Terorisme Dan Ogoh-Ogoh

Oleh M Irfan Ilmie
Dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934 yang bertepatan dengan hari Jumat (23/3) terkesan berbeda. Bali yang masyarakatnya cinta damai, sempat terhenyak oleh penyergapan teroris di Bungalow 99, Jalan Danau Toba Nomor 58 Denpasar. Lokasi penyergapan itu tepatnya berada di perbatasan Banjar Blanjong dan Banjar Semawang, Desa Adat Intaran Sanur.

Menurut catatan sejarah pariwisata, Pantai Sanur merupakan salah satu objek wisata pertama sekaligus yang utama di Pulau Dewata. Presiden I RI Soekarno yang memperkenalkan Sanur ke mancanegara. Sebagian pengamat berpendapat bahwa dari Sanur jualah, Bali dikenal dunia internasional.

Meskipun kini kalah pamor dengan Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Sanur tetaplah memesona. Wisatawan masih suka berjemur dan berendam di Pantai Sanur, utamanya pada saat matahari terbit. Wisatawan asing berusia senja memilih menghabiskan waktunya di Sanur karena kebersihan pantai dan akses jalannya lebih terjaga. Situasi lalu lintas di Sanur tidak semacet di Kuta.

Namun, penyergapan oleh anggota Detasemen Khusus 88 Anti-Teror di Bungalow 99 itu sempat mengusik warga Desa Adat Intaran Sanur. Meskipun pada akhirnya pejabat teras di kepolisian meralat bahwa lima orang yang tewas dalam baku tembak di Bungalow 99 itu bukanlah teroris. “Dia murni tersangka perampokan sejumlah bank yang hendak melakukan aksinya di Bali,” kata Kepala Bidang Humas Polda Bali Kombes Polisi Hariadi di Denpasar dua hari setelah penyergapan di Bungalow 99.

Diralat atau tidak pernyataan itu, masyarakat Bali, khususnya umat Hindu merasa was-was, saat hendak melaksanakan Tapa Catur Berata Hari Raya Nyepi. Apalagi dua hari menjelang Nyepi, masyarakat Bali kembali dikejutkan oleh isu adanya teroris yang tertembak di Jalan Raya Kapal, Kabupaten Badung.

Kekhidmatan Nyepi juga terusik oleh orang tak bertanggung jawab yang menghembuskan isu adanya bom saat Pawai Ogoh-Ogoh di Kedonganan, Jimbaran, Kabupaten Badung, Kamis (17/3) sore. Tak lama kemudian I Wayan Suarda (45), warga Banjar Menega, Desa Adat Jimbaran, yang dianggap penyebar isu ditangkap petugas.

Kepada petugas, Suarda mengaku bahwa pernyataan ada bom diucapkannya dalam keadaan mabuk berat akibat minuman keras. “Saya sangat menyayangkan, sekarang ini orang mudah sekali menyampaikan isu bom,” kata Camat Kuta Selatan, Made Puja.

Disadari atau tidak, isu itu meresahkan. Apalagi jika isu itu sengaja digulirkan sebagai upaya pengalihan konsentrasi masyarakat terkait kenaikan harga BBM, tentu sangat mencederai masyarakat Bali yang telah bersusah payah membangun kepercayaan internasional pascatragedi Bom Bali pada 2001.

Isu terorisme mengakibatkan pelaksanaan Nyepi di Bali terkesan berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Apalagi Nyepi tahun ini bertepatan dengan hari Jumat sebagai hari suci bagi umat Islam. Petugas keamanan desa adat atau dikenal dengan istilah “pecalang” makin garang. Semua itu dilakukan demi terciptanya suasana hening dan khidmat bagi umat Hindu yang melaksanakan ajaran agama untuk tidak bekerja (amati karya), tidak menyalakan api dan lampu (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak mencari kesenangan (amati lelanguan) mulai Jumat pagi pukul 06.00 hingga Sabtu (24/3) pukul 06.00 Wita.

Tak seorang pun diperbolehkan keluar rumah dalam tempo 24 jam itu, kecuali keperluan mendadak, seperti orang sakit keras dan perempuan hendak melahirkan yang harus segera dibawa ke rumah sakit. Bahkan, umat Islam pun diminta untuk melaksanakan shalat Jumat di masjid terdekat sehingga tidak perlu menggunakan kendaraan bermotor. Pengurus masjid pun diimbau tidak memukul beduk dan pengeras suara diatur sedemikian rupa agar tidak terdengar sampai ke luar masjid.

