Imlek ala Nelayan Indonesia

M. Irfan Ilmie

Bagi sebagian besar masyarakat Taiwan, Imlek bukan sekadar tahun baru menurut penanggalan mereka, melainkan juga penanda pergantian musim, dari musim dingin ke musim semi.

Namun, sepertinya tahun ini agak berbeda. Orang-orang yang lalu-lalang di Magong masih pantas mengenakan jaket tebal karena teriknya sinar matahari belum sepenuhnya mampu mengusir hawa dingin.

Bedanya, untuk kaum perempuan sudah tidak lagi memakai bot seperti beberapa hari sebelumnya saat suhu udara di sebagian besar wilayah negara kepulauan itu yang rata-rata berkisar pada angka 10–15 derajat Celsius.

Akses jalan menuju luar Kota Magong siang itu terbilang lengang. Berbeda dengan situasi jalan raya di dalam kota yang dijejali pejalan kaki karena telah beralih fungsi menjadi pasar kaget yang menjual berbagai macam kebutuhan Imlek, buah-buahan, makanan khas Penghu, dan arena adu ketangkasan berhadiah langsung.

Demikian pula dengan warga negara Indonesia di Ibu Kota Pulau Penghu itu, juga tidak mau ketinggalan dengan momentum tahunan tersebut.

Mereka yang kebanyakan menggantungkan hidupnya di perairan Selat Taiwan hingga Samudra Pasifik itu turut meramaikan suasana Imlek 2015, Kamis (19/2).

Ada yang berkumpul di warung Johny yang khusus menjual penganan khas Nusantara. Ada juga yang duduk-duduk di halte atau tempat keramaian lainnya untuk mengisi jeda melaut.

Sebagian lain berkerumun di tempat pelelengan ikan yang pada siang itu berbeda dari hari-hari biasa. Mereka tertawa lepas bukan karena hasil tangkapan melimpah dan dihargai tinggi oleh pengepul.

Mereka menertawai diri-sendiri atau bahkan temannya yang terjerembap di arena tarik tambang. Terlebih lagi, orang yang terjerembap itu secara fisik lebih besar sehingga sorakan pun makin riuh.

Tidak hanya tarik tambang, para pekerja yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Penghu Indonesia-Taiwan (Forspita) dan “The Big Family of Magong” itu juga semarak oleh lomba balap karung, sepeda lambat, pukul kendil, joget dangdut, ambil koin dalam tepung, dan makan kerupuk.

Bagi penduduk asli Pulau Penghu, kegiatan para nelayan itu menjadi hiburan tersendiri. Tidak jarang para majikan mereka sekaligus pemilik kapal menyempatkan diri mendatangi tempat pelelangan ikan itu. Bahkan, di antara mereka terpingkal-pingkal menyaksikan kelucuan para anak buah kapal yang sedang “beraksi” di darat itu.

Para majikan itu takpernah merasa rugi karena dana yang disumbangkan untuk kegiatan tersebut membuatnya terhibur. Polisi setempat yang berpatroli pun takkuat menahan tawa di sela-sela merekam aktivitas nelayan di arena perlombaan makan kerupuk.

Pada malam harinya di tempat yang sama diisi dengan acara pengajian dan doa bersama. “Kegiatan ini rutin kami gelar setiap Tahun Baru Imlek karena saat seperti inilah para nelayan dan pekerja lainnya libur panjang,” kata Najib Ibrahim selaku penasihat Forspita.

Ajang silaturahmi
Sudah puluhan tahun nelayan asal wilayah Pantura Pulau Jawa, Lampung, dan pesisir Sulawesi itu mengadu nasib di Pulau Penghu yang berbatasan dengan perairan wilayah Tiongkok.

Sampai saat ini nelayan asal Indonesia yang bekerja di pulau itu diperkirakan mencapai angka 1.700 jiwa. Mereka bekerja sesuai dengan perjanjian kontrak yang bisa diperpanjang setiap tiga tahun sekali.

Mereka mendiami beberapa pelabuhan pendaratan ikan yang tersebar di gugusan pulau seluas 141 kilometer persegi yang secara administratif menyatu ke dalam wilayah Penghu County.

Di masing-masing dermaga pendaratan ikan itu mereka membentuk kelompok. Setiap kelompok diketuai seorang “lurah”.

Di Kota Magong sendiri sedikitnya terdapat empat kelompok nelayan. Selebihnya tersebar di Lamkang, Waian, dan Xiaomen.

“Lurah” mereka diangkat berdasarkan senioritas atau yang paling lama bekerja di satu wilayah. Namun, tidak jarang di antara kelompok-kelompok tersebut terlibat perkelahian yang dipicu oleh persoalan sepele.

“Kalau sudah kayak gitu, kami harus turun tangan,” kata Ikhsan, nelayan asal Lampung yang sudah belasan tahun bekerja di sebagai pelaut di Lamkang.

Hampir setiap hari pria berusia 42 tahun itu terlibat langsung menyelesaikan konflik antarnelayan berkebangsaan Indonesia. “Tadi malam ada yang mau berkelahi,” tuturnya saat ditemui di sela-sela aktivitasnya di dalam kapal ikan di Pelabuhan Lamkang, Jumat (20/2).

Para “lurah” itu juga sering dimintai bantuan pihak kepolisian Penghu County untuk turut meredakan ketegangan antarnelayan.

Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan pula jika polisi setempat turut membantu pendanaan setiap kali ada kegiatan para nelayan, asalkan bersifat positif.

“Oleh karena itu, kegiatan lomba-lomba seperti sekarang sangat berarti untuk mempererat tali silaturahmi para pelaut,” kata Kartono selaku panitia kegiatan di Pelabuhan Magong, Kamis (19/2).

Selain di Magong, kegiatan serupa juga digelar para nelayan di Pelabuhan Waian. Sedikitnya 300 nelayan asal Indonesia berkumpul di lapangan basket dekat tempat pelelangan ikan pelabuhan tersebut, Jumat (20/2). *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s