Kenapa Harus ke Durenan Rayakan Lebaran Ketupat?

Oleh M. Irfan Ilmie

Kenapa harus ke Desa Durenan kalau sekadar merayakan Lebaran Ketupat? Bukankah Lebaran selalu identik dengan penganan khas yang terbuat dari beras itu? Lalu apa pula istimewanya berlebaran ketupat di Durenan?

Pertanyaan-pertanyaan itu terbersit di benak setiap orang, terutama bagi orang yang tinggal di luar Desa Durenan. Apalagi, di Desa Durenan tidak terdapat objek wisata dan wahana hiburan lainnya sehingga wajar orang bertanya-tanya perihal keistimewaan berlebaran ketupat di desa itu.

Belum lagi akses jalan menuju Durenan macet berkilo-kilo meter sejak pagi sampai sore hari. Jalan-jalan kampung di desa itu pun sesak oleh pengguna jalan, pejalan kaki, dan pedagang kaki lima yang menggelar berbagai macam dagangan. Akibatnya, polisi tampak kewalahan mengatasi kemacetan di desa itu, meskipun ratusan personel dibantu tenaga sukarelawan dikerahkan.

Para pegawai negeri sipil (PNS) pun tak mau melewatkan momen penting itu dengan meninggalkan tugasnya lebih awal. Tak ketinggalan, Bupati Trenggalek Soeharto dan Ketua DPRD setempat Akbar Abbas bersama sejumlah Muspida juga turut merayakan “pesta ketupat” itu di Durenan.

Lebaran Ketupat di Desa Durenan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jatim, tidak hanya milik warga desa itu dan masyarakat Kabupaten Trenggalek. Bahkan, satu rombongan dari Jambi harus rela menempuh perjalanan beribu-ribu kilometer ke Durenan untuk bergabung dengan sejumlah warga dari daerah-daerah lain.

Setiap tanggal 8 Syawal tahun Hijriah, masyarakat Desa Durenan membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Alunan musik yang diperdengarkan melalui salon berbagai ukuran memberikan isyarat kepada warga dan pengguna jalan untuk masuk ke rumah mereka.

Tidak ada basa-basi, kecuali kalimat, “silakan menikmati hidangan ketupat,” yang keluar dari mulut sang tuan rumah. Mau berbincang-bincang atau pamit ke rumah sebelah untuk menikmati ketupat sayur lainnya, tuan rumah tidak merasa tersinggung.      Kenal atau tidak dengan tuan rumah, lidah setiap orang pasti juga akan merasa dimanjakan oleh hidangan ketupat dilengkapi sayur nangka muda, kacang pajang, opor ayam, telur puyuh goreng, dan kerupuk atau “rempeyek”.

Fenomena itu cocok bagi orang yang lapar atau mereka yang ingin mendapatkan sarapan sekaligus makan siang gratis. Wajar pula pada Jumat itu tak satu pun warung makanan di Durenan yang buka, kecuali kedai kopi.

“Sudah tiga kali ini saya makan ketupat di tiga tempat berbeda,” kata Andri, remaja berusia 23 tahun asal Blitar yang ramai-ramai makan ketupat bersama empat rekannya di rumah seorang warga di Desa Durenan.

“Selama Lebaran saya tak berani meninggalkan tugas. Hanya Lebaran Ketupat ini saya libur sehari penuh,” kata Saiful, perwira menengah polisi, saat ditemui di sela-sela kesibukannya menerima tamu di rumahnya di Desa Durenan.
Durenan adalah sebuah desa yang berada di jalur utama Trenggalek-Tulungagung. Durenan juga kecamatan paling timur di wilayah Kabupaten Trenggalek yang berbatasan dengan Kebupaten Tulungagung. Karena lokasinya berada di jalur utama, di Durenan juga terdapat terminal bus, pasar, dan toko-toko yang menyediakan aneka kebutuhan masyarakat.

Masyarakatnya tergolong agamais karena di situ juga terdapat pondok pesantren dan sejumlah madrasah. Di Durenan ada seorang tokoh legendaris, yakni KH Abdul Mashir atau dikenal dengan nama Mbah Mesir.

Mbah Mesir salah satu penyebar agama Islam di daerah itu. Makamnya yang berada di seberang Sungai Semarum juga kerap dikunjungi para peziarah, terutama dari kalangan santri.

