Mati Rasa

Oleh: M. Irfan Ilmie*

Suatu siang, saya agak tertatih-tatih menyeberangi Jalan Dharmawangsa yang secara kebetulan tidak banyak kendaraan lalu-lalang seperti hari-hari biasa. Puas mencapai seberang jalan, saya terduduk tak jauh dari kedai kopi di mulut gang sambil memijit-mijit kaki kanan yang ngilu akibat terlalu lama berimpitan di dalam angkutan umum.

Semua orang pasti pernah mengalami kesemutan seperti saya. Kesemutan atau mati rasa, dalam istilah kedokteran adalah sensasi abnormal yang dapat terjadi pada bagian tubuh mana pun, dan yang paling sering adalah tangan dan kaki.

Penyebabnya juga bermacam-macam, di antaranya posisi duduk atau berdiri dalam waktu yang lama sehingga bagian tubuh tertentu tidak mendapatkan aliran darah yang mencukupi atau buntu. Pemulihannya pun tidak sulit, karena yang dibutuhkan adalah peregangan pada otot-otot yang mati rasa itu.

Mati rasa juga bisa terjadi pada diri seseorang karena emosi jiwanya terganggu sehingga mati rasa yang gejalanya seperti ini bukan monopoli Dewi Sandra saja yang merajuk saat melantunkan tembang andalannya berjudul “Mati Rasa”.

Ketika perasaan ini sudah mati, maka cinta dan kasih sayang pun akan pergi. Perhatian pada seseorang, tiba-tiba hilang dan tergantikan oleh perasaan dendam yang sebelumnya lama terpendam.

Dalamnya lautan, siapa pun tahu, tapi dalamnya hati, siapa yang tahu? Begitu juga dengan dendam, sifatnya tak beda jauh dengan api di dalam sekam.

Atas nama dendam dan benci pula, hal-hal yang tadinya suci tiba-tiba berubah menjadi keji. Padahal, sesuai fitrahnya, manusia yang dilahirkan ke dunia ini penuh dengan kesucian. Oleh sebab itu, sebagian ahli tafsir meyakini bahwa tangisan bayi yang baru keluar dari rahim ibunya sebagai bentuk pelampiasan atas kekecewaannya melihat dunia yang penuh dengan sifat-sifat “madzmumah”.

Bahkan, atas nama agama dan keyakinan tertentu, sekelompok orang bisa menjadi kalap sehingga fitrah kemanusiaannya pun diabaikan, digadaikan, dan digantinya dengan nafsu amarah sebagai petunjuk jalan jihad yang semu.

Atas nama agama pula, sekelompok orang menghalalkan darah saudaranya sendiri yang dianggap tidak berada dalam satu garis komando. Komando yang terbungkus keyakinan dalam menistakan kelompok tertentu.

Tak puas dengan hanya menistakan, sekelompok orang itu memerangi saudaranya sendiri sampai betul-betul binasa. Ironisnya dalam upaya membinasakan saudaranya sendiri itu mereka mengusung kesucian yang dijunjung keagungannya secara universal.

Bagaimana tidak mati rasa, kalau sesama umat manusianya ditimpuk, ditendang, dipukuli beramai-ramai, meskipun ajal sudah meninggalkan jasad korbannya. Peristiwa yang terjadi di Cikeusik, Banten, itu mengingatkan pada tradisi “gropyokan” yang dilakukan sekelompok petani di tepi barat Sungai Brantas, Kabupaten Tulungagung.

Menjelang panen tiba, biasanya sekelompok petani di daerah itu memasukkan bahan kimia yang mudah terbakar pada lubang-lubang kecil di bawah pematang. Tikus-tikus pun keluar karena kegerahan berada di tempat persembunyian akibat lubang-lubang dimasuki bahan kimia.

Begitu tikus keluar dari lubang, tanpa perasaan para petani sudah menyambutnya dengan sabetan parang, pentungan, golok, dan benda apa saja yang dapat membinasakan jenis binatang pengerat yang doyan tanaman padi itu. Setelah tak bernyawa, bangkai-bangkai tikus itu pun dibakar beramai-ramai. Begitulah potret tradisi “gropyokan” di Tulungagung yang sekilas fenomenanya hampir mirip dengan tragedi Cikeusik.

Walaupun objeknya berbeda, modus operandi di Tulungagung dan Cikeusik sebangun dan sebidang karena mereka sama-sama beringas. Di Cikeusik, orang membunuh karena keyakinan agamanya merasa terusik, sedangkan di Tulungagung petani membasmi karena takut merugi.

Gejolak sosial di Cekeusik dan di Temanggung merupakan sebuah fenomena ketidakmampuan sekelompok orang dalam memahami agama secara utuh. Perbedaan masih diidentikkan dengan sebuah permusuhan. Padahal dalam hadisnya, Nabi Muhammad SAW berkali-kali mengingatkan bahwa “Perbedaan itu membawa rahmat”.

Bahkan, Allah sendiri dalam firmannya menyatakan: “Laa ikrâha fi al-dîn”. Artinya: Tidak ada paksaan di dalam agama (QS. Al-Baqarah: 120). Ayat lain menegaskan, “… Fa man syâ’a falyu’min, wa man syâ’a falyakfur.” Artinya: Orang boleh memilih, barang siapa ingin beriman, maka boleh beriman, dan barang siapa hendak kufur, maka silakan saja kufur (QS. Al-Kahfi: 29). Ada lagi ayat yang berbunyi. “Lakum dînukum wa liya dîn.” Artinya: Bagimu agamamu dan bagiku agamaku (QS. Al-Kafirun: 6).

Dengan merujuk pada ayat-ayat Alquran seperti itu, sesungguhnya Islam tidak boleh dilaksanakan atas dasar paksaan. DR Moqsith Ghazali menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan menyatakan bahwa kekerasan atas nama agama itu dilarang, kekerasan dengan alasan agama atau berbaju agama haram hukumnya.

Sayangnya, kelompok Islam radikal tak menerima dalil-dalil tersebut. Mereka punya dalil sendiri yang juga bersumber dari Alquran dan Hadis. Tapi, apa pun dalilnya, membunuh sesama manusia tetap dilarang.

Di sinilah kewajiban aparatur melakukan campur tangan. Bukan sebaliknya, pemerintah cuci tangan dengan kalimat-kalimat bernada kecaman, kutukan, dan prihatin. Ingat, kekerasan tidak akan terhenti hanya dengan membuat pernyataan-pernyataan seperti itu.

Penegak hukum pun juga demikian. Polisi, jangan memosisikan diri sebagai penonton di arena pembantaian. Bukankah polisi dibayar oleh negara karena ketegasannya dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Bukan sebaliknya, polisi dan aparat hukum lainnya tegas dalam menghadapi orang yang lemah, namun lemah dalam menghadapi orang yang kuat. Yang patut dicatat pula, pergantian pucuk pimpinan polisi bukan solusi atas sebuah persoalan. Justru mengesankan pimpinan kepolisian yang diganti itu cuci tangan atas peristiwa yang terjadi.

Persoalan bangsa ini semakin lama semakin pelik. Banyak orang yang mengalami mati rasa, tapi tidak sadar kalau dia mati rasa. Termasuk saya yang saat itu mengalami mati rasa pada kaki kanan, tapi dipaksa untuk menyeberang jalan raya di Kota Surabaya. Untung pula, saat itu jalanan sepi….!

(tulisan ini telah dipublikasikan dalam Tajuk http://www.antarajatim.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s