“Bagi yang rumahnya jauh dari masjid, laksanakan shalat Jumat di mushalla terdekat atau tempat lain, termasuk rumah salah satu warga, asalkan sudah diizinkan oleh pihak ‘kelian’ (kepala banjar adat),” kata Kelian Semawang, Gusti Gede Suparta.

Festival Ogoh-Ogoh Pun Batal

Bukan hanya umat Islam yang terkena imbasnya. Masyarakat Desa Adat Intaran Sanur dan wisatawan mancanegara merasakan dampak negatif isu terorisme itu. Festival Ogoh-Ogoh di Banjar Semawang batal digelar. “Seharusnya malam ini. Akan tetapi karena tidak ada jaminan keamanan dari aparat kepolisian, maka Festival Ogoh-Ogoh batal kami gelar,” kata Gusti Gede Suparta selaku Ketua Panitia Festival Ogoh-Ogoh, Kamis (23/3) malam.
Pihaknya sudah telanjur mengeluarkan biaya persiapan penyelanggaraan festival itu, termasuk mencetak seribu lembar tiket. Bahkan, ratusan wisatawan mancanegara yang menginap di hotel berbintang di kawasan Sanur sudah memesan tiket yang dijual panitia dengan harga Rp90.000 – Rp125.000 per lembar.

“Hotel Sanur Bali Beach dan Hyatt, masing-masing sudah memesan 200 lembar tiket. Namun karena batal digelar, uang pembelian tiket kami kembalikan melalui pihak hotel,” kata Suparta yang juga Kepala Banjar Semawang, Desa Adat Intaran Sanur.

Festival tersebut rencananya digelar di Perempatan Ganesha atau di depan Balai Banjar Semawang. Pihak panitia sudah menyiapkan tribun untuk penonton di salah satu sudut perempatan tersebut. Pihak Banjar Semawang medapatkan informasi dari kepolisian mengenai tidak adanya jaminan keamanan pada Senin (19/3) atau sehari setelah penyergapan Densus 88 Anti-Teror. Panggung festival itu hanya berjarak sekitar 800 meter dari Bungalow 99 yang berlokasi di Jalan Danau Poso 58 sebagai tempat penyergapan perampok yang diduga memiliki jaringan dengan teroris internasional itu.

Meskipun demikian, para wisatawan mancanegara yang menginap di sejumlah hotel berbintang di Sanur tetap mendapatkan hiburan karena pihak Desa Adat Intaran Sanur menggelar pawai dengan menampilkan 33 ogoh-ogoh. Bahkan, beberapa peserta pawai turut mengusung ogoh-ogoh masuk ke areal hotel berbintang di kawasan Pantai Sanur. “Kami sangat terhibur dengan atraksi ini,” kata Eva, wisatawan asal Jerman, saat menyaksikan pawai ogoh-ogoh di depan lobi Hotel Aerowisata Sanur Beach.

Dengan ditemani ibunya, Virginia, mahasiswi fakultas kedokteran hewan perguruan tinggi di Jerman itu antusias mengabadikan empat ogoh-ogoh yang diusung bocah-bocah Desa Adat Intaran Sanur melalui kamera digital. “Kami baru pertama kali berlibur ke Bali. Pawai ogoh-ogoh ini menjadi hiburan tersendiri bagi kami,” tutur Eva.

Sementara itu, Manager SDM Hotel Aerowisata Sanur Beach, Anak Agung Arinata Putra, mengatakan bahwa hampir setiap tahun peserta pawai ogoh-ogoh selalu singgah ke hotelnya untuk memberikan hiburan tersendiri bagi tamunya. “Kebetulan sebagian dana CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) memang kami salurkan untuk kegiatan masyarakat, termasuk membuat ogoh-ogoh sehingga mereka pasti mampir ke sini,” kata Arinata yang juga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Sanur Kauh itu.

Para wisatawan mancanegara yang menginap di hotel itu sejak pukul 18.30 Wita atau satu jam sebelum pawai dimulai sudah menunggu kedatangan ogoh-ogoh di depan lobi hotel. Pawai ogoh-ogoh digelar sehari menjelang perayaan Nyepi sebagai perlambang memerangi roh jahat. Oleh sebab itu, ogoh-ogoh yang terbuat dari serat plastik dan karton itu dipersonifikasikan sebagai makhluk jahat dengan bentuk fisik yang menyeramkan, seseram perilaku teroris dan penyebar isu terorisme.

Utamakan Toleransi

Sementara itu, pengamanan oleh pecalang yang ekstra-ketat itu tidak menyurutkan umat Islam yang hendak melaksanakan shalat Jumat. Selama ada niat yang baik, apa pun halangan menunaikan ibadah pasti bisa disingkirkan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali pun memberikan solusi bagi umat Islam yang tempat tinggalnya jauh dari masjid dengan landasan hukum agama yang bisa dipertanggungjawabkan. “Kalau memang tidak ada mushalla di kampung itu, silakan menggelar Jumatan di rumah warga,” kata Ketua MUI Bali KHM Taufik As’adi.

Ia mengakui bahwa fikih mempersyaratkan Jumatan harus diselenggarakan oleh 40 orang laki-laki. Namun, dalam keadaan darurat, hukum itu bisa dijalankan secara fleksibel. “Selama ini umat Islam di Indonesia banyak yang menganut mazhab Syafi’i. Dan, syarat wajib mendirikan shalat Jumat harus ada 40 orang laki-laki itu berdasarkan mazhab Syafi’i yang kita anut. Akan tetapi, bagaimana kalau situasi tidak memungkinkan memenuhi syarat itu?” katanya balik bertanya.
Oleh sebab itu, dia tetap menyarankan Jumatan digelar oleh 40 orang laki-laki dalam satu kampung. “Upayakan dulu syarat itu dipenuhi. Kalau tidak memungkinkan, baru bisa diterapkan hukum dalam kondisi darurat,” kata pria yang sudah tiga kali menjalankan shalat Jumat di Bali bertepatan dengan Hari Raya Nyepi itu.

Taufik menekankan pula pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama demi terjaminannya kekhidmatan dan kelancaran dalam menjalankan perintah agama masing-masing. “Menjaga kekhusyukan dan ketenangan hati dalam menjalankan ibadah jauh lebih ketimbang menerapkan hukum yang kaku. Semangat kami, terjaminnya kekhusyukan itu, baik bagi umat Islam maupun umat Hindu,” ucapnya.

“Kalau ada rumah atau tempat lain yang akan dipakai untuk shalat Jumat, kami minta pengurusnya melapor terlebih dulu kepada banjar adat atau desa ‘pakraman’ sehingga bisa dikoordinasikan pengamanannya,” kata Taufik menambahkan.
Jumlah umat Islam di Bali diperkirakan mencapai 500 ribu jiwa yang tersebar di satu kota dan delapan kabupaten. Hanya sebagian kecil yang menetap dalam satu permukiman komunitas Muslim. Bahkan ada empat permukiman Muslim di empat kecamatan di Kabupaten Karangasem, yakni Manggis, Rendang, Sidemen, dan Kubu, jauh dari masjid. Umat Islam yang tinggal di tempat seperti itulah yang disarankan menggelar Jumatan di rumah atau mushalla.

Ketua Persaudaraan Hindu-Muslim Bali (PHMB) Anak Agung Ngurah Agung malah berpendapat bahwa Nyepi bertepatan dengan hari Jumat sebagai bukti terciptanya toleransi antarumat beragama di “Pulau Surga” itu.”Kalau bisa pecalang membantu pengamanan shalat Jumat. Demikian pula sebaliknya, umat Islam membantu memberikan jaminan kekhusyukan bagi umat Hindu di Bali,” kata tokoh Puri Gerenceng, Denpasar, yang dikenal dekat dengan mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur selama hidupnya itu.
Pada akhirnya, Nyepi di Bali benar-benar hening dan tercipta kekhidmatan bagi umat yang menjalankan ritual. Pelaksanaan shalat Jumat pun berjalan lancar, baik di masjid, mushalla, rumah warga, maupun hotel yang memang memberikan fasilitas kepada tamu dan wisatawan Muslim, meskipun dalam suasana yang berbeda demi terciptanya Bali yang “santhi”.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s