Sampingan

Taipei Main Station Bukan Sembarang Stasiun

M. Irfan Ilmie

Terminal atau stasiun di Indonesia lazimnya berfungsi sebagai tempat pemberangkatan dan pemberhentian bus atau kereta api. Orang-orang yang lalu-lalang di tempat itu kebanyakan juga hendak bepergian ke berbagai tempat tujuan.

Tidak jauh berbeda dengan di Taiwan. Terminal dan stasiun juga sama fungsinya dengan di Indonesia. Taiwan memiliki “Taipei Main Station” (TMS) sebagai tempat perpaduan sistem transportasi publik, mulai dari taksi, bus kota, bus antarkota, MRT jalur bawah tanah, kereta api konvensional, hingga kereta api super cepat yang dikenal dengan “Taiwan High Speed Railway” (THSR).
Di tempat itu pula masyarakat Taiwan dapat menggunakan beragam jenis transportasi publik ke berbagai tujuan di penjuru negara berpenduduk sekitar 23,5 juta jiwa tersebut.

TMS yang pada saat pertama kali dioperasikan oleh pemerintah pendudukan Jepang pada 1901 dengan menggunakan nama “Taipei Railway Station” itu terus berbenah seiring dengan beberapa kali perluasan.
Sesuai perkembangannya, terminal dan stasiun yang berlokasi di Distrik Zhongzhen dan Distrik Datong itu makin banyak berdiri mal.

Bahkan di bawah permukaan tanah bangunan utama stasiun terdapat pusat perbelanjaan tiga lantai “Taipei City Mall” yang menyediakan berbagai keperluan sehari-hari, termasuk perangkat elektronik dan teknologi informasi.
Oleh sebab itu, TMS menjadi pusat keramaian terbesar di Ibu Kota Taiwan.

Apalagi barang-barang yang dijual di “Taipei City Mall” sangat murah dibandingkan dengan di tempat lain di Taiwan.
Namun bagi masyarakat Taiwan yang menginginkan produk bermerek juga bisa datang ke TMS karena ada beberapa tempat perbelanjaan lain, seperti Shin Kong Mitsukoshi Departement Store dan Muji Mall.

Warga negara Indonesia yang tinggal di Taiwan, baik sebagai tenaga kerja Indonesia maupun mahasiswa, lebih senang mendatangi “Taipei City Mall” yang kalau di Jakarta hampir mirip dengan Pasar Senen atau di Surabaya dengan PGS-nya.

Sehingga tidak mengherankan pula jika di TMS banyak toko yang pemilik dan pelayannya WNI. Bahkan tidak sedikit pula toko yang mencantumkan tulisan berbahasa Indonesia dan memasang bendera Merah-Putih.
Pada hari Sabtu dan Minggu, bahasa Indonesia bukan hal yang aneh untuk didengar di “Taipei City Mall” itu. Karena pada hari Sabtu dan Minggu, para TKI mengisi waktu liburnya di tempat tersebut.

Tidak hanya dari Tapei, TKI yang bekerja di Taichung, Tainan, Keelung, dan Kaohsiung juga “tumplek-blek” di TMS pada hari Sabtu dan Minggu.
Lebih dari separuh lantai utama stasiun kereta api TMS yang luasnya hampir sama dengan lapangan sepak bola dipenuhi para TKI. Hanya sebagian saja yang disisakan untuk antrean pembelian tiket THSR.

Ajang Silaturahmi
Oleh karena lokasinya yang bisa diakses dari berbagai penjuru di Taiwan, TMS sering kali dijadikan tempat para TKI untuk berkumpul, baik sekadar untuk melepas kerinduan antar-TKI yang sama-sama berasal dari satu kampung halaman di Tanah Air maupun untuk memanjakan lidah akan masakan khas Nusantara.

Di TMS dijual beraneka jenis penganan khas Nusantara. Apalagi kalau ada acara atau kegiatan keagamaan, seperti “Istighatsah dan Sholawat Akbar” yang digelar di pelataran stasiun kereta api TMS, Minggu (7/9).

“Selain doa bersama, acara ini sekaligus sebagai ajang silaturahmi bagi para TKI,” ujar Agus Susanto selaku panitia penyelenggara “Istighatsah dan Sholawat Akbar” yang dipimpin Habib Muhammad Firdaus Almunawwar dari Pondok Pesantren Daarul Muqorobin, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, itu.

Bahkan menurut Chen Jun Hei (58), warga negara Taiwan, TMS penuh sesak oleh WNI pada saat hari libur keagamaan. Meskipun di Taiwan tidak ada hari libur keagamaan, para TKI mendapatkan kesempatan libur dari majikannya. “Kalau Tahun Baru Hijriah, TMS ini ramai oleh TKI. Apalagi kalau lebaran,” kata pria yang beristrikan WNI itu.

Menurut dia, warga negara Taiwan yang berjualan di kawasan TMS, apalagi di “Taipei City Mall” seakan mendapatkan berkah dari para TKI, terutama pada hari Sabtu dan Minggu serta hari-hari besar umat Islam.

“Makanya, tidak heran jika pelayan toko di sini bisa berbahasa Indonesia,” tutur Chen yang mengaku belum bisa berbahasa Indonesia itu meskipun sudah beberapa kali mengunjungi keluarga istrinya di Karawang, Jawa Barat.

Nahdlatul Ulama sebagai salah satu ormas keagamaan di Indonesia juga tak ingin menyia-nyiakan momentum tersebut. NU mendirikan kantor sekretariat Pengurus Cabang Istimewa di kawasan TMS. “Setiap hari Sabtu dan Minggu, kami biasanya kumpul bareng di sekretariat,” ujar Agus Susanto selaku Wakil Ketua Pengurus NU Cabang Istimewa Taiwan.

Pria asal Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, yang bekerja di pabrik aksesoris telepon seluler di Taiwan itu mengemukakan bahwa NU bukan hanya mewadahi para TKI dalam kegiatan keagamaan, seperti istigasah, tahlilan, atau yasinan.

“Kami biasanya memberikan pelatihan memasak dan menjahit,” kata Ketua Fatayat NU Cabang Istimewa Taiwan, Tarnia Tari, menambahkan.
Agus dan Tari sepakat bahwa alasannya mendirikan sekretariat PCI NU di kawasan TMS itu karena lokasinya yang strategis.

“Dari mana arah pun TMS ini bisa dituju dengan mudah. Kami pun juga dengan mudah bisa mengumpulkan teman-teman,” kata Tari yang bekerja sebagai perawat orang tua di Taipei itu.  (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s