Bali Tak Lekang Oleh Gempa

     M. Irfan Ilmie

Sepanjang Kamis (13/10) secara umum cuaca di Bali cerah, apalagi jika dibandingkan dengan cuaca dua hari sebelumnya yang tertutup mendung dan sesekali diwarnai gerimis, meskipun tidak merata ke seluruh wilayah daratan di Pulau Dewata itu.

Sisa-sisa “canang”, “segehan”, dan pelengkap sesajian atau sesajen yang menjadi simbol peringatan “Purnama Kapat”  dua hari sebelumnya masih berserakan di halaman sekolah, di pinggir-pinggir lapangan, di depan gedung perkantoran, di padmasana, bahkan di atas meja-meja kerja.

Meskipun “Purnama Kapat” pada bulan ini jatuh pada hari Selasa, sebagian masyarakat Bali ada yang melaksanakan upacara adat “piodalan” pada hari Rabu, bahkan Kamis. Masyarakat Bali meyakini “Purnama Kapat” itu sebagai hari yang penuh berkah.

Oleh karena itu, semarak perayaan datangnya bulan purnama tersebut masih terasa hingga Kamis pagi. Nuansa terang, sebenderang bulan purnama pada malam hari masih membekas pada gurat wajah anak-anak sekolah dasar yang pagi itu mengikuti kegiatan olahraga di Lapangan Lumintang, Denpasar.

Cuaca cerah pada Kamis pagi itu tak sedikit pun memberikan pertanda akan terjadinya bencana karena tepat pukul 11.16 Wita masyarakat Bali panik akibat tanah yang mereka pijak berguncang. Meskipun hanya beberapa detik, guncangan itu cukup membuat warga tercekam ketakutan.

Gempa berkekuatan 6,8 pada skala Richter yang berpusat di 143 kilometer sebelah barat daya Nusa Dua dengan kedalaman 10 kilometer itu sedikit memporak-porandakan sebagian rumah warga, sekolahan, tempat ibadah, dan fasilitas umum lainnya di Bali.

Dari magnitude-nya memang gempa Bali lebih besar dibandingkan dengan gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006 yang hanya berkekuatan 5,9 SR. Namun dampaknya tidak separah di Yogyakarta karena memang lokasi gempa Bali relatif lebih jauh dari daratan dibandingkan dengan gempa di Yogyakarta yang berjarak sekitar 25 kilometer selatan-barat daya “Kota Gudeg” itu.

Selain itu, struktur bangunan rumah di Bali lebih kokoh dibandingkan dengan di Yogyakarta. Bahkan, untuk bangunan rumah kos di Bali rata-rata pada bagian dindingnya dilapisi beton. Kebanyakan rumah penduduk asli konstruksi bangunannya menggunakan batu bata bercampur semen yang dipadatkan atau orang Bali menyebutnya dengan “bata gosok“.

Hal itu juga yang merupakan salah satu faktor gempa berkekuatan 6,8 SR tidak sampai meluluhlantakkan rumah-rumah dan bangunan lain di Bali. Padahal, dalam satu hari “Pulau Seribu Pura” itu diguncang sepuluh 10 kali gempa susulan. Dari 10 kali gempa susulan itu yang guncangannya dirasakan warga terjadi pada pukul 15.52 Wita. Itu pun kekuatannya hanya 5,6 SR atau lebih rendah dari gempa utama pada pukul 11.16 Wita.

Kalau pun ada bangunan yang rusak, maka faktor penyebabnya lebih banyak pada konstruksi bangunan, seperti yang terjadi di SMK Negeri 2 Denpasar dan toko swalayan “Carrefour” di Jalan Sunset Road, Kuta, Kabupaten Badung.

Dua tempat itulah yang disebut-sebut paling parah terkena dampak gempa. Bahkan, 49 siswa dan guru SMK Negeri 2 Denpasar harus menjalani perawatan di RS Sanglah karena luka-luka pada bagian kepala setelah tertimpa reruntuhan bangunan.

Sejauh ini belum ada laporan mengenai bangunan yang rusak parah akibat bencana tersebut. Demikian halnya dengan korban jiwa, juga tidak ada laporan, baik yang masuk ke posko BPBD, Bakesbangpol-Linmas, PMI, maupun tenaga sukarelawan lainnya.

Akan tetapi, gempa pada Kamis siang itu boleh dibilang gempa terbesar sejak 1979. Gempa di Karangasem pada 1979 telah merenggut 24 nyawa warga. Setelah 1979, beberapa kali Bali memang pernah diguncang gempa, di antaranya 2004 di Karangasem dan 2010 di Nusa Dua, yang semuanya tidak sampai menimbulkan jatuhnya korban jiwa.

Walau begitu, kepanikan masyarakat tak bisa terelakkan. Apalagi trauma pascabencana, seperti yang dialami masyarakat di Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, dan Kota Pariaman, Sumatera Barat, akibat gempa berkekuatan 7,9 SR pada 30 september 2009 dan tsunami di Jepang pada 11 Maret 2011 masih belum beranjak dari ingatan.

Oleh sebab itu, warga yang tinggal di kawasan pesisir Bali, seperti di Nusa Dua, Sanur, dan Kuta, sempat takut karena sebagian di antara mereka melihat permukaan air laut meninggi beberapa saat setelah gempa mengguncang Bali.

Namun, pihak Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar memastikan bahwa tingginya air laut bukan pertanda akan datangnya gelombang tsunami, melainkan karena air pasang yang dipicu oleh fenomena bulan purnama.

Kepala BMKG Wilayah III Denpasar Wayan Suwardana menyatakan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak panik akibat gempa tersebut,” katanya beberapa saat setelah terjadi gempa utama, Kamis siang.

Sementara itu, Kepala Bidang Pusat Gempa Bumi BMKG, Suhardjono, mengatakan, gempa yang terjadi masih termasuk dalam taraf normal. “Kekuatan gempa masih tergolong normal. Oleh karena itu, saya minta masyarakat tidak panik dan tetap tenang,” katanya.

Jumat pagi, Pulau Bali kembali diliputi mendung dan tidak secerah sehari sebelumnya. Gempa yang terjadi Kamis itu tidak menimbulkan traumatik yang berlebihan. Masyarakat sudah kembali beraktivitas. Bahkan, wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, sama sekali tidak takut akan fenomena alam, meskipun sehari sebelumnya sejumlah jadwal kedatangan dan keberangkatan penerbangan dari Bali sempat mengalami penundaan.

Wayan Suwardana di Denpasar mengemukakan, akitivitas seismik di selatan Bali yang menjadi pusat gempa, Jumat pagi terpantau relatif normal. “Meskipun ada aktivitas seismik relatif normal, masih terdeteksi terjadi gempa oleh alat kami,” katanya.

Menurut dia, kekuatan gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama Kamis (13/10) pukul 11.16 Wita itu, terus melemah. Berdasarkan hasil pemantauan, sampai sekarang tercatat terjadi 16 kali gempa susulan.

“Namun masyarakat tidak perlu khawatir karena kekuatan gempa tersebut di bawah 4 SR sehingga hanya bisa dirasakan oleh peralatan seismik,” katanya menambahkan.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s