Mengapa Harus Difabel?

oleh M. Irfan Ilmie

          Surabaya – Guru besar Linguistik Fakultas Bahasa dan Seni Unversitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Kisyani Laksono, mengemukakan, perkembangan Bahasa Indonesia berada di tangan masyarakat.

         “Perkembangan Bahasa Indonesia itu berada di tangan masyarakat, bukan Pusat Bahasa atau lembaga lainnya,” kata anggota Tim Pemetaan Bahasa Daerah Pusat Bahasa itu di Surabaya, Minggu.

         Menurut dia, masyarakat berhak menentukan sebuah kosakata layak digunakan sebagai bahasa sehari-hari atau tidak.

         “Termasuk kosakata yang bisa dimasukkan ke dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), juga berdasarkan perkembangan yang terjadi di masyarakat,” katanya menegaskan.

         Ia mencontohkan kata “radar”, yang merupakan singkatan dari kata asing “Radio and Range” telah diterima sebagai sebuah kosakata di dalam KBBI.

         “Apalagi kalau sekadar kata ‘differential abilities’ yang disingkat menjadi difabel, sebagai pengganti kata penyandang cacat, sangat bisa diterima di dalam KBBI. Sebenarnya kata ini sudah lama ada,” kata Kisyani.

         Namun menurut dia, kata itu baru dimasukkan dalam KBBI Edisi Keempat, setelah kosakata “difabel” semakin banyak digunakan masyarakat, terutama kalangan media massa.

         “Tapi yang perlu diingat, penentu akhir dari sebuah kosakata itu adalah masyarakat dan tidak tertutup kemungkinan sebuah kosakata baru itu akan mati, karena tidak banyak digunakan oleh masyarakat,” katanya menjelaskan.

         Kemudian dia mencontohkan kata “sangkil” yang biasa digunakan untuk menyebutkan sesuatu berdaya guna atau efisien dan kata “mangkus” yang memiliki arti mujarab atau mustajab.

         “Dua kosakata ini dulu sering dimunculkan oleh surat kabar nasional. Tapi apa yang terjadi? Kedua kosakata ini tidak banyak dikenal dan dipergunakan masyarakat, dan akhirnya kedua kosakata ini mati,” katanya mengungkapkan.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s