Mbah Mesir-lah yang pertama kali merayakan Lebaran Ketupat dengan cara seperti itu sejak 300 tahun silam. “Setiap Lebaran Ketupat, Mbah Mesir menyediakan ketupat dalam jumlah besar dan tak pernah berkurang, walau disuguhkan kepada banyak orang,” kata KH Fatah Muin, generasi keempat Bani Mesir.

Ritual itu dilakukan Mbah Mesir bersama para santrinya setelah berhasil menunaikan puasa sunah bulan Syawal, terhitung sejak tanggal 2 Syawal atau sehari setelah salat Idulfitri.

“Ritual Mbah Mesir itu kemudian diikuti oleh sanak familinya. Ada sekitar sepuluh rumah kerabat yang menggelar ritual serupa,” kata Kiai Fatah yang juga pemuka agama di Desa Durenan.

Bentuk syukur kepada Allah SWT itu kemudian diikuti oleh masyarakat sekitar sehingga ajang “open house” dan makan ketupat bersama itu berkembang luas hingga ke beberapa kecamatan di sekitar Durenan, seperti Pogalan dan Gandusari.

Sebelum ritual santap ketupat bersama itu dilakukan, masyarakat setempat menunaikan salat dhuha berjamaah di masjid-masjid yang dirangkai dengan pembacaan doa bersama sesaat setelah matahari beranjak dari ufuk timur.
Hindarkan Hedonisme
Selain ungkapan rasa syukur, tradisi yang diajarkan Mbah Mesir itu juga untuk mendidik masyarakat agar tidak larut dalam hedonisme setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.

“Biasanya, tempat-tempat wisata selalu ramai setelah Lebaran, bahkan puncaknya pada Lebaran Ketupat ini,” kata Kiai Fatah usai menerima Bupati Trenggalek dan rombongan tamu penting lainnya.

Menurut dia, Mbah Mesir mengajak masyarakat sekitar untuk memperat tali silaturahmi dengan siapa saja tanpa melihat suku, agama, ras, dan golongan sambil bersama-sama menikmati ketupat sayur ala Durenan itu.

“Hari ini momen yang tepat untuk mempererat tali silaturahmi. Setelah berpuasa wajib selama sebulan ditambah puasa sunah di bulan Syawal selama tujuh hari, kita wajib mengencangkan kembali tali persaudaraan itu,” katanya.

Tradisi Lebaran Ketupat yang penuh dengan muatan spiritual tersebut disambut positif oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek. Bupati Soeharto pun akan memasukkan tradisi itu dalam agenda wisata rutin.

“Kami akan memasukkan ritual ini dalam agenda wisata rutin setiap tanggal 8 Syawal,” katanya usai santap ketupat bersama Muspida di rumah Kiai Fatah itu.

Menurut dia, tradisi silaturahmi dengan menyuguhkan hidangan ketupat sayur kepada setiap tamu pada tanggal 8 Syawal yang diajarkan pemuka agama di Desa Durenan, KH Abdul Mashir atau Mbah Mesir, sejak 300 tahun silam itu, perlu dilestarikan.

Bentuk pelestarian itu, kata Soeharto, yang akan mengakhiri tugasnya sebagai Bupati Trenggalek pada 3 Oktober 2010, adalah dengan memasukkan tradisi itu dalam agenda wisata.

“Apalagi, Anda tahu sendiri yang merayakan Lebaran Ketupat di sini bukan masyarakat Trenggalek saja, melainkan dari berbagai daerah, bahkan dari luar Jawa,” katanya.

Meskipun nantinya menjadi agenda wisata, Pemkab Trenggalek tidak akan membangun tempat khusus atau semacam “land mark” yang bisa digunakan masyarakat untuk merayakan Lebaran Ketupat di Desa Durenan itu.

“Kalau nanti dibangun tempat khusus, tradisi ini dikhawatirkan cepat pudar karena tradisi ini tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat dan masyarakat sendiri yang berinisiatif memberikan suguhan ketupat kepada setiap tamu,” katanya.

Menurut Bupati, biarlah tradisi itu tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat secara alamiah karena jika terlalu banyak intervensi dari pemerintah dikhawatirkan cepat luntur dan masyarakat pun melupakannya. *

One thought on “Kenapa Harus ke Durenan Rayakan Lebaran Ketupat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s