Peringatan Dini dari Nusa Penida

M. Irfan Ilmie

Hasil Pemilihan Presiden 2014 berdasarkan rekapitulasi suara oleh setiap panitia pemungutan suara (PPS) di Nusa Penida, Bali, Kamis (10/7), di luar dugaan. Perolehan suara Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, justru jeblok di pulau yang menjadi penyumbang suara terbanyak untuk Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada Pemilu Legislatif 9 April 2014 itu,

Prabowo selaku pendiri Gerindra yang menggandeng Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa hanya meraih 12.085 suara. Sementara rivalnya, Joko Widodo-Jusuf Kalla, mampu meraih simpati masyarakat Nusa Penida dengan mendapatkan 15.579 suara. Dalam pileg 9 April, Gerindra menjadi pemenang di gugusan pulau di sebelah tenggara daratan Bali itu dengan meraih 11.531 suara.

Perolehan suara Gerindra itu sekaligus menyingkirkan perolehan suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (8.944) dan Partai Hati Nurani Rakyat (4.261). Baru pada Pemilu 2014, PDIP yang selalu menjadi pemenang sejak 1999, harus mengakui keunggulan Gerindra. Gerindra juga menyumbang kursi terbanyak di DPRD Kabupaten Klungkung periode 2014-2019.

Keunggulan Gerindra dan keruntuhan PDIP itu sudah terbaca sebelum Pemilu 2014 digelar. Dua kader Gerindra asal Nusa Penida, Nyoman Suwirta dan Made Kasta, sukses menduduki kursi Bupati dan Wakil Bupati Klungkung periode 2013-2018 setelah mengalahkan kader PDIP, Partai Demokrat, dan Partai Golkar yang lebih dulu berkuasa.

Atas catatan kegemilangan itu pula Prabowo-Hatta menunjuk Suwirta-Kasta sebagai ketua dan sekretaris tim pemenangan untuk melanjutkan dua kesuksesan sebelumnya. Sayangnya, kegemilangan Gerindra dan keberhasilan Suwirta-Kasta tidak terulang pada pilpres. Prabowo-Hatta hanya menang di enam desa, yakni Tanglad, Sekartaji, Toyapakeh, Pejukutan, Bunga Mekar, dan Batukandik.

Sementara Jokowi-JK unggul di 10 desa di kepulauan itu, yakni Kutampi Kaler, Kutampi, Batununggul, Klumpu, Ped, Lembongan, Batumadeg, Jungut Batu, Sakti, dan Suana. “Meskipun daerah kepulauan, masyarakat kami sudah sangat cerdas dalam menentukan pilihan politik,” kata Gede Wicaksana, tokoh masyarakat Nusa Penida, Kamis. Masyarakat Nusa Penida yang jauh dari sentuhan kemajuan pembangunan lebih mengutamakan faktor realitas dibandingkan fanatisme sesaat.

Peringatan Dini
Boleh jadi, ucapan Gede Wicaksana itu peringatan diri bagi Suwirta-Kasta yang sudah hampir setahun duduk di kursi tampuk kepemimpinan Kabupaten Klungkung yang beribu kota Semarapura di daratan Bali itu. Posisinya yang terpisahkan oleh Selat Badung, menjadikan masyarakat yang mendiami gugusan pulau di Nusa Penida tidak seperti masyarakat di daratan Pulau Bali pada umumnya.

Kemiskinan dan pengangguran tidak pernah lepas dari deraan masyarakat di pulau yang berjarak sekitar 11 kilometer arah tenggara Pulau Bali itu. Kebutuhan pangan, utamanya beras, dan ketersediaan energi masih menjadi persoalan tersendiri karena sangat bergantung pada kondusivitas cuaca di perairan. Hanya perikanan, rumput laut, dan pariwisata yang menjadi penopang hidup mereka selama ini. Namun dalam beberapa bulan terakhir, nelayan ogah melaut karena gelombang dan angin yang mulai mengganas.

Begitu juga rumput laut sudah bukan menjadi komoditas andalan akibat serangan hama yang bertub-tubi. “Sudah hampir setahun hasil panennya buruk karena hama,” kata Nyoman Risna (41), warga Desa Jungut Batu.

Sektor pariwisata yang lebih banyak dikembangkan oleh investor asing tidak didukung oleh ketersediaan energi yang mencukupi. Sejumlah akomodasi pariwisata bertaraf internasional di Nusa Lembongan harus bersusah-payah untuk menciptakan suasana gemerlap di kepulauan itu karena beberapa kali terkena pemadaman bergilir.

Pemadaman bergilir itu tak bisa dielakkan karena salah satu mesin pembangkit milik PT Perusahaan Listrik Negara rusak, sedangkan dua mesin penggantinya berkapasitas 4,8 megawatt mengalami kendala pengiriman dari Pelabuhan Benoa, Denpasar.

Demikian pula dengan ketersediaan air bersih yang sedari dulu masyarakat Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan mengonsumsi air payau. “Kalau kawasan Pecatu (Kabupaten Badung) yang berbukit dan tandus saja bisa tersedia air dan listrik yang melimpah, kenapa di sini tidak? Di sini kontribusi sektor pariwisata juga sangat besar,” kata Gede Suryawan selaku Kepala Desa Jungut Batu, Kecamatan Nusa Penida.

Masyarakat Nusa Penida masih menyimpan harapan dan optimisme atas kepemimpinan duet Suwirta-Kasta di Kabupaten Klungkung hingga empat tahun ke depan. Namun bukan berarti sikap politik masyarakat Nusa Penida harus sama dengan dua pemimpin daerahnya yang berasal dari kepulauan itu. “Figur sangat menentukan. Masyarakat Nusa Penida punya satu keinginan untuk berubah tanpa bisa dipengaruhi siapa pun,” kata Gede Wicaksana, tokoh masyarakat Nusa Penida, menambahkan. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s