Skandal Asmara di Pulau Cinta

Oleh M. Irfan Ilmie

Bali punya julukan baru selain Pulau Surga, Pulau Dewata, dan Pulau Seribu Pura setelah bintang fim Hollywood Julia Roberts menjalani proses pengambilan gambar film berjudul “Eat, Pray, and Love” karya Elizabeth Gilbert. Roberts yang berperan sebagai Elizabeth Gilbert, sang penulis novel sesuai judul film itu, menemukan cintanya kembali di Bali, setelah melanglang buana ke Italia dan India untuk menghapus jejak asmara masa lalunya.

Film yang pengambilan gambarnya dilakukan di Ubud, Kabupaten Gianyar, dan Pantai Padang-Padang, Kabupaten Badung, pada 2010 itu sukses menjadikan Bali sebagai ikon Pulau Cinta. Begitu dahsyatnya julukan itu sampai-sampai selebriti dan kaum sosialita lainnya ramai-ramai merayakan pernikahannya di Bali. Bahkan pasangan artis Tiongkok Yang Mi dan Hawick Lau mengakhiri masa lajangnya di pulau yang banyak memiliki keindahan panorama alamnya itu.

“Betapa melalui film itu memang daerah kita menjadi tempat untuk menemukan cinta sejati. Bali itu pulau penuh cinta,” demikian Gubernur Bali Made Mangku Pastika setiap kali memperkenalkan julukan baru untuk daerahnya. Ikon Pulau Cinta itu selaras dengan konsep Tri Hita Karana sebagai falsafah hidup orang Bali mengenai trilogi hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Namun masyarakat Pulau Bali terhenyak mana kala mendengar kabar bahwa kasus mutilasi di Kabupaten Klungkung dilandasi oleh jalinan asmara.  Sejak pertama kali ditemukan bungkusan plastik warna hitam berisi kepala manusia dalam kondisi tidak utuh di pinggir Jalan Bukit Jambul, Kabupaten Klungkung, Selasa (17/6), masyarakat heboh.

Keresahan makin terasa ketika ditemukan lagi bungkusan berisi beberapa potongan kaki dan lengan manusia yang berjarak sekitar 400 meter dari lokasi penemuan kepala. Tidak saja lokasi penemuan potongan tubuh manusia di wilayah perbatasan Kabupaten Klungkung-Kabupaten Karangasem, RSUP Sanglah, Denpasar, pun didatangi masyarakat yang ingin mengetahui identitas korban.

Tercatat tiga orang asal Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Karangasem yang merasa kehilangan keluarga menyediakan diri untuk diperiksa DNA-nya guna dicocokkan dengan DNA mayat yang sampai Rabu (18/6) pagi belum diketahui identitas dan jenis kelaminnya itu.

Beberapa jam kemudian rumah sakit rujukan terbesar di Bali itu memastikan korban mutilasi berjenis kelamin perempuan berusia 20-40 tahun dengan tinggi badan 120-150 centimeter. “Jika dilihat dari kulit dan gigi yang terawat, besar kemungkinan korban dari kelas menengah,” kata Kepala Laboratorium Forensik RSUP Sanglah, dr Dudut Rustyadi, untuk menepis anggapan bahwa korban seorang gelandangan.

Walau begitu, misteri tersebut belum tersingkap. Wakil Kepala Kepolisian Daerah Bali Brigadir Jenderal I Gusti Ngurah Raharja Subyaktha harus turun langsung ke lapangan memimpin operasi penyelidikan kasus itu. Operasi itu terkesan sangat istimewa karena melibatkan ratusan personel dari Polres Klungkung, Polres Karangasem, dan Polres Bangli. “Ini termasuk kejahatan luar biasa sehingga perlu perhatian khusus. Pelaku berbuat kejahatan dengan tingkat kesadisan tinggi,” ujarnya saat memimpin penelusuran jejak mutilasi di Mapolres Klungkung di Semarapura, Rabu (18/6).

Asmara Berujung Tragis

Kerja keras polisi yang tak kenal kata menyerah selama sepekan akhirnya membuahkan hasil setelah pelaku bernama Fikri (26) tertangkap selepas makan malam di Jalan Dharmawangsa, Semarapura, Minggu (22/6) pukul 19.30 Wita. Sampai saat ini pelaku masih menjalani perawatan secara intensif di Mapolres Klungkung. Namun dari hasil pemeriksaan sementara menyebutkan bahwa pelaku yang sehari-hari bekerja sebagai sopir di Pengadilan Agama Kabupaten Klungkung itu terbakar api asmara yang mendorongnya berbuat sadis terhadap orang yang pernah dicintainya itu. “Antara korban dan pelaku memang punya hubungan asmara,” kata Kepala Polda Bali Inspektur Jenderal Benny Mokalu saat memberikan keterangan pers di Mapolres Klungkung, Senin (23/6).

Sejauh mana hubungan asmara yang melatarbelakangi tragedi itu, sampai sekarang polisi masih melakukan penyelidikan dan penyidikan secara intensif dengan meminta keterangan pelaku dan saksi-saksi serta mengumpulkan barang bukti. “Pengakuan pelaku berubah-ubah. Masih kami dalami terus,” kata Kepala Polres Klungkung Ajun Komisaris Besar Ni Wayan Sri Yudatni Wirawati menanggapi pertanyaan wartawan mengenai intensitas hubungan pelaku dan korban.

Saat melakukan perbuatan sadis, pelaku masih berstatus suami sah dari seorang perempuan asal Klungkung yang memberinya seorang anak berusia tiga tahun. Sementara korban, Diana Sari, berstatus janda beranak satu. Keduanya sama-sama berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pelaku baru 1,5 bulan tinggal di Bali karena memang istrinya berasal dari Klungkung.

Sebelum bekerja sebagai tenaga honorer di PA Kabupaten Klungkung, Fikri yang akrab disapa Eki itu mengabdi di kantor Muhammadiyah di Sumbawa selama empat tahun. Diana yang akrab disapa Nana baru sebulan menempati rumah kos di Jalan Kenyeri IX, Semarapura, atas bantuan Eki sebagai kekasih gelapnya. “Yang menyewa kos memang Fikri,” kata Wayan Netra pemilik rumah kos yang dijadikan tempat oleh pelaku untuk memotong anggota tubuh pacar gelapnya itu.

Pada saat mutilasi itu terjadi Senin (16/6), Wayan Netra sempat menelepon Eki untuk menanyakan kepastian perpanjangan sewa rumah kos bertarif Rp425 ribu per bulan itu. “Saat itu dia menjawab, akan memberikan kepastian keesokan harinya,” ujarnya.

Korban sendiri dikenal ramah dan pandai bergaul. “Banyak tamu pria datang ke kosnya Nana. Mereka ganteng-ganteng. Maklum Nana memang cantik,” tutut Wayan Murka (60) yang tinggal berhadapan dengan rumah kos yang ditempati korban. Namun Wayan Netra dan Wayan Murka tidak tahu persis mengenai kemungkinan korban dalam kondisi hamil, mengingat beredar informasi bahwa di antara potongan tubuh yang ditemukan terdapat janin. “Tahunya dia janda asal Sumbawa beranak satu,” kata Wayan Murka.

Jalinan asmara berujung maut bukan kali ini saja terjadi. Pada bulan yang sama, pasangan selingkuh juga berniat mengakhiri hidup dengan cara menceburkan diri ke sungai di Jalan Gatot Subroto Timur, Denpasar, berboncengan menggunakan sepeda motor Yamaha Mio nomor polisi AE-5795-VH.

Niat bunuh diri yang terjadi, Selasa (3/6), itu berasal dari Jaelani (31), warga Madiun, Jawa Timur, setelah hubungan gelapnya dengan Nur Imamah (29) asal Jember, Jatim, terbongkar oleh pasangan sahnya masing-masing. Motor yang dikendarainya secara tiba-tiba dibelokkan ke tebing sungai sebelum melintasi jembatan Trenggana di Jalan Gatot Subroto Barat. Jaelani tewas setelah satu jam menjalani perawatan di RSUP Sanglah akibat luka parah dan tubuhnya kemasukan air sungai, sedangkan Nur Imamah hanya mengalami luka lecet. Keduanya sama-sama memiliki pendamping hidup dan tinggal berdekatan di bilangan Jalan Teuku Umar, Denpasar. *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s