Suci Sayekti, ibu kandung Wulandari.

Ia menganggap orang-orang di sekitarnya itu telah bersikap tidak adil dalam memperlakukan anak gadisnya. “Kasihan, anak saya semakin dijauhi teman-temannya karena orangtua mereka melarang bermain dengan anak saya,” katanya.

Saat ditemui di RS Kusta Kediri, Minggu (25/1), Suci mengungkapkan, sejak usia dua bulan, di tubuh putrinya itu terdapat bercak berwarna putih yang mengakibatkan sekujur tubuhnya mati rasa. “Awalnya hanya satu bercak, tapi lama-kelamaan merembet hingga seluruh tubuh. Tapi saya baru memeriksakan dia dua tahun lalu atas saran saudara saya,” katanya.

Langit di atas Suci seakan runtuh tatkala pihak rumah sakit memvonis anaknya menderita penyakit kusta. “Padahal tak seorang pun anggota saya yang menderita penyakit itu,” katanya menuturkan. Selama satu tahun anak itu menginap di RS Kusta Kediri. Setelah itu dia diharuskan memeriksakan diri setiap tiga bulan sekali karena untuk memulihkan kondisinya dibutuhkan waktu yang relatif lama.

Kini Iluk dan Suci tidak banyak berharap belas kasihan dari masyarakat. Pada tanggal 25 Januari yang merupakan Hari Kusta Internasional, kedua ibu rumah tangga itu hanya meminta masyarakat dan pemerintah tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap penderita kusta.

“Kami hanya ingin mengetuk perasaan masyarakat. Jangan bedakan anak kami dengan yang lainnya,” kata Iluk penuh harap.

Pandangan Keliru

Kepala Instalasi Rawat Inap RS Kusta Kediri, Limarchaban, menyatakan, pandangan masyarakat terhadap penyakit kusta selama ini banyak yang keliru. Apalagi jika penyakit itu dikait-kaitkan dengan kutukan, maka penderita kusta tidak hanya mengalami penderitaan fisik, tapi tekanan psikis akibat terkucil dari pergaulan sosial.

“Padahal penyakit ini bisa disembuhkan, asalkan penderita mematuhi tata cara pengobatannya,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (24/1) lalu.

Ia menjelaskan, penyakit kusta itu disebabkabkan oleh bakteri jenis “Mycrobacterium Leprae”. Bakteri ini bisa merusak jaringan kulit dan mematikan saraf tepi yang terdapat pada lengan dan kaki.

Oleh sebab itu, lanjut dia, wajar jika penderita kusta mengalami penurunan daya tahan tubuh, terutama ketika bakteri tersebut juga menyerang hidung, tenggorokan, dan mata. Penyakit kusta itu terbagi dua jenis, Kusta Kering dan Kusta Basah. Namun yang berbahaya adalah Kusta Kering, karena selain bisa membuat penderitanya cacat fisik, juga bisa berakhir dengan kematian, jika disertai penyakit lain.

Bahkan selama 2008, tercatat empat orang penderita Kusta Kering yang menjalani perawatan di RS Kusta Kediri, meninggal dunia. Padahal tahun sebelumnya hanya dua orang penderita kusta yang meninggal dunia di rumah sakit yang berlokasi di Jalan Veteran Kediri itu.

“Penderita kusta yang meninggal dunia itu karena daya tahan tubuhnya berkurang. Akibat daya tahan tubuh berkurang, menyebabkan penyakit lain mudah menyerang ginjal dan liver. Hal ini yang menyebabkan pasien meninggal dunia,” kata Limarchaban.

Sementara untuk jenis Kusta Basah, penularannya relatif cepat. Sedang untuk penyembuhan penyakit kusta dibutuhkan waktu enam hingga 12 bulan.

Menurut dia, kusta lebih banyak menyerang masyarakat dengan strata ekonomi rendah yang kurang memperhatikan masalah kesehatan lingkungan. “Tapi tidak tertutup kemungkinan, masyarakat menengah atas juga terkena penyakit itu. Apalagi penyakit itu menular,” katanya mengingatkan.

Limarchaban menyebutkan, ada beberapa media penularan penyakit tersebut, di antaranya bersinggungan langsung dengan penderita dalam jangka waktu yang relatif lama dan menggunakan perlengkapan penderita.

“Hal inilah yang mengakibatkan, penderita kusta disisihkan dari lingkungan sosial di sekitarnya. Bahkan ada keluarga yang sampai menempatkan penderita kusta di ruang terpisah,” katanya.

Namun tidak sedikit keluarga penderita yang membawanya ke rumah sakit khusus kusta agar mendapatkan perawatan dan penanganan yang lebih baik ketimbang di rumah sendiri. Di RS Kusta Kediri terdapat 30 hingga 50 pasien yang menjalani rawat inap dalam sebulan. Sedang penderita yang rawat jalan bisa mencapai 250 orang per bulan.

“Rata-rata pasien yang menginap di sini adalah pasien kambuhan. Mereka sebelumnya sudah sembuh, tapi terpaksa dirawat lagi. Penyakit ini memang membutuhkan penyembuhan yang lama. Pasien yang dinyatakan sembuh, tapi tidak mendapat perawatan memadai di rumahnya, sangat mungkin penyakitnya kambuh lagi,” katanya.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s