Hendak Ke Mana (Lagi), Pak Kiai?

M. Irfan Ilmie Elhaqier *

Tawadhu orang alim adalah tidak merasa pendapatnya paling benar, sedangkan tawadhu orang awam adalah tidak menafikan keberadaan orang alim dalam menjalankan perintah-perintah agama.
Orang alim tidak boleh serta-merta memaksakan pendapatnya sendiri karena sesungguhnya kebenaran mutlak ada pada-Nya. Demikian pula, orang awam tidak boleh begitu saja menjalankan perintah-perintah Allah tanpa bimbingan dari orang yang alim.

Khalifah Al Manshur dari generasi Abbasiyah pernah suatu ketika hendak melegalkan ajaran-ajaran dan hukum Islam bermazhab Maliki. Namun Imam Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amirul Ashbani selaku pendiri mazhab itu menolak keputusan khalifah Al Manshur.

Imam Malik tak ingin pendapatnya dianggap paling benar atas dukungan legalitas dari penguasa. Imam Maliki menganggap bahwa di daerah lain di bawah kekuasaan Al Manshur masih ada umat Islam yang bermazhab Syafi’i, Hambali, dan Hanafi yang sama-sama memiliki kekuatan berijtihad dalam hukum fikih.”

Itulah sepenggal khutbah Jumat yang saya dengar dari seorang khatib di Masjid Istiqomah, Jalan Kuta Permai III, Bali, pada 17 Februari 2012, mengenai pentingnya bersikap rendah hati.

Meskipun sudah hampir enam bulan bertugas di Bali, saya baru sekali Jumatan di masjid itu karena kebetulan saat itu sedang menghadiri acara peluncuran sebuah produk di Hotel Mercury Harvest Land, Kuta.

Setiap hari Jumat, biasanya saya malas bertugas di luar kantor dan lebih memilih Jumatan di masjid kampung Jawa, Jalan A. Yani Denpasar. Kali ini saya bersedia keluar kantor karena yang mengundang seorang kenalan baru yang jauh-jauh hari sebelumnya meminta dijadwalkan dalam agenda liputan di media tempat saya bekerja.

Posisi saya di dalam Masjid Istiqomah itu tidak bisa langsung melihat mimbar dan mihrab karena bentuk bangunan masjid itu menyerupai huruf “C”, persis seperti tapal kuda. Namun dari cara berkhutbah dengan intonasi terstruktur tidak meledak-ledak seperti orator atau khatib salat Jumat yang menyerukan jihad, saya bisa menggambarkan bahwa sang khatib memiliki pandangan yang luas soal agama. Khutbahnya pun singkat, tapi padat dan memenuhi rukun-rukun khutbah Jumat. Model khutbah seperti ini jamak ditemui di masjid-masjid tradisional berhaluan “ahlusunnah wal jama’ah” di Jawa.

Usai awrad dan amalan-amalan wadhifah salat Jumat, saya melangkah menuju bangunan utama masjid. Kepada seseorang yang baru bangkit dari saf kelima, saya bertanya, “Yang manakah khatib itu?”.

“Itu Pak, yang pakai kopiah putih, baju abu-abu,” jawab pria paruh baya yang mengenakan peci warna senada dengan sang khatib sambil menunjuk seseorang yang tengah duduk tasyahud akhir.

Setelah beranjak dari tempat duduknya, dia melangkah menuju salah satu ruang takmir. Saya pun mempercapat ayunan langkah untuk mengejarnya.

“Assalamu’alaikum ustaz,” sapaan saya membuat jungkat langkahnya menuruni undakan masjid terhenti.

Setelah berkenalan, saya ungkapkan ketakjuban materi khutbah yang dibawanya tanpa teks itu. “Terima kasih, mudah-mudah bermanfaat untuk semua,” jawabnya singkat.

Dari perkenalan singkat tadi, saya terkesan olehnya. Meskipun masih muda, cara pandangnya mengenai agama sangat luas. Dia mengingatkan masalah perbedaan yang penuh rahmat.

“Khilaful ulama’ rahmatun,” begitu kata orang alim ketika berbeda sikap politik dengan orang alim lainnya.

Sebagai khatib, pemuda tadi juga mengingatkan dirinya bahwa pendapat orang alim tidak serta-merta menjadi kebenaran mutlak. Apalagi dalam khutbahnya tadi, dia menyatakan keprihatinannya, “Sayangnya perbedaan itu selalu disikapi secara sensitif karena banyak di antara kita tidak siap berbeda,” katanya di sela-sela mengisahkan dialog antara Imam Maliki dan Khalifah Al Manshur.

Hemmm….
Sekilas, memang tidak ada yang luar biasa dari isi khutbah sang khatib asal Bondowoso, Jawa Timur, yang sudah 15 tahun menetap dan berdakwah di Pulau Dewata itu. Namun, khutbah yang dibawakan alumni sebuah pondok pesantren salaf di ujung timur Pulau Madura itu seakan menggugah pikiran saya.

Dalam beberapa hari terakhir, saya mengalami keguncangan batin yang luar biasa. Kegundahan seorang santri yang tidak ingin kiainya terperosok di kubangan. Tapi, saya harus pasrah oleh keadaan sambil terus berharap, semoga kegundahan dan kekhawatiran saya tidak terbukti.

Secara keilmuan, saya mengagumi betapa luar biasa luasnya ilmu agama para kiai itu. Kekaguman saya kian bertambah, manakala mereka tidak pernah memikirkan “maisyah”. Mungkin itulah bedanya orang alim dan orang awam. Orang alim tak memikirikan “maisyah” karena kadar kepasrahannya kepada Yang Maha Kuasa cukup tinggi, sedangkan orang awam selalu memikirkan “maisyah” karena khawatir dapur tak bisa mengepulkan asap.

Oleh karena itu, saya pribadi sangat bangga pernah belajar agama kepada mereka. Walaupun tidak bisa mengikuti jejak mereka, saya tetap berusaha sekuat tenaga mengamalkan ajaran-ajaran mereka. Sementara ini, biarkan ajaran itu saya amalkan untuk diri-sendiri, anggota keluarga, dan orang-orang terdekat di rumah karena saya merasa belum “maqom”-nya untuk majelis yang lebih luas lagi.

Melihat segala keterbatasan inilah yang menjadikan saya rikuh untuk bertemu mereka dan menyampaikan kegundahan saya.

“Kowe sopo, Le?”
“Isomu opo?”
“Dudu sopo-sopo, kok ngelarang aku?”

Itulah jawaban-jawaban yang menghantui pikiran saya, jikalau kegundahan itu saya sampaikan. Apalagi, saya beberapa kali punya pengalaman tak mengenakkan terkait cara pandang santri dan ulama terhadap politik. Belum lagi, sejumlah mantan rekan santri menganggap saya cenderung menggunakan logika daripada adabiah. Sebagian rekan yang lain menganggap saya agak kefalasifah-falasifahan.

Bahkan, ketika di forum dunia maya, saya beberkan pengalaman mengenai kekecewaan para kiai terhadap salah satu tokoh politik yang kemudian tokoh politik itu dirangkulnya lagi hanya gara-gara ganti baju, hujatan dan makian kembali saya terima.

“Apa kira-kira kontribusi Anda kepada agama dan negara ini. Lebih baik melakukan hal yang konkret buat agama dan negara kita,” begitulah salah satu sanggahan yang dikirimkan oleh seseorang di forum dunia maya yang menanggapi pengalaman saya menampung keluhan masyayikh.

Saya sengaja tidak menanggapinya lagi karena mungkin mereka belum mengenali tata cara berkomunikasi yang santun di ruang publik. Mereka sepertinya juga belum terbiasa menyampaikan argumentasi dengan mengedepankan ketertiban berlogika yang sebenarnya pernah mereka pelajari di pondok pesantren. Mereka cenderung mengedepankan tekstual dibandingkan kontekstual sebagaimana hasil penelitian mahasiswa S-2 tentang pemahaman fikih para santri PP Al Falah dan PP Lirboyo.

“Ya sudahlah….”
Semua ini mungkin bagian dari perjalanan sejarah pondok pesantren dalam percaturan politik di Indonesia. Dahulu kala santri dan ulama berjuang untuk melepaskan negara ini dari kungkungan penjajah.

Dari generasi ke genarasi pondok pesantren selalu memberikan catatan tersendiri sesuai perannya di pentas politik. Sebagian kiai menganggap ulama memberikan warna tersendiri dalam perpolitikan. Sebagian lainnya menyatakan politik sebagai upaya untuk memengaruhi parlemen. Namun, mereka pasti akan menolak jika dikategorikan sebagai aktor dalam percaturan politik. Mungkin karena konotasi aktor itu. Padahal aktor politik itu tidak harus dari kalangan politikus.

“Media juga bisa sebagai aktor dalam peristiwa politik,” demikian paparan Kacung Maridjan dalam mata kuliah Komunikasi Politik.

Lalu, timbul pertanyaan, politik ulama itu saat ini untuk siapa?
Pertanyaan itu tentu tidak meluncur begitu saja, mengingat selama ini sikap politik sekelompok ulama terkesan mudah sekali diarahkan. Tiga belas tahun yang lalu mereka mendeklarasikan partai politik yang digadang-gadang sebagai “dewa penyelamat jagat”. Namun enam tahun berikutnya, meninggalkan rumah yang mereka bangun dengan susah payah itu. Kemudian berpindah lagi ke partai politik lagi melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu, termasuk dalil-dalil yang mendukungnya. Dan, yang akan datang kembali lagi menghadap ke kiblat yang selama ini dilupakan banyak orang karena dianggap tidak segaris dengan khitah.

“Setelah itu entah ke mana lagi?” demikian petikan status jejaring sosial salah satu santri yang bingung menentukan sikap politik, mengikuti langkah kiainya atau memilih jalan sendiri.

Sejauh ini, saya masih tetap “khusnuzon” karena saya yakin, para barisan ulama yang saya hormati dan saya banggakan itu melalui istikharah dan ijtihad dalam menentukan sikap politik.

Tetapi saya tidak setuju, kalau sikap tersebut difatwakan sehingga seakan-akan santri dan alumni wajib mengikuti sikap politik mereka. Soal pilihan agama saja, Rasulullan¬† tidak pernah memaksa, masak mereka yang tidak sependapat dengan kiainya dicap melakukan tindakan “su’ul adab”.

Sayangnya, pendapat mengenai perbedaan sikap yang berbuah rahmat itu belum pernah saya dengar dari kalangan mereka yang setiap ajang perhelatan politik berbeda sikap itu.

Saya mendengar mengenai indahnya perbedaan justru dari seorang anak muda yang berkhutbah Jumat di dekat pura dan di tengah-tengah tempat orang-orang meluapkan hedonisme dan berahinya.

Di salah satu bagian bangunan masjid Istiqomah tempat saya mendengarkan khutbah itu terdapat pura. Pura Pesimpangan Ida Betara Gede Cakti itu memisahkan dua tempat wudhu pria dan wanita di bangunan masjid itu.

Meskipun lokasinya hanya beberapa meter dari tempat dugem terkenal di Bali dan tersohor hingga mancanegara, masjid itu telah menyuarakan pesan indahnya perdamaian dan perbedaan sehingga sebenar-benarnya pendapat sekaliber ulama dan kiai pun, belum tentu menjadi kebenaran mutlak.

Sampai sekarang saya masih ingat, pendapat kiai saya bahwa surga itu hanya disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. “Al jannatu u’iddat littaqwa. Jadi, hanya untuk orang takwa,” kata kiai itu mengutip ayat Alquran dalam sebuah pengajian rutin ba’dal ashar di masjid sebuah pesantren di tepi barat Sungai Brantas.

Wallahu a’lam bis showaab…

*) mantan santri yang tidak layak ditiru karena “kehaqierannya